Surabaya (beritajatim.com) – Usianya masih 16 tahun ketika itu. Masih begitu muda dan baru saja lulus dari Madrasah Tsanawiyah. Namun, usia yang muda tersebut tak membuat Syaiful Anwar bergeming.
Ketika itu, di tahun 2018, lelaki muda ini mendirikan sebuah Sanggar Reyog Singo Joyo Taruna Sakti. Sanggar reog yang bermula dari halaman rumahnya ketika masih menjadi siswa di SMK Dharma Siswa, Sidoarjo.
Keputusannya mendirikan sanggar itu berawal ketika dirinya masih duduk di kelas tiga MTs 3 Surabaya. Saat itu ia menjadi salah seorang siswa yang ditunjuk untuk berpartisipasi mengisi acara dalam acara Hari Guru 2018.
Meski sempat bingung, ia dan empat temannya yang lain akhirnya memilih kesenian reog untuk mereka tampilkan.
Bekal menari reog sebenarnya sudah Anwar miliki, karena sebelumnya ia juga sempat ikut sanggar di daerah Rungkut Kidul meski hanya satu tahun.
“Awalnya itu pakai yang topeng-topeng yang kecil. Pas lulus SMP sebenarnya kita masih ingin kumpul-kumpul nari bareng. Tapi bingung mau latihan di mana,” ujar lelaki yang tinggal di daerah Medokan Ayu tersebut.
Hingga Anwar mengusulkan untuk latihan di rumahnya saja, karena halaman rumahnya yang cukup luas. Orang tuanya pun juga tidak keberatan dan justru senang. Bahkan, setiap kali mereka latihan orang tua Anwar tidak pernah absen memberikan konsumsi.
Akhirnya dari beberapa kali latihan, dirinya mendapatkan job di kampung untuk mengisi acara 17 Agustus. Uang hasil tampil tersebut kemudian digunakannya untuk membeli gendang. Tidak lama setelah itu, ada seseorang yang berdonasi membelikan kenong dan satu set gong padanya.
Hal itu tentu membuat Anwar semakin bersemangat untuk melengkapi properti-properti yang diperlukan untuk pertunjukan reognya.
Dari hasil tabungannya selama magang sekolah hingga ikut orang tuanya berjualan itu setidaknya bisa ia gunakan untuk membeli dua topeng bujang ganong, dua kuda kepang putih, topeng macan putih, serompet, angklung, kostum, bahkan dadak merak yang seharga Rp 9 juta.
Dari properti yang sudah cukup lengkap hingga beberapa kali diminta mengisi acara, baru akhirnya ia memutuskan untuk membuat sanggar seadanya dengan izin Ketua RT, RW, dan Kelurahan.
Meski keempat temannya kini sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Setidaknya kini sudah ada belasan orang yang menjadi anggota di sanggar miliknya.
Ia mengaku pasti ada suka dan duka selama membangun sanggar ini. “Dukanya itu pernah saat teman-teman di-chat kalau tanggal sekian tampil. Mereka bilang pada bisa, tapi saat latihan banyak yang gak hadir. Bahkan saat hari-H akhirnya cuman beberapa saja yang bisa,” kenangnya.
Untuk ke depannya ia hanya berharap, semua anggotanya bisa latihan dan tampil dalam formasi lengkap. “Lengkap, kompak, dan permainannya lebih tertata,” imbuhnya. [fyi/tur]






