Bonek menghukum sekaligus melawan di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Minggu (22/7/2023) sore. Mereka melakukan dua tindakan itu untuk menjaga cita-cita dan merawat optimisme sebelum lapuk ditelan ketidakpercayaan.
Bonek menghukum Persebaya Surabaya, karena buruknya penampilan anak asuh Aji Santoso tersebut melawan Rans Nusantara pada pekan keempat Liga 1 Musim 2023-24. Disaksikan 9.060 penonton, Persebaya hanya mampu bermain imbang 2-2.
Dua gol yang dicetak Kadek Raditya padsa menit 25 dan Paulo Victor pada menit 80, dibalas oleh Tavinho pada menit 30 dan Abdul Rahman pada menit 45+1. Gelora Bung Tomo sekali lagi tak bertuah untuk merebut tiga angka.
Jika pada musim sebelumnya Bonek melakukan pitch invasion dan merusak fasilitas dalam Stadion Gelora Delta Sidoarjo setelah Persebaya kalah 2-3 dari tim yang sama, kali ini tak ada kerusuhan. Bonek di tribun utara mengungkapkan kekecewaanya dengan menyanyikan lagu yang mempertanyakan bukti keinginan manajemen Persebaya untuk menjuarai Liga 1.
Target juara
woo target juara
mana buktinya
mana buktinya
Hanya wacana
Bonek juga tidak ikut menyanyikan Song For Pride seusai pertandingan. Para pemain dan ofisial dibiarkan berdiri melingkar sembari diperdengarkan instrumen lagu tersebut dari sistem pelantang suara stadion. Para pemain juga diperlakukan seperti siswa sekolah yang ‘disetrap’ alias berdiri menghadap Bonek di tribun utara sembari mendengarkan ‘petuah-petuah’ dan kritikan dari Saiful Antoni, capo Green Nord.
Capo Ipul, sapaan akrab Saiful Antoni, mengingatkan beratnya perjuangan Persebaya untuk kembali diakui PSSI setelah melakukan perlawanan panjang selama bertahun-tahun. “Kami pernah berjuang mengembalikan Persebaya dengan air mata dan nyawa. Perlu kalian ingat itu,” teriaknya.
Kompetisi memang baru memasuki pekan keempat. Namun sekali kemenangan dan sekali kekalahan di luar kandang, serta dua hasil seri di kandang sendiri jelas bukan sinyal bagus. Pola permainan Aji yang terlalu bertumpu pada Ze Valente dan buruknya skema serangan melalui sayap Persebaya mudah diantisipasi lawan.
Perubahan cara main Persebaya dibanding musim sebelumnya membuat Bonek bertanya-tanya. Sebagaimana dilansir Beritajatim.com, Selasa (25/7/2023), salah satu tokoh Bonek ‘Conk’ Husein Ghozali, menyebut gaya permainan Persebaya saat ini belum sesuai dengan identitas khas Suroboyo yang menekankan pressing dengan bola-bola pendek cepat. “Kondisi performa saat ini belum baik dan menimbulkan kecurigaan, mulai dari komunikasi antar pemain yang tidak terjalin dengan baik atau mungkin ada masalah internal lainnya,” katanya.
Selain menghukum Persebaya, Bonek juga melakukan perlawanan terhadap PSSI dengan cara membantu Green Force membayar denda PSSI sebesar Rp 25 juta. Denda dijatuhkan kepada Persebaya karena kehadiran Bonek di Stadion Jatidiri Semarang, Minggu (16/7/2023).
Menjelang kompetisi bergulir, PSSI memang melarang kehadiran suporter tim tamu di stadion selama dua tahun. Pasal 51 ayat 6 regulasi BRI Liga 1 2023 menyatakan, selama masa transisi transformasi sepakbola nasional, semua pertandingan sepak bola nasional, termasuk kompetisi, tidak dapat dihadiri oleh suporter klub tamu.
Larangan tersebut imbas dari kerusuhan Aremania di Stadion Kanjuruhan, Malang, 1 Oktober 2022 yang menyebabkan 135 orang meninggal dunia. Ketua Umum PSSI Erick Thohir beralasan Indonesia sedang dalam pantauan FIFA. “Kemarin, ingat 135 orang meninggal. FIFA tidak lupa. Karena itu mohon dukung liga. PSSI dukung liga, karena ini sudah dikelola secara profesional,” katanya.
