Malang (beritajatim.com) – Susi Anggraeni, warga Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, menjadi saksi dalam laporan dugaan pembunuhan berencana yang dilaporkan Devi Athok ke Polres Malang terkait Tragedi Kanjuruhan.
Rabu (7/12/2022) siang, Susi diperiksa untuk diambil keteranganya oleh penyidik Satreskrim Polres Malang. Selain Susi, saksi kedua adalah Cholifatul Nur, warga Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Cholifatul adalah ibu kandung dari korban meninggal dunia Tragedi Kanjuruhan.
“Saya diminta keterangan sebagai saksi. Ada 20 pertanyaan dari penyidik. Saya sampaikan apa yang saya ketahui dan lihat. Memang saat itu saya melihat ada banyak korban,” ungkap Susi selepas pemeriksaan di Satreskrim Polres Malang, Rabu (7/12/2022).
Susi mengaku ada di Stadion Kanjuruhan saat peristiwa terjadi pada 1 Oktober 2022 lalu. Susi adalah anggota match steward saat pengamanan laga Arema FC versus Persebaya Surabaya, pada 1 Oktober 2022 lalu.
“Setiap kali berjaga saya selalu di sentel ban, untuk membantu Aremanita ketika ada yang pingsan. Dan saat malam kejadian itu, pada menit 85 saya keluar stadion menuju ke utara dekat loket, karena beranggapan situasi aman,” bebernya.
Beberapa menit kemudian, Susi melihat pemain Persebaya sudah keluar dengan kendaraan rantis. Padahal biasanya, pemain meninggalkan stadion beberapa menit setelah pertandingan berakhir.
“Tidak selang beberapa lama, ada tembakan gas air mata kepada Aremania yang ada di loket. Seketika itu, saya langsung membantu Aremanita dan anak-anak masuk ke ruang loket supaya tidak terkena tembakan gas air mata,” ujarnya.
Tembakan gas air mata, saat itu juga didengar beberapa kali di sisi selatan. “Seketika itu saya juga mendapat telepon dari anak saya. Katanya pintu ditutup dan tidak bisa keluar. Saya juga mendengar ada suara teriakan minta tolong dan menangis,” kenang Susi.
Mendapat kabar anaknya terkunci di pintu keluar, Susi bergegas lari ke sisi selatan. Di sini ia melihat banyak korban tumbang.
“Saya juga sempat berusaha menyelamatkan Aremanita yang sesak nafas. Saya bilang untuk terus melawan dengan menarik nafas panjang. Tetapi ketika ambil nafas, anak perempuan itu langsung meninggal dunia,” urai Susi sembari menahan tangis.
Melihat ada banyak korban, Susi sempat mendatangi aparat TNI untuk meminta bantuan. Tetapi jawaban yang didapat, malah menyakitkan dengan alasan tidak ada perintah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”aremanita”]
Meski ia sempat memarahi aparat itu, tetapi tetap saja tidak ada reaksi. Ia malahan dimarahi oleh seorang Polwan.
“Saya juga langsung menghampiri Pak Kapolres (AKBP Ferli Hidayat, red) dan menyatakan kalau ada banyak korban. Tetapi jawabannya hanya sabar. Padahal di situ ada anak saya yang terkunci di pintu keluar,” tegasnya.
Susi menguraikan, bahwa rata-rata korban yang meninggal dunia kedua matanya merah. Kulit wajahnya berubah menjadi hijau. Dan sebelum meninggal dunia, mereka mengalami sesak nafas.
“Semua meninggalnya rata-rata sama. Baik yang saya lihat di Stadion Kanjuruhan ataupun di RS Wava Husada Kepanjen. Kuku mereka juga langsung menghitam ketika meninggal dunia. Tidak menunggu beberapa jam, tetapi hanya hitungan menit saja,” paparnya.
“Dengan melihat kondisi para korban itu, setahu saya kondisi seperti itu karena gas air mata. Itu tidak bisa dipungkiri, karena semua mengalami sesak nafas sebelum meninggal dunia,” Susi mengakhiri. (yog/ted)






