Surabaya (beritajatim.com) – Film horor terbaru asal Indonesia berjudul Sorop telah sukses mencuri perhatian publik sejak pertama kali dirilis secara resmi di bioskop pada tanggal 19 Desember 2024.
Tidak membutuhkan waktu lama, karya garapan sutradara ternama Upi Avianto ini akhirnya berhasil meraih pencapaian luar biasa dengan menduduki peringkat teratas sebagai film horor paling populer di platform layanan streaming digital Netflix, terhitung sejak awal bulan Mei 2025.
Capaian ini menunjukkan antusiasme penonton yang tinggi terhadap film horor lokal yang menyuguhkan nuansa berbeda.
Alur cerita Sorop berfokus pada kehidupan dua orang saudara kandung bernama Hanif (yang diperankan oleh aktris Hana Malasan) dan Isti (diperankan oleh aktor senior Egy Fedly), yang harus kembali ke rumah masa kecil mereka yang terletak di sebuah desa terpencil.
Kepulangan mereka dipicu oleh kabar mendesak tentang kondisi kritis Pakde Khair, seorang kerabat dekat yang telah mengasuh mereka. Namun, setibanya di rumah tersebut, mereka justru menyaksikan sendiri kematian Pakde Khair yang terjadi secara misterius dan penuh tanda tanya, seolah menjadi awal dari kejadian-kejadian ganjil yang mereka alami.
Ketegangan mulai memuncak ketika keduanya menyadari bahwa rumah warisan keluarga itu ternyata menyimpan kekuatan tak kasat mata yang penuh misteri dan tidak bisa dijelaskan secara logika. Mereka perlahan-lahan terseret ke dalam teror yang muncul menjelang waktu magrib, waktu yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai sorop, yaitu saat dipercaya bahwa makhluk halus dan energi supranatural mulai berkeliaran di alam manusia. Kengerian yang muncul dalam waktu-waktu senja inilah yang menjadi benang merah dalam perkembangan cerita yang semakin mencekam.
Selain menyuguhkan elemen horor yang menyeramkan, film ini juga memperkenalkan tradisi ritual kuno bernama puasa sorop, yang menjadi bagian penting dalam alur narasi. Ritual ini dilakukan dengan cara yang ekstrem dan penuh simbolisme, yakni memakan tanah kuburan guna memanggil