Menurut Erick, jika terjadi kerusuhan lagi, maka FIFA akan menjatuhkan sanksi. “Visi PSSI ingin memastikan suporter sampai rumah dengan selamat. Saya ajak TNI, Polri, dan tuan rumah, untuk memastikan hal ini. Kita jangan jadi bangsa pelupa, seakan-akan tidak terjadi apa-apa,” katanya.
Tidak ada kerusuhan antara suporter tuan rumah dan Bonek, kendati Persebaya kalah 0-2 dari PSIS Semarang. Namun sanksi tetap dijatuhkan, dan Bonek menjawab sanksi itu dengan patungan sehingga terkumpul uang Rp 25.192.700 yang diserahkan kepada manajemen Persebaya pada masa jeda pertandingan Minggu itu.
Uang tersebut terkumpul dari donasi yang dibuka oleh komunitas empat tribun, yakni Green Nord, Tribun Timur, Tribun Kidul, dan Gate 21. “Ini adalah upaya kami untuk membantu manajemen dan bukti pertanggungjawaban kami atas ketidakadilan yang dilakukan oleh federasi,” kata Devara Noumanto, juru bicara Bonek.
Kebijakan PSSI tersebut dinilai merampas hak suporter. “Away itu untuk ajang silaturahmi dan studi banding antar suporter. Jangan merampas hak suporter untuk mengawal tim kebanggaan,” kata Devara.
Bonek menuntut PSSI untuk menunjukkan surat dari FIFA yang melarang suporter tandang hadir di stadion. “Kami minta mereka tunjukkan bukti otentik larangan FIFA kepada kami, para suporter. Biarkan kami para suporter yakin. Tapi jika ini hanya gertakan, kami akan melawannya, tidak perlu repot,” kata Conk.
Erick meminta semua pihak untuk tidak menjadi ‘bangsa pelupa’. Ajakan ini benar, namun tidak sepenuhnya diletakkan dalam konteks yang tepat. Kesalahan dalam menempatkan konteks tak sekali ini saja terjadi dan itu membuat PSSI menjadi ‘institusi pelupa’ yang selalu gagal menemukan formulasi penyelesaian masalah yang tepat.
Pertama, PSSI lupa, peristiwa Kanjuruhan bukan dipicu bentrokan antara dua kelompok suporter, melainkan suporter melawan aparat kepolisian. Justru belakangan terungkap adanya kesalahan manajemen pertandingan, terutama menyangkut jumlah tiket yang dijual melebihi kapasitas stadion.
Di luar proses peradilan, sanksi terberat justru seharusnya diberikan kepada Arema dan Aremania. Merekalah biang persoalan. Namun sejumlah keputusan PSSI justru menyebabkan seluruh pelaku sepak bola di Indonesia menjadi terhukum. Sebagian pertandingan Liga 1 musim lalu dilaksanakan tanpa penonton. Bahkan Liga 2 dan Liga 3 urung bergulir saat itu.
Ketidakadilan yang dilakukan PSSI itu berlanjut musim ini. Bahkan dengan kebijakan yang lebih absurd berupa pelarangan kehadiran suporter tim tamu. Absurd, karena bagaimana Anda bisa mencegah orang yang membeli tiket masuk stadion, atau sebuah tim mengontrol pendukungnya yang menonton pertandingan sepak bola di kota lain? Selama mereka tidak melanggar hukum di Indonesia, siapa yang bisa mencegah begitu banyak manusia yang ingin menyaksikan pertandingan sepak bola?
Kebijakan ini sama absurdnya dengan keputusan melarang Aremania menonton di stadion selama dua tahun, setelah terjadinya kerusuhan di Stadion Brawijaya Kediri pada 2008. Faktanya Aremania masih bisa menyaksikan pertandingan dan mendukung Arema. Kanjuruhan masih dipenuhi ribuan orang. Namun PSSI menganggap sanksi sudah dilaksanakan karena Aremania datang tanpa mengenakan atribut kelompok.
Aremania dihukum tanpa terasa dihukum. Tak ada efek jera, karena setelah itu beberapa kali Aremania berulah di stadion.
Sanksi untuk Aremania saat itu juga tidak menyelesaikan persoalan ketidakpercayaan terhadap kinerja wasit. Kerusuhan Arema melawan Persiwa dipicu ketidakpuasan suporter terhadap pengadil di lapangan. Saya lupa bagaimana saat itu PSSI mengevaluasi wasit Djadjat Sudrajat. Semua mata lebih tertuju pada sanksi untuk suporter. Namun yang terang, hingga hari ini, PSSI masih gagal menyelesaikan problem kualitas wasit. Dengan kata lain: ada yang tidak menyelesaikan pekerjaan rumahnya selama bertahun-tahun.
