Malang (beritajatim.com) – “Jawa = Hama.” Kalimat pendek ini seolah muncul menjadi narasi besar yang terkesan menyudutkan. Muncul di kolom komentar video konten sound horeg pada platform media sosial TikTok. Ekspresi sinis yang mencoba menempatkan sound horeg sebagai pengganggu.
Tak sedikit warganet yang menilai dentuman subwoofer dari hajatan warga desa merupakan cerminan ‘keberisikan’ orang Jawa, terutama dari wilayah pedesaan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mereka mengeluhkan kebisingan, menyindir dengan nada sarkastik, bahkan menyematkan label terbelakang pada sound horeg. Meski ini adalah produk dari budaya lokal.
Namun, di tengah arus kritik, dentuman sound horeg justru makin menggema. Bukan hanya sebagai ekspresi kegembiraan rakyat, melainkan identitas, solidaritas sosial, dan, yang mulai jarang diaku, kekuatan ekonomi rakyat kecil. Di jantung pergerakan ini, berdiri nama Sam David Blizzard, Presiden Son Horeg se-Tanah Jawa. Ia tak pernah dilantik secara formal, tapi dihormati ribuan pelaku sound system dari Malang hingga pelosok Pulau Jawa.
“Kalau bunyinya keluar, orang langsung bilang ‘horeg!’ karena badan bergetar,” kata David, menjelaskan asal muasal istilah horeg yang kini identik dengan dentuman bass hajatan warga. Kata itu, menurutnya, bukan ciptaan teknisi sound system, melainkan lahir dari lidah masyarakat sendiri.
“Bukan kami yang menamai, tapi masyarakat,” ujarnya.
Sam bertutur, fenomena sound horeg mulai berkembang di Kabupaten Malang awal 2000-an. Seolah menemukan momentum, popularitas sound horeg melesat ketika video hajatan berseliweran di media sosial sekitar 2014-2015. Sound horeg naik daun, berbarengan dengan maraknya stigma, ejekan, hingga rasa penasaran.
Keberadaan sound horeg pun perlahan menambah kuat citra Malang. Kini, Malang tak hanya dikenal sebagai kota pendidikan atau apel. Ia juga bisa disebut sebagai rumah besar bagi budaya suara tempat lahirnya sound horeg.
Popularitas seringkali datang dengan harga mahal. Tudingan dan stereotip tak bisa dihindari. Di media sosial, sound horeg sering digambarkan sebagai gangguan. Banyak warganet mengeluhkan suaranya yang keras, bahkan merusak ketenangan warga sekitar. Video yang memperlihatkan genteng rumah rontok, kaca bergetar, hingga bayi menangis saat hajatan jadi viral dan memancing komentar bernada diskriminatif.
“Yang muncul di media sosial itu kebanyakan sisi negatifnya. Yang positif nggak pernah diangkat,” ujar David Blizzarad, sedikit kesal.
Padahal, menurut dia, di balik dentuman subwoofer, ada roda ekonomi yang bergerak: para pedagang kecil yang dagangannya laku keras saat hajatan, usaha sewa tenda, panggung, bahkan UMKM makanan dan minuman yang ikut terlibat. “Biasa cuma dapat Rp100 ribu, pas ada sound horeg bisa dapat Rp1 juta,” ujarnya.
Tak hanya itu, banyak event yang digagas komunitas sound digunakan untuk kegiatan sosial. Santunan anak yatim, renovasi masjid, hingga bantuan bencana. Tapi sisi ini jarang masuk sorotan publik.
Sam David Blizzard bukan event organizer, bukan pula seniman panggung. Ia menyebut dirinya penyedia jasa. “Kami cuma disewa. Kami tidak pernah datang sendiri bawa sound, terus bikin acara. Yang minta ya masyarakat,” jelasnya.
Ia menolak jika pelaku sound terus dijadikan kambing hitam atas kebisingan. “Kalau mau sosialisasi, jangan cuma ke pelaku. Ke masyarakat juga. Mereka yang minta jumlah subwoofer banyak, mereka yang minta suaranya segede itu,” tegas dia.
Menurut Sam, penyebutan horeg bisa diganti kapan saja. “Mau diganti jadi Son Karnaval kek, Son Tanggapan kek, bisa saja. Tapi substansinya tetap. Ini bagian dari ekspresi budaya masyarakat.”
Kini, sound horeg tak hanya jadi pembahasan dalam kolom komentar media sosial. Ia juga masuk dalam dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Malang. Artinya, ada pengakuan resmi dari negara bahwa praktik ini bagian dari kebudayaan.
Sam David menyebut ia sudah berdiskusi dengan Kemenkumham dan akademisi dari berbagai kampus soal legalitas dan perlindungan hukum terhadap komunitas sound. Namun, menurutnya, yang bisa dilindungi baru sebatas nama. Bukan aktivitas maupun organisasinya.
Meski begitu, tawaran kerja sama datang dari luar negeri. “Dari Cina sudah ada yang kirim proposal. Mereka tertarik dengan produk sound system lokal dan cara penyajiannya,” ujarnya.
Bahkan, seorang profesor bernama Radius dari salah satu universitas ternama dikabarkan tengah meneliti fenomena ini secara akademik. “Berarti ini bukan cuma soal suara, tapi sudah jadi objek kajian budaya,” katanya.
Sound horeg, seperti budaya lainnya, berada di persimpangan antara ekspresi dan gangguan. Ia bisa jadi pesta rakyat, tapi juga bisa jadi sumber konflik sosial. Yang jelas, ia lahir dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
Di Malang dan sekitarnya, ketika suara horeg mulai terdengar dari kejauhan, warga tahu pesta dimulai. Anak-anak menari, bapak-bapak tersenyum, dan ibu-ibu sibuk menyiapkan sajian. Di bawah lampu warna-warni dan getaran subwoofer, mereka merayakan hidup.
Dan mungkin, dalam dentuman itulah, mereka berseru diam-diam kepada dunia: Kami bahagia. [dan/beq]






