Surabaya (beritajatim.com)- Perubahan cara orang menikmati hiburan ikut mengubah strategi industri televisi. Kalau dulu drama identik dengan episode panjang dan jumlahnya puluhan, sekarang China justru mendorong format baru bernama short drama, tayangan dengan durasi kurang dari 10 menit per episode.
Format ini lahir dari kebiasaan penonton yang lebih sering menonton lewat ponsel. Karena itu, banyak short drama dibuat dalam format layar vertikal dan alurnya langsung ke inti cerita. Tidak banyak adegan pengantar atau dialog berputar-putar. Konflik muncul cepat, ritme cerita padat, dan setiap episode dibuat cukup singkat tapi tetap membuat penasaran.
Strategi ini bukan sekadar mengikuti tren, tapi juga bagian dari perhitungan bisnis. Platform seperti iQIYI dan WeTV memanfaatkan data penonton, mulai dari komentar, jumlah klik, sampai respons di media sosial untuk menentukan cerita seperti apa yang diminati. Dengan cara ini, risiko produksi bisa ditekan karena keputusan tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi juga data.
Menariknya, China tetap mempertahankan ciri khas budayanya dalam cerita-cerita tersebut. Berbeda dengan beberapa produksi global yang cenderung dibuat “aman” agar cocok untuk semua pasar, short drama China justru tampil dengan identitas lokal, hanya saja dikemas lebih ringkas dan modern. Format ini juga dianggap sebagai solusi untuk menghindari drama yang sengaja dipanjangkan tanpa perkembangan cerita yang berarti.
Ke depan, short drama diprediksi akan menjadi salah satu cara utama China memperluas pengaruh industri hiburannya ke pasar global. Di tengah persaingan yang semakin ketat, cerita yang kuat dan padat dalam waktu singkat ternyata bisa menjadi senjata yang efektif. [Meychel Salsabyla]






