Surabaya (beritajatim.com) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya menggelar program pemberdayaan UMKM melalui pemanfaatan Google Business bagi pelaku usaha di RW 01 dan RW 05 Kelurahan Kedung Baruk.
Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat strategi pemasaran digital agar UMKM mampu memperluas jangkauan pasar.
Pelatihan dilaksanakan secara tatap muka di Pendopo Kelurahan Kedung Baruk pada Jumat (19/12/2025) dengan peserta 17 UMKM bidang kuliner. Metode luring dipilih untuk memastikan interaksi langsung, pendampingan intensif, serta praktik aplikatif.
“UMKM di Kedung Baruk memiliki potensi lokal yang kuat, produknya berkualitas dan kreatif, tetapi masih membutuhkan penguatan pada aspek pemasaran digital agar bisa berkembang lebih jauh,” ujar Dr. Dian Arini, SP., MM ditulis, Kamis (25/12/2025).
Pelaku UMKM di RW 01 Kedung Baruk bergerak di beragam sektor, mulai kuliner, kerajinan tangan, hingga home industry berbasis limbah lokal seperti mangrove yang diolah menjadi sabun, sirop, tepung, dan keripik. Ragam produk tersebut menunjukkan daya saing yang baik namun belum sepenuhnya ditopang akses pasar yang luas.
“Potensi mereka besar karena sudah mampu menghasilkan produk bernilai jual, tinggal bagaimana akses pasarnya diperluas melalui pemanfaatan teknologi,” kata Dian.
Dian menyampaikan, tantangan utama yang dihadapi UMKM setempat adalah keterbatasan dalam pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran dan pengelolaan usaha. Kondisi ini membuat sebagian pelaku usaha belum optimal memanfaatkan media sosial dan platform daring.
“Banyak UMKM belum memaksimalkan kanal digital, padahal media online bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan penjualan dan memperluas pasar,” ujarnya.
Sebagai respons atas kebutuhan tersebut, STIESIA Surabaya merancang program pengabdian masyarakat berupa workshop yang dibagi dalam dua sesi. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan solusi praktis dan mudah diterapkan.
“Program ini kami rancang agar pelaku UMKM bisa langsung mempraktikkan pengelolaan usaha secara digital,” kata Dian.
Sesi pertama workshop membahas pemanfaatan Google Business untuk memperkenalkan produk, mengelola profil usaha, serta mengelola ulasan pelanggan secara daring. Sesi kedua berfokus pada strategi digital marketing melalui media sosial, e-commerce, dan pembuatan konten kreatif.
“Harapannya, UMKM Kedung Baruk tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menjangkau pasar nasional secara bertahap,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian, Dr. (Cand) Novianto Eko Nugroho, S.E., M.PSDM menargetkan peningkatan keterampilan digital pelaku UMKM melalui pemanfaatan teknologi pemasaran daring. Program ini diarahkan agar UMKM mampu memperluas pasar dan meningkatkan penjualan secara berkelanjutan.
“Luaran yang kami harapkan adalah meningkatnya keterampilan digital pelaku UMKM dalam memasarkan produk secara online, sehingga berdampak langsung pada peningkatan penjualan dan kemajuan usaha,” ujar Novianto.
Novianto menjelaskan, kondisi eksisting UMKM di RW 01 masih menunjukkan keterbatasan pengetahuan teknologi, khususnya dalam pemanfaatan Google Business dan strategi digital marketing lainnya. Hasil survei dan wawancara lapangan menunjukkan mayoritas pelaku usaha masih bertumpu pada metode pemasaran konvensional.
“Sebagian besar UMKM masih mengandalkan penjualan langsung, dari mulut ke mulut, dan spanduk, tanpa memanfaatkan platform digital yang sebenarnya bisa memperluas jangkauan pasar,” katanya.
Padahal, UMKM di Kelurahan Kedung Baruk memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama di sektor kuliner, kerajinan tangan, dan industri rumahan berbasis sumber daya lokal. Potensi tersebut dinilai perlu didukung dengan strategi pemasaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Dengan potensi yang dimiliki, UMKM Kedung Baruk sebenarnya siap bersaing, asalkan didukung penguatan kapasitas digital,” ujar Novianto.
Dalam persaingan usaha yang semakin digital, pemanfaatan Google Business Profile dipandang sebagai solusi strategis untuk meningkatkan visibilitas usaha. Platform ini memungkinkan UMKM menampilkan informasi penting yang memudahkan konsumen menemukan produk secara daring.
“Melalui Google Business, pelaku UMKM bisa menampilkan jam operasional, lokasi, hingga foto produk, sehingga usaha mereka lebih mudah diakses oleh konsumen,” jelasnya.
Selain pendampingan langsung, hasil kegiatan pengabdian ini juga direncanakan dipublikasikan dalam jurnal dan media lokal. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas dampak program dan menjadi rujukan praktik baik bagi UMKM di wilayah lain.
“Program pengabdian ini merupakan sinergi kampus dengan masyarakat untuk memajukan UMKM secara berkelanjutan,” pungkas Novianto. [asg/ted]






