Surabaya (beritajatim.com) – Pergaulan bebas menjadi salah satu penyebab tingginya angka dispensasi pernikahan di Indonesia. Akibatnya, banyak anak yang masih berada di bawah umur dipaksa untuk menikah. Bahkan, tak jarang pula hal itu memunculkan tindak kriminalitas seperti pengguguran bayi hingga pembunuhan.
Hal itulah yang mencoba disajikan oleh Teater Sua Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya lewat sebuah pementasan pada Rabu (14/12/2022) malam.
Naskah yang ditulis oleh Shohibul Anwar itu ingin mengajak masyarakat agar lebih aware terhadap situasi dan kondisi di lingkungan sekitar, khususnya terkait adanya krisis moral.
“Krisis moral di Indonesia dibuktikan dengan maraknya remaja yang berhubungan seksual di luar nikah. Pergaulan bebas pada remaja di Indonesia angkanya cukup tinggi,” ungkap Agil Nasaruddin selaku sutradara pementasan, Kamis (15/12/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”uinsa”]
Agil menjelaskan, naskah pementasan berjudul ‘Mata’ tersebut disuguhkan dengan genre komedi. Naskah itu sendiri menceritakan tiga sosok polisi yang tengah menyelidiki kasus pembunuhan berencana. Dimana, pembunuhan itu dipicu hamilnya korban di luar nikah.
“Ceritanya ada tiga polisi yang sedang memecahkan misteri pembunuhan seorang wanita di depan sebuah proyek. Si mandor proyek itu dituduh jadi pelaku pembunuhan. Namun, di situlah polisi mulai bimbang karena ternyata mandor justru adalah saksi kunci,” jelasnya.
Teka-teki siapa dalang pembunuhan itulah yang disajikan oleh Teater Sua dalam pementasan tersebut. “Kami mencoba mengajak penonton untuk ikut berpikir mencari dalang pembunuhan tersebut. Dengan begitu, harapannya penonton juga bisa lebih sadar dan peduli terhadap kondisi sosial di sekitar,” lanjutnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UINSA Prof Ahmad Zainul Hamdi memberikan apresiasinya atas pementasan tersebut. Dirinya menilai, bahwa pergaulan bebas adalah salah satu sisi gelap dari kehidupan anak muda. Banyak konsekuensi negatif yang diakibatkannya.
“Namun jika menyangkut hubungan laki-perempuan, biasanya perempuanlah yang akan menjadi korban berlapis. Banyak perempuan menjadi korban perkosaan tapi justru dia yang dipersalahkan,” tandasnya. (ipl/kun)






