Iklan Banner Sukun
Sorotan

Monyet Israel di Indonesia

Foto Ilustrasi

Ini bukan pernyataan rasis untuk mendiskreditkan bangsa Israel. Ini bukan seperti Ambroncius Nababan yang menyandingkan gambar Natalius Pigi dengan gorila. Tapi ini tafsir kontemporer dari fenomena Kitab Suci dan perkembangan mutakhir geopolitik strategis internasional.

Bangsa Yahudi mempunyai hari suci Sabtu yang disebut sebagai Sabath. Pada hari itu Tuhan mewajibkan bangsa Yahudi menjalankan ibadah dan meninggalkan pekerjaan dan aktivitas penting apapun.

Tapi, bangsa Yahudi tergoda karena pada hari Sabtu justru ikan-ikan melimpah melebihi hari-hari lain. Mereka pun beramai-ramai melaut dan melupakan kewajiban beribadah. Tuhan murka dan mengutuk mereka menjadi monyet.

Banyak tafsir terhadap peristiwa ini, apakah bangsa Yahudi benar-benar berubah menjadi monyet, hewan primata, atau monyet alegoris dalam bentuk takwil sifat monyet dalam diri manusia.

Yang menjadi kajian juga adalah mengapa mereka dikutuk menjadi monyet, padahal hewan ini tidak hidup di wilayah Timur Tengah yang bergurun pasir, monyet  adalah primata khas yang hidup di hutan wilayah tropis.

Para ahli juga berbeda pendapat mengenai lokasi peristiwa itu. Ada yang menyebutnya di pantai Elat dekat Palestina atau di Pantai Aqabah di pesisir Laut Merah.

Perdebatan mengenai TKP (tempat kejadian perkara) ini menjadi kontroversi panjang sampai sekarang, karena menyangkut legitimasi negara Israel yang sekarang berebut dengan bangsa Palestina. Kedua bangsa sama-sama mengklaim sebagai penguasa wilayah.

Bangsa Palestina mengklaim sudah ribuan tahun tinggal di wilayah itu. Israel baru mendaku wilayah itu pada 1948 atas bantuan Inggris yang sejak 1917 mengeluarkan Deklarasi Balfour yang bertujuan merelokasi diaspora Yahudi di seluruh dunia ke Palestina sebagai negara tetap.

Palestina yang semula menjadi wilayah Kekhalifahan Usmaniah yang bubar pada 1924. Setelah Perang Arab-Israel 1947-1949, Inggris mendapat mandat atas wilayah Palestina dan  menjadi sponsor utama migrasi bangsa Yahudi ke Palestina pada 1948.

Dhimam Abror Djuraid

Bangsa Yahudi yang nomaden dan terpencar-pencar di seluruh dunia akhirnya punya negara tetap di Palestina. Mereka mengklaim sudah tinggal di situ ribuan tahun sebelum bangsa Palestina.

Inilah yang menjadi “core of the core” konflik Palestina yang tak terpecahkan. Palestina menjadi episentrum konflik Timur Tengah yang memecah seluruh kekuatan internasional dalam kontroversi pro dan kontra.

Kontroversi mengenai lokasi negara Israel menjadi bahasan yang tidak ada habisnya. Karen Armstrong (Jerusalem; Satu Kota Tiga Iman, edisi terjemahan 2004), menyebut bahwa tiga agama langit, Yahudi, Nasrani, dan Islam, sama-sama mempunyai akar yang sangat kuat di Jerusalem, dan konflik agama telah berlangsung sejak ribuan tahun memperebutkannya. Karena itu, klaim sepihak salah satu agama tidak akan menyelesaikan masalah secara mendasar.

Cak Nun, Emha Ainun Nadjib, punya tafsir sendiri atas sejarah bangsa Israel. Menurut Kiai Mbeling ini, cikal bakal bangsa Israel berasal dari Indonesia. Ia menyimpulkannya dari ayat-ayat Alquran yang berhubungan dengan bangsa Israel. TKP pengutukan bangsa Israel tidak lain adalah di wilayah Indonesia sekarang, karena monyet adalah hewan primata yang hanya hidup di hutan tropis Indonesia.

Cak Nun menunjukkan bukti lain. Bangsa Israel sudah dikaruniai Tuhan dengan makanan berkualitas yang disebut manna dan salwa. Manna sejenis gandum dan biji-bijian dan salwa adalah daging burung yang lezat. Semua tersedia di alam dan bisa didapat tanpa susah payah.

