Surabaya (beritajatim.com) – Varian Delta Berlalu, Omikron jadi musuh baru. Varian baru virus covid-19 ini pun sudah menjangkit kurang lebih 90 negara. Belakangan, varian omikron ini juga dikabarkan telah masuk ke Indonesia.
Riset dunia kesehatan terbaru mengemukakan jika virus corona varian Omikron 70 kali lipat lebih cepat menular dan berkembang biak daripada varian Delta. Meski di sisi lain, omikron juga dinilai tak terlalu mematikan jika dibanding dengan varian sebelumnya.
Hal ini, menurut para peneliti terjadi karena varian ini berkembang biak di bagian yanglebih dalam di paru-paru. Sehingga, tidak terlampau parah menyerang paru-paru jika dibandingkan dengan varian sebelumnya.
Kesimpulan itu dihasilkan dari riset yang dilakukan oleh sekelompok peneliti University of Hong Kong. Studi belum terpublikasi pada jurnal ilmiah tetapi, dalam proses peer-review serta masih dievaluasi oleh peneliti lain.
Peneliti itu menyebut jika Omicron punya replikasi yang tinggi di cabang tenggorok, yang menjelaskan kenapa varian ini lebih cepat menular. Tapi Omicron punya replikasi 10 kali lebih dah di jaringan paru-paru. Artinya, varian ini lebih cepat menular, tapi tingkat keparahannya rendah.
Adapun asal dari varian Omicron ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada 24 November 2021 lalu. World Health Organization (WHO) pun menetapkan Omicron sebagai variant of concern, artinya varian ini punya potensi meningkatkan penularan atau kematian, bahkan mempengaruhi aktivitas tubuh.
WHO, menyebut jika belum ada data gejala Omicron berbeda dengan varian lain. Kasus awal terjadi pada anak-anak muda, gejala memang cenderung ringan. Tapi WHO juga turut mengingatkan semua varian bisa memicu gejala berat hingga menyebabkan kematian, terutama pada orang-orang rentan.
Namun tidak perlu terlalu panik, karena vaksin yang ada masih bisa melindungi dari gejala parah akibat mutasi virus yang signifikan seperti Omicron. Meski seberapa besar efektivitasnya juga belum terjawab.
Omicron juga diduga lebih menurunkan efektivitas vaksin dibanding varian Delta. Meski masih diperlukan studi lanjutan untuk data rinci terkait hal itu.
Ada juga beberapa ahli yang menganggap booster belum perlu, karena vaksinasi penuh belum rampung. Ada pula yang menilai booster diperlukan kelompok rentan.
Termasuk golongan lansia dan orang dengan gangguan kekebalan tubuh. Hal yang terpenting bahwa orang yang sudah di vaksin kecil kemungkinan masuk RS atau meninggal jika terserang varian Omicron ini. [dan/tur]






