Banyuwangi (beritajatim.com) – Infertilitas menjadi salah satu permasalahan serius yang dialami pasangan suami istri. Kelainan terjadi tidak hanya dari pihak istri namun terkadang pada suami atau justru keduanya.
Mengatasi permasalahan tersebut, salah satu solusinya dapat dilakukan dengan program bayi tabung atau in vitro ferilisasi (IVF).
Masalah bayi tabung yang masih cukup awam, dikenalkan kepada masyarakat melalui seminar bertajuk ‘Mengatasi Masalah Kesulitan Hamil Secara Tuntas’. Langkah tersebut disambut antusias para peserta di Aula Sritanjung Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center pada Minggu (13/4/2025).
Acara yang dimoderatori oleh dr. Taufik Hidayat, M.Kes, Sp.And. SupSp. SAAM, FISQua, berlangsung lancar dengan menghadirkan dua narasumber.
Sesi pertama dibuka oleh Dr. dr. Ashon Sa’adi, Sp.OG (K), yang mengupas tuntas definisi infertilitas. Dia menjelaskan bahwa infertilitas adalah kondisi ketika kehamilan tak kunjung terjadi setelah 12 bulan berhubungan intim secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
“Sekitar 15% pasangan suami istri di dunia menghadapi tantangan kesulitan hamil,” ujar dr. Ashon.
Lebih lanjut, dr. Ashon memaparkan beragam faktor yang menjadi penyebab infertilitas. Menurutnya, permasalahan bisa bersumber dari pihak istri (35%), pihak suami (25%), kombinasi keduanya (25%), atau bahkan tidak teridentifikasi penyebabnya (unexplained) sebesar 15%.
Pada wanita, infertilitas dapat dipicu oleh penyumbatan saluran tuba, endometriosis atau kista coklat, sindrom ovarium polikistik (PCOS), kualitas sel telur yang rendah, hingga gangguan hormon.
“Sementara pada pria, masalah kesuburan bisa disebabkan oleh penyumbatan saluran sperma, varikokel, infeksi atau bekas infeksi, hingga adanya antibodi antisperma,” terangnya.
Selain faktor-faktor tersebut, dr. Ashon juga menyinggung bahwa kelainan genetik, tekanan psikologis, serta gaya hidup yang kurang mendukung kesuburan turut berperan dalam kesulitan hamil.
“Karena itu, penyesuaian gaya hidup dan lingkungan yang sehat sangat penting. Tidak semua masalah infertilitas dapat diatasi dengan pengobatan konvensional seperti obat-obatan, pembedahan, atau psikoterapi,” tegasnya.
Pada sesi berikutnya, dr. Aucky Hinting, Ph.D., Sp.And(K) memberikan perspektif lebih mendalam mengenai solusi teknologi reproduksi berbantu. Dia menjelaskan bahwa dalam beberapa kondisi, diperlukan teknologi tambahan seperti inseminasi, di mana sperma yang telah dicuci dan dipilih kualitas terbaiknya dimasukkan ke dalam rahim.
“Inseminasi menjadi pilihan jika kualitas sperma tidak terlalu buruk dan saluran tuba istri tidak tersumbat, sehingga pembuahan alami masih memungkinkan,” jelas dr. Aucky.
Kendati demikian, dr. Aucky mengungkapkan bahwa tingkat keberhasilan kehamilan melalui inseminasi per siklus percobaan relatif kecil, yakni sekitar 15 persen. Dia kemudian memperkenalkan In Vitro Fertilization (IVF) atau yang lebih dikenal sebagai bayi tabung.
Dalam proses IVF, pembuahan sel telur oleh sperma terjadi di laboratorium, dan embrio yang dihasilkan kemudian ditanamkan kembali ke dalam rahim.
“IVF atau bayi tabung memiliki tingkat keberhasilan kehamilan rata-rata sekitar 50 persen per siklus percobaan, dengan catatan keberhasilan ini juga dipengaruhi oleh usia pasien dan kondisi kesehatan penyertanya,” paparnya.
Tim RSIA berharap melalui kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai berbagai pilihan pengobatan infertilitas, baik yang disebabkan oleh faktor istri, suami, terapi konvensional, hingga teknologi bayi tabung, kepada masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. [alr/but]






