Malang (beritajatim.com) – Potensi ekonomi lokal seringkali tersembunyi di sekitar kita, menunggu untuk diolah menjadi sumber kesejahteraan. Melihat peluang ini, tim dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) turun tangan memberdayakan warga RT 05 RW 07, Kelurahan Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang, untuk membangun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang inovatif.
Produk yang menjadi andalan adalah Virgin Coconut Oil (VCO) dan sabun olahannya, komoditas yang tengah naik daun karena manfaat kesehatannya. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga bekal lengkap untuk memulai bisnis secara mandiri. Dipimpin oleh Dr. Yanty Maryanty, S.T., M.Si., tim yang solid ini membawa misi untuk mengubah potensi warga menjadi profit.
“Tujuan kami jelas, kami ingin warga di sini bisa mandiri secara ekonomi. Dengan keterampilan produksi VCO dan pemasaran digital yang kami berikan, kami berharap lahir pengusaha-pengusaha baru dari Bunulrejo,” ungkap Dr. Tri Yulistyawati Evelina, SE, MM, yang mewakili tim saat membuka acara.
Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 15 warga ini dirancang secara komprehensif, dimulai dari hulu hingga hilir. Antusiasme warga terlihat sejak awal sesi. Setelah diukur pemahaman awalnya melalui kuesioner, mereka langsung disuguhkan video proses pembuatan VCO. Ini memberikan gambaran nyata tentang bisnis yang akan mereka geluti.
Sesi menjadi hidup saat Dr. Tri Yulistyawati Evelina memaparkan strategi pemasaran. Warga tak ragu melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar tantangan nyata yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari sulitnya menjual hingga persaingan harga. Diskusi interaktif ini membuka wawasan baru tentang cara menembus pasar.
Tak kalah penting, Mochammad Agung Indra Iswara, S.T., M.T., membekali peserta dengan ilmu perhitungan ekonomi. Sesi ini membongkar cara menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, dan merencanakan keuntungan agar bisnis tidak hanya berjalan, tetapi juga menguntungkan.
Puncak antusiasme warga terlihat saat sesi demonstrasi. Tim mahasiswa yang terdiri dari M. Iqbal Fauzan, Luthfi Azizah Khoironi, dan kawan-kawan memamerkan cara kerja alat pemeras santan kelapa modern. Alat ini kemudian dihibahkan langsung kepada warga untuk menunjang kelancaran produksi mereka.
“Dengan adanya alat ini, proses produksi jadi lebih cepat dan efisien. Kami jadi lebih semangat untuk memulai,” ujar salah satu warga yang ikut mencoba alat tersebut.
Di era digital, produk bagus saja tidak cukup. Sadar akan hal ini, tim Polinema mendedikasikan sesi khusus untuk pelatihan pemasaran melalui media sosial. Para mahasiswa dengan sabar membimbing warga membuat akun bisnis, membuat konten yang menarik, dan memanfaatkan fitur-fitur promosi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Peserta tampak bersemangat mempelajari cara mengubah media sosial dari sekadar alat komunikasi menjadi mesin penghasil pundi-pundi rupiah. Program ini ditutup dengan evaluasi akhir dan sesi foto bersama yang hangat, menyimbolkan eratnya kolaborasi antara akademisi dan masyarakat. Keberhasilan program ini diharapkan tidak hanya berhenti di Kelurahan Bunulrejo, tetapi juga menjadi percikan inspirasi bagi wilayah lain untuk menggerakkan roda ekonomi dari tingkat paling dasar: masyarakat. (dan/ian)






