Sorotan

Mewaspadai Ekspektasi Tinggi

Sistem demokrasi menyediakan pemilu sebagai instrumen untuk mengoreksi pilihan dan merevisi harapan setiap lima tahun sekali. Kepala daerah lama terpilih kembali, kepala daerah baru muncul, dipantik oleh harapan dan kerinduan terhadap sosok pemimpin yang ideal: yang membawa kantong ajaib seperti Doraemon untuk mengabulkan semua keinginan.

Masalahnya: pemimpin seperti itu tidak ada. Ekspektasi tinggi terhadap seorang kepala daerah berpotensi untuk berbalik menjadi kekecewaaan mendalam, saat janji kampanye tak terpenuhi. Semua kepala daerah baru menghadapinya tentu saja. Namun tiga kepala daerah baru di Surabaya, Banyuwangi, dan Jember menghadapi tantangan yang berbeda dengan dosis ekspektasi yang lebih tinggi dibandingkan pemimpin baru di daerah lain.

Eri Cahyadi di Surabaya terpilih dengan beban predikat sebagai putra mahkota Wali Kota Tri Rismaharini. Predikat ini melekat, terutama karena selama masa kampanye, Risma terang-terangan ikut memberikan dukungan. Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Surabaya Muhammad Agil Akbar menyebut Risma berkampanye 21 kali untuk pasangan Eri Cahyadi-Armuji saat pilkada kemarin.

Risma juga menulis surat untuk rakyat Surabaya dengan menggaransi Eri sebagai penerusnya yang pantas. “Eri-Armuji akan meneruskan pembangunan Surabaya yang lebih baik lagi. Pembangunan yang membuka kesempatan bekerja, berkeadilan, dan menyejahterakan rakyat.”

Eri terpilih dengan dukungan 597.540 suara warga Surabaya. “Pembangunan akan kami lakukan untuk sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat, dilaksanakan dengan gotong royong yang menjadi modal besar dalam membangun Kota Surabaya yang kita cintai ini,” kata Eri, sebagaimana dilansir beritajatim.com, Senin (15/3/2021).

Eri menghadapi tantangan untuk meyakinkan warga Surabaya yang, menurut survei Saiful Mujani Research Center, mayoritas puas dengan kinerja Risma selama dua periode. Angkanya tidak main-main: 97 persen. Sekitar 59 persen menyatakan sangat puas dan 38 persen menyatakan cukup puas. “Ini saya kira salah satu yang tertinggi di berbagai daerah, sangat tinggi,” kata Direktur Riset SMRC Deni Irvani, sebagaimana dilansir kumparan.com, 22 November 2020.

Risma menciptakan patokan nyaris sempurna untuk Eri. Dengan persentase tingkat kepuasan setinggi itu, Risma boleh dibilang menjadi salah satu legenda pemimpin Surabaya dua periode selain Poernomo Kasidi.

Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi juga menghadapi ekspektasi yang sama tingginya dengan Eri. Keberhasilan bupati dua periode yang digantikannya, Abdullah Azwar Anas, dalam mengubah predikat Banyuwangi dari ‘Kota Santet’ menjadi ‘Kota Internet’ menjadi beban tersendiri bagi Ipuk. Apalagi berbeda dengan Eri yang menang dengan selisih suara cukup besar dalam pilkada, kemenangan Ipuk atas Yusuf Widyatmoko relatif tipis, yakni 4,8 persen.

Persaingan ketat dengan Yusuf dalam pilkada menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Banyuwangi masih belum terlalu yakin dengan kemampuan Ipuk. Di lain pihak, kemenangan itu juga menunjukkan masih adanya ekspektasi tinggi di kalangan masyarakat yang berharap sang suami, Abdullah Azwar Anas, akan banyak membantunya untuk menjaga kesinambungan pembangunan di Banyuwangi.

“Saya sudah melihat apa yang Bapak (Anas) kerjakan. Beliau juga mentor pribadi saya. Beliau banyak memberikan masukan kepada saya,” kata Ipuk sebagaimana dilansir jawapos.com, 12 Agustus 2020. Namun predikat sebagai istri Anas bisa berbalik menjadi beban berat untuk dipikul, jika performa kepemimpinan Ipuk berada di bawah standar yang diciptakan oleh suaminya sendiri. Anas pun bisa kena imbasnya jika kepemimpinan Ipuk tak setinggi harapan banyak orang atau jauh lebih buruk.

Dalam kondisi yang agak berbeda, ekspektasi tinggi masyarakat juga dihadapi Hendy Siswanto yang terpilih menjadi bupati Jember. Jika Eri dan Ipuk ditantang untuk mempertahankan prestasi yang diciptakan pendahulu mereka, Hendy harus memperbaiki banyak persoalan yang diwariskan bupati sebelumnya. Merahnya rapor kepemimpinan Faida menjadi salah satu faktor kemenangan Hendy. Masyarakat berharap Hendy bisa menjadi antitesis Faida.

Diwarisi kondisi pemerintahan zonder APBD, penataan birokrasi yang tak kelar dan bermasalah, kerusakan infrastruktur jalan yang mencapai seribu kilometer, hingga tingginya angka kemiskinan, gizi buruk, serta kematian ibu dan bayi, beban tugas Hendy jauh lebih berat daripada Eri dan Ipuk. Eri dan Ipuk menghadapi ekspektasi tinggi masyarakat yang dipantik keberhasilan. Hendy bekerja untuk menangani kegagalan.

Maka, saat Eri dan Ipuk sudah bisa langsung tancap gas karena pemimpin sebelumnya sudah menyediakan landasan pacu yang mulus, Hendy masih harus menyiapkan landasan pacunya sendiri. Keinginan untuk tancap gas tidak berbanding lurus dengan kondisi birokrasi yang terdemotivasi selama lima tahun dan situasi ketiadaan anggaran.

Tak heran, jika Eri dan Ipuk bisa bicara banyak soal target 100 hari kerja, Hendy memilih untuk tak menjawab pertanyaan itu. Banyaknya persoalan yang dihadapi membuatnya punya pertanyaan sendiri: harus memulai dari mana dan memprioritaskan apa.

Apapun itu, ekspektasi tinggi masyarakat harus dijawab. Eri dan Ipuk tak hanya bisa bersandar pada sukses dan karisma pemimpin pendahulunya. Hendy tak bisa hanya selalu melemparkan kesalahan kepada bupati sebelumnya. Mereka dipilih untuk memimpin daerah masing-masing hari ini, bukan kemarin. Orang berharap pemimpin baru menjadi solusi, bukan problem baru.

Hal pertama yang mungkin harus dilakukan adalah berhenti memberikan pernyataan-pernyataan berbau harapan. Musim kampanye sudah usai. Mereka tak perlu lagi berjanji, namun memberi bukti. Tak perlu lagi ada permainan kata-kata, karena yang dibutuhkan adalah ketekunan kerja.

Mereka juga harus memanajemen ekspektasi tinggi di kalangan tim sukses atau keluarga sendiri, yang masih menganggap kemenangan dalam pilkada adalah saat untuk berbagi pampasang perang. Pendukung yang masih dilanda euforia bisa menghambat kinerja para pemimpin baru kota itu. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar