Magetan (beritajatim.com) – Teras rumah di Blok F KPR Magetan Indah itu tampak beda dari yang lain. Dari jalan sudah terlihat jajaran tanaman hias kekinian yang tengah booming belakangan ini. Mulai dari keladi, sansivera, monstera, sirih gading dan banyak jenis lainnya.
Di atasnya terdapat anggrek yang tak sebanyak tanaman – tanaman hias biasa. Tanaman dalam pot – pot putih itu ditata sedemikian rupa sesuai dengan warna – warna daunnya.
Alfia Sholihah (33) si empunya rumah selalu mengecek tanaman – tanaman tersebut. Musim penghujan tanaman hias rentan diganggu siput, serangga, cacing hingga kucing. Tanaman bisa mati jika kena air kencing kucing, bahkan jiak daun habis dimakan serangga dan siput.
‘’Terlebih, adanya cacing dalam tanah di pot juga bisa membuat tanaman jadi tidak hijau. Media tanamnya harus sering diperhatikan, setidaknya sebulan sekali, tanah harus diganti,’’ katanya.

Sejak 2018 dia sudah belajar tentang tanaman hias. Tanaman pertama yang dia pelajari adalah King Monstera. Kala itu harganya tak sampai Rp 50 ribu. Hanya stau tanaman dan sisanya anggrek. Itupun dia hanya sebatas emalkuan perawatan. Berangsur banyak belajar, dia pun mulai melakukan budidaya.
‘’Saya mulai dengan mencacah bonggoh dari indukan tanaman monstera yang saya miliki. Jadi sampai sampai ratusan pot saya punya, dan dulu belum booming dan hanya saya taruh di halaman rumah,” katanya.
Bahkan, dia sempat bagi – bagikan ke tetangga dan kawannya. Dia bahkan rela menyumbangkan tanamannya ke salah satu temannya yang membuka kafe di Kota Madiun. Namun, tanamannya berakhir dibeli dengan sangat murah. Pun, dia tetap berikan karena di awal modalnya tidak terlalu besar. Pun, kabar murahnya tanaman miliknya sampai ke telinga penjual bunga di Tawangmangu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tanaman-hias”]
‘’Tiga pick up diambil semua, saat itu saya dapet rejeki nomplok, saya putar untuk coba budidaya tanaman hias lain,’’ katanya.
Dari situlah di mulai mengembangkan jenis – jenis tanaman yang lain. Mulai dari sirih – sirihan, keluarga monstera, hingga keluarga senthe. Dia pun jadi hafal, mana tanaman yang layak jual dan mana tanaman yang bisa ditemui di pinggir sungai atau kebun biasa.
‘’Ada corak – corak dan bentuk tertentu dari daun yang membedakan dengan tanaman yang umum ditemui. Sehingga, ada juga yang harganya sampai puluhan juta satu pot, itu karena kelangkaannya dan budidaya yang sulit juga,’’ katanya.

Kini yang cukup diminati adalah Sandleyana varigata yellow dan Syngonium baik warna kuning ataupun merah muda. Penamannya pun tergantung dari warna daun yang cenderung kuning dan merah muda. ‘’Ada juga tumbuhan jacklin yang kini termasuk varian baru karena baru ditemmkan di hutan Sulawesi. Harganya yang masih kecil Rp 100 ribuan,’’ katanya.
Selain itu, ada jenis – jenis lain yang harganya bisa jutaan rupiah. Bahkan, jenis yang tergolong biasa pun juga bisa mahal. Namun, dia tak berani pasang harga mahal – mahal. Semua disesuaikan dengan modalnya.
‘’Mulai dari pembibitan sampai prawatannya. Jadi, saya berani patok harga yang wajar dan standar. Mungkin dari saya Rp 400 ribuan, di tempat lain bisa mencapai Rp 1 jutaan,” katanya. (asg/ted)