Larangan suporter tim tamu datang ke stadion hanyalah kebijakan ‘menyapu debu ke dalam karpet’. Debu tidak dibersihkan. Persoalan tidak diselesaikan. Hanya disembunyikan agar tak muncul ke permukaan. Kebijakan seperti ini menunjukkan betapa PSSI tidak memahami anatomi persoalan sepak bola di Indonesia.
PSSI juga gagal memberlakukan standar pengamanan dan keamanan di kandang seluruh peserta Liga 1. Padahal ini kunci untuk mencegah kerusuhan dalam bentuk apapun terjadi di stadion.
Tidak semua kerusuhan diakibatkan permusuhan antarsuporter. Kerusuhan di Stadion Gelora BJ Habibie, Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada saat pertandingan PSM Makassar melawan Dewa United sama sekali tidak melibatkan suporter tim tamu. Namun bentrokan di Stadion Brawijaya, Kediri, yang mewarnai pertandingan Persik melawan Arema jelas melibatkan kelompok suporter tuan rumah dan Aremania.
Di luar dia kasus kerusuhan tersebut, ada sekian pertandingan yang berjalan aman kendati dihadiri ribuan penonton dan bahkan dihadiri pendukung tim tamu, seperti pertandingan PSIS melawan Persebaya di Semarang atau Persita melawan Persija di Tangerang. Dengan kata lain, kerusuhan dalam pertandingan adalah kasus minor dalam kompetisi Liga 1.
Semua pertandingan yang berjalan aman, terutama dengan kehadiran suporter tim tamu, seharusnya mendapat apresiasi selayaknya. Bukannya menjatuhkan denda kepada tim tamu dan tuan rumah, PSSI seharusnya mempelajari manajemen pengamanan semua pertandingan tersebut. PSSI harus mulai bertanya: mengapa sebuah pertandingan berjalan aman, sementara pertandingan lainnya rusuh. Ini bukan kebetulan belaka tentu saja.
Dalam hal ini, PSSI tertinggal jauh dari kelompok-kelompok suporter di Indonesia yang cepat belajar dari kesalahan. Proses sejumlah rekonsiliasi antarkelompok suporter dilakukan secara kultural tanpa intervensi negara. Mereka belajar dari kesalahan masa silam dan sepakat memperbaikinya bersama-sama. Tanpa perlu upacara seremonial. Yang dibutuhkan hanyalah respek, penghormatan terhadap warna yang berbeda. Perbedaan seharusnya tak mematikan.
Dengan melarang kehadiran suporter tim tamu di stadion, PSSI sebenarnya tengah menghambat proses kultural dan alamiah yang sedang berjalan di antara kelompok-kelompok suporter di Indonesia. Tak heran jika absurditas larangan itu memicu perlawanan. Sesuatu yang terang-benderang tak perlu dijelaskan.
Kita memahami kecemasan Erick Thohir tentu saja. Namun kecemasan seharusnya dikelola bersama agar menjadi lebih sehat dan beralih rupa menjadi kewaspadaan, bukan ketakutan. Ketakutan tidak menyelesaikan persoalan. Kewaspadaan membuat kita mencari opsi-opsi jalan keluar.
Dan itu bisa dilakukan jika PSSI mau memperlakukan fans klub-klub sepak bola benar-benar sebagai suporter. Pendukung sistem besar sepak bola Indonesia. Bukan customer. Konsumen tontonan sepak bola.
Selama ini regulasi yang diterbitkan PSSI lebih banyak memposisikan fans klub-klub sepak bola Indonesia sebagai konsumen pasif. Mereka mendapat sajian sepak bola sebagai komoditas tontonan, tanpa menjadikan para fans ini sebagai bagian dari terciptanya sistem sepak bola Indonesia yang sehat.
PSSI perlu memetakan persoalan sepak bola dari perspektif suporter. Beberapa kali suporter berhasil membuktikan bahwa cara pandang mereka tak keliru, sebagaimana yang pernah ditunjukkan Bonek saat memprotes jam pertandingan yang terlalu malam.
Nasihat klise yang tak pernah keliru: ajak mereka bicara tanpa terlalu banyak tetek-bengek seremonial. Mengabaikan kemungkinan berdialog dengan para suporter klub sepak bola sama saja membuka garis depan perlawanan. Seperti di Gelora Bung Tomo. [wir]






