Sorotan

Ekspektasi dan Revisi

Aga Suratno

Saya serujuk dengan pendapat Oryza A. Wirawan dalam artikel Sorotan berjudul Mewaspadai Ekspektasi Tinggi yang dimuat Beritajatim.com, Kamis (18/3/2021), tentang kewaspadaan terhadap ekspektasi bagi bupati terpilih hasil pilkada serentak 2020.

Untuk keperluan penjelasan, Oryza menyandingkan tiga kepala daerah dengan situasi berbeda. Wali Kota Surabaya, Bupati Banyuwangi dan Bupati Jember. Dua Bupati yang disebut pertama lahir dari harapan dan beban yang bisa dibilang sama. Keduanya mewarisi keberhasilan pendahulunya. Keduanya juga sama-sama dihadapkan pada harapan pemilih, yakni kesinambungan kisah sukses pendahulunya. Pada waku yang sama keduanya sama-sama menanggung nama besar pemimpin terdahulu.

Kabupaten Jember, Oryza benar, memang berbeda. Kepala Daerah di sini muncul dari harapan tertangani dan terselesaikannya tumpukan masalah yang diwariskan pemimpin sebelumnya. Kepala Daerah Jember diekspektasi sebagai antitesa rezim sebelumnya. Pada waktu yang sama warisan berupa tumpukan masalah itu merupakan beban bagi Kepala Daerah baru. berbeda dari Kepala Daerah Surabaya dan Banyuwangi, Kepala Daerah Jember harus membuat landas pacu sendiri agar bisa tancap gas seperti kedua sejawatnya.

Saya juga serujuk seratus persen dengan Oryza. Setinggi apapun ekspektasi masyarakat harus dijawab. Karena itu, Kepala Daerah Surabaya dan Banyuwangi tidak bisa melulu mengandalkan nama besar pendulunya. Kepala Daerah Jember tidak bisa mengelak dengan melempar kesalahan kepada Kepola Daerah sebelumnya. Ketiga Kepala Daerah itu dipilih untuk memimpin daerah masing-masing hari ini. Masyarakat berharap kehadiran pemimpin baru sebagai solusi. Bukan sebaliknya, malah menjadi dan memproduksi masalah baru.

Karena itu, yang pertama kali harus dilakukan barangkali berhenti menyampaikan pernayatan-pernyataan yang mengarah pada harapan. Sebab, musim kampanye sudah selesai. Tidak perlu permainan kata-kata, karena yang dibutuhkan adalah ketekunan kerja. Ekspektasi tim sukses mesti dikelola sedemikian rupa sehingga mereka tidaka menganggap kemenangan dalam pilkada adalah waktu untuk berbagi konsesi yang dalam bahasa Oryza disebut pampasan perang. Pendapat Oryza yang ini pun saya serujuk dan sepakat seratus persen.

Saya hanya ingin menambal sulam. Pertama, tentang ekspektasi. Ekspektasi adalah energi. Energi yang mendorong orang menentukan sikap dan pilihan. Ekspektasi masyarakat juga energi bagi pemimpin. Energi yang mendorong pemimpin berikhtiar keras memenuhi ekspektasi itu.

Ekspektasi juga penting untuk mengukur keberhasilan pemimpin. Ketika masyarakat menganggap pemimpin yang dulu dipilihnya tidak bisa memenuhinya, maka mereka akan merevisi pilihan pada pilkada berikutnya.

Kedua, tentang pernyataan. Dalam beberapa hal pernyataan berbau harapan terasa tidak relevan. Tetapi dalam beberapa hal yang lain pernyataan berbau harapan tetap diperlukan. Harapan atau ekspektasi, sekali lagi, adalah energi yang mendorong siapa saja untuk meraih dan kemudian sampai pada apa yang diharapkan.

Yang dibutuhkan adalah pernyataan atau penjelasan yang bisa diterima nalar. Penjelasan yang rasional. Penjelasan yang tidak membius dan menina bobokan warga. Muaranya memang action. Ujungnya memang kerja. Tetapi, ini kalau boleh meminjam ungkapan Gubernur DKI Anies Baswedan, tanpa narasi “you go nowhere”.

Maka, biarlah ekspektasi, pernyataan (narasi) dan kerja (action) berjalan beriringan. Seperti kata Oryza, ekspektasi adalah sintesa. Kehadiran pemimpin baru adalah antitesa. Kondisi obyektif sebelum kehadiran pemimpin baru adalah tesa. Bagi pemimpin baru, ekspektasi warga, mau tidak mau dan suka tidak suka, adalah instrumen bagi warga untuk merevisi dan mengoreksi sikap dan pilihan. Akhirnya, mata rantai “tesa-antitesa-sintesa” memang proses yang sepertinya tak kenal henti. [kun]

Penulis adalah jurnalis radio dan penasihat PWI Jember



Apa Reaksi Anda?

Komentar