Tapi, bangsa Israel bosan dan mendemo Nabi Musa minta ganti menu makanan. Mereka minta sayur-mayur, ketimun, bawang putih, bawang merah, dan kacang adas. Ini adalah bumbu pecel makanan khas orang Jawa. Begitu simpul Cak Nun.

Tentu saja ini tafsir slengekan khas Cak Nun, bukan tafsir standar Ibnu Katsir, atau tafsir hermeneutika yang filosofis plus njelimet ala Ibnu Rusydi yang sebagian pemikirannya dikafirkan oleh Imam Ghazali, Sang Argumen Islam. Tapi, meski begitu bukan berarti tafsir ala Cak Nun tidak punya bukti ilmiah.

Bahwa cikal bakal peradaban manusia ada di wilayah Indonesia sekarang sudah dibuktikan secara ilmiah oleh Prof. Arysio Santos. Dalam buku “The Lost Atlantic Finally Found” (2011) Prof Santos menegaskan bahwa  peradaban dunia tingkat tinggi Atlantis yang disebut oleh Plato pernah ada dan kemudian lenyap itu tidak lain lokasinya ada di Indonesia sekarang.

Karena itu, punjer peradaban dunia yang disebut sebagai Atlantis itu ada di Indonesia, maka masuk akal juga kalau TKP monyet Israel itu juga ada di Indonesia. Dan karena itu Indonesia adalah punjer dunia, bukan Amerika. Semua persoalan dunia yang ruwet hanya bisa selesai atas campur tangan Indonesia, dengan catatan Indonesia sudah bisa menyelesaikan keruwetannya sendiri.

Dunia sudah berubah. Konstelasi geopolitik juga sudah berubah. Episentrum kekuatan dunia sudah bergeser dari Amerika dan Negeri Paman Sam tidak bisa lagi menjadi polisi tunggal pengatur dunia.

Donald Trump tidak paham hal itu, karena kapasitas intelektualnya memang tidak cukup. Joe Biden sebagai pengganti Trump tahu bahwa kebijakan luar negeri Amerika di era Trump kacau balau dan nyaris menenggelamkan reputasi Amerika.

Karena itu, Biden balik kanan dari kebijakan lama Trump “America First”, Utamakan Amerika, menjadi “America Together”, Bersama Amerika.

Di Timur Tengah Biden akan lebih akomodatif dan inklusif. Ia tidak akan membatalkan kebijakan Trump yang memindahkan Kedutaan Amerika ke Jerusalem. Tapi ia akan lebih cenderung ke arah solusi satu negara dua sistem dengan mengakomodasikan kepentingan Israel dan Palestina.

Biden bersahabat akrab dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netyanahu sejak masih menjadi senator dan wakil presiden pada 2009. Anthony Blinken, menteri luar negeri yang ditunjuk Biden adalah keturunan Yahudi yang punya koneksi luas di Israel. Dua faktor ini akan memudahkan komunikasi Amerika untuk mewujudkan “satu negara dua sistem” di Israel.

 

Terhadap Iran yang selama ini diisolasi oleh Trump, Biden akan lebih terbuka dengan membuka kembali perundingan senjata nuklir dan mengendurkan embargo ekonomi. Turki yang menjadi pemain penting di Timur Tengah juga akan banyak diajak dialog oleh Biden untuk menciptakan kondisi yang lebih kondusif. Setidaknya di bawah Biden kebijakan di Timur Tengah akan lebih stabil dan terarah.

Bagaimana dengan peran Indonesia? Bagi Amerika Indonesia dengan jumlah penduduk muslim yang mencapai 240 juta–lebih besar dari seluruh muslim di Timur Tengah–mempunyai peran vital dalam penyelesaian masalah Palestina. Sampai sekarang Indonesia tetap teguh mendukung kemerdekaan Palestina.

Bagi bangsa Palestina, Indonesia adalah sahabat yang paling bisa dipercaya dan diandalkan. Bahkan masyarakat Palestina sangat yakin bahwa yang akan bisa memerdekakan Palestina adalah bangsa Indonesia, bukan Amerika.

Selain alasan geopolitik strategis, bangsa Palestina punya alasan iman dari hadis Nabi Muhammad saw yang menyebutkan bahwa pembebas Palestina akan datang dari bangsa di sebelah timur sungai, yaitu Asia, dan ini diartikan sebagai bangsa Indonesia, karena bangsa Indonesia punya penduduk muslim terbesar di Asia dan dunia.

Tafsir Cak Nun mengenai monyet Israel dan Indonesia sebagai punjer dunia bisa menjadi kenyataan. Indonesia akan memegang kunci bagi penyelesaian masalah Timur Tengah dan Palestina.

Wallahu a’lam. (*)


Apa Reaksi Anda?

Komentar