Kita tak pernah tahu
Berapa lama kita diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu,
jangan lupakan aku.
[Monokrom, Tulus]
Ketakutan terbesar manusia adalah dilupakan. Mungkin karena itulah kita selalu merayakan hari kelahiran. menyalakan lilin, dan berdoa di setiap masa pergantian umur. Karena pada dasarnya, hidup tak hanya menguji ikhtiar, tapi juga menguji ingatan terhadap hal-hal yang kita cintai dan kita anggap berarti. Tak hanya usia, tapi tentang bagaimana kita menjalaninya seiring waktu.
Tak ada manusia yang ingin dilupakan. Itulah mungkin kenapa kita merasa perlu menulis buku sejarah dan autobiografi. Bukan saja untuk menunjukkan pengakuan, bahwa seseorang pernah ada pada suatu masa, namun juga untuk menampik upaya-upaya yang sengaja menghilangkannya dari memori masa silam.
Orang bilang, peradaban dibentuk oleh perdamaian dan peperangan. Inovasi dan penemuan. Kelahiran dan kematian. Oleh kemampuan manusia beradaptasi atau mati, ditentukan oleh keputusan-keputusan yang diambil pada masa sulit dan bagaimana manusia memilih opsi-opsi di hadapannya.
Diciptakan oleh mereka yang datang dan pergi silih berganti bersama dengan datangnya terang fajar dan temaram senja. Dituliskan oleh raja-raja, para panglima, juru tulis istana, dan nama-nama yang seringkali tak tercatat karena dianggap hanya bagian dari angka statistika atau pelengkap penderita.
Tak ada manusia yang ingin terhapus dalam sejarah, seperti para dinosaurus dan sapiens yang hanya meninggalkan tulang-belulang dan tengkorak yang menunggu untuk digali dan diteliti, tanpa bisa menentukan narasi sendiri tentang bagaimana mereka hidup dan mati.
Namun manusia menciptakan ironi dan tragedinya sendiri, dengan saling tikam dan bertarung saling mengeliminasi. Keinginan untuk tidak dilupakan pada akhirnya tidak pernah bisa mempersatukan manusia dalam sebuah ikhtiar kolektif, karena keinginan itu dikalahkan hasrat untuk menjadi otoritas tunggal dalam menafsirkan sejarah. Hasrat atas kuasa berbanding lurus dengan hasrat mendominasi Ingatan, bahkan nostalgia, dengan melenyapkan memori-memori alternatif.
Dan oleh karenanya dari masa ke masa kita menyaksikan buku-buku dihancurkan dalam setiap penaklukan. Fernando Baez dalam A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern-day Iraq meyakini, mereka dihancurkan bukan sebagai objek fisik, melainkan ‘sebagai tautan ingatan… salah satu poros identitas seorang manusia atau suatu masyarakat’.
Buku menjadi sangat menakutkan, karena sebagaimana kata sastrawan Jose Luis Borges: ‘Of all man’s instruments, the most astonishing is, without any doubt, the book.. the book is an extension of memory and imagination‘.
Buku memperpanjang usia kenangan dengan mewariskannya dari generasi ke generasi, untuk menjadi dasar kesinambungan peradaban dan pengetahuan. Fernando Baez punya penyebutan yang tepat untuk buku: wadah bagi ingatan manusia.
Buku adalah bagian dari upaya menjaga keberagaman memori kolektif, termasuk untuk hal-hal yang mikro dan dianggap tak cukup penting sebagai kanon sejarah dan dalam ingatan mayoritas yang didiktekan.
Dalam konteks ini, apa yang kemudian dilakukan seorang jurnalis New York bernama Gay Talese, seorang anak bekas tentara Belanda bernama Maarten Hidskes, dan seorang anak muda di Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember bernama RZ Hakim, menjadi sama penting dan berharganya bagi peradaban.
Talese menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk menulis Unto the Son sejak 1980. Lima tahun dihabiskannya untuk melakukan riset dan mewawancarai narasumber di Eropa dan Amerika Serikar, membaca buku-buku soal emigrasi dari Italia. Dia tak hanya menggali informasi umum, namun juga informasi tentang leluhur dan desa tempatnya berasal. Bahkan adat istiadat di sana.
Dengan diperkaya 46 buku rujukan seperti The Italians: Social Backgrounds of an American Group karya Francesco Cordasco dan Eugene Bucchioni maupun Mussolini and Fascism: The View ftom America karya John P. Diggins, Unto the Son bukan saja buku sejarah keluarga Talese yang mengungsi dari Italia ke Amerika Serikat sebelum Perang Dunia II. Buku ini juga sejarah sosial imigran dari Italia di Amerika Serikat.
Di Belanda, Maarten Hidskes melakukan penelitian selama seperempat abad untuk mengungkap kisah ayahnya yang pernah menjadi bagian dari pasukan Westerling yang melakukan kejahatan perang di Sulawesi Selatan.
Hidskes tahu ayahnya terlibat dalam kisah kekerasan itu. Namun semasa sang ayah hidup, dia tak pernah bisa dan tidak pernah tahu cara mengawali pertanyaan tentang sebuah kisah kelam pada masa silam.
“Saya tahu bahwa setiap usaha ke arah percakapan pastilah akan terhenti. Karena asumsi yang salah yang pasti akan terdengar dalam nada pertanyaan saya. Karena ketidakinginannya berbincang. Tetapi terutama karena usahanya untuk melindungi saya, karena dia menyayangi saya,” tulis Hidkes.
Saat masih berusia tujuh tahun, Hidskes yang sedang bermain perangperangan di rumah dengan sang ayah mendadak melontarkan pertanyaan: ‘Papa, apakah Papa pernah menembak mati orang?’
Sang ayah membelai lembut kepala Hidskes. ‘Tentang hal itu kita akan bicarakan lain kali ya, Nak.”
Maka Hidskes memilih untuk menjawab deretan pertanyaan yang tak pernah terucap dengan melakukan riset dan serangkaian wawancara, setelah sang ayah wafat.
Hidskes kemudian menuangkan hasil risetnya itu dalam buku berjudul ‘Di Belanda Tak Seorang pun Mempercayai Saya‘ yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia. Sebuah buku yang oleh sejarawan Anhar Gonggong dipercaya ‘akan membuka pikiran masyarakat Belanda tentang apa yang terjadi di Sulawesi Selatan, dan juga tentang dampak adanya perang yang dipaksakan oleh pemerintah kerajaan Belanda di sana’.
Sementara itu di sebuah sudut di Kalisat, RZ Hakim tumbuh besar bersama dongeng tentang masa kecil sang ayah, yang belakangan disadarinya ternyata sebagian bisa menjadi pintu masuk untuk bercerita soal masyarakat Jember pada suatu masa.
Bukan hanya nostalgia, tapi juga memori sosial yang tidak tercatat dalam buku sejarah resmi. Dan itulah yang kemudian ditatah kembali oleh Hakim dalam buku biografi sang ayah: Durahem, walau dia tak punya niat serius untuk menyampaikan sesuatu.
“Saya hanya ingin bercerita,” katanya.
Dan memang begitulah seharusnya. Setiap kisah harus diceritakan atau mereka akan mati, kata Sue Monk Kidd, penulis buku The Book of Longings.
“Dan bila mereka mati, kita tidak akan bisa mengingat siapa diri kita dan mengapa kita di sini.”
Sudah tugas kita untuk melawan lupa. [wir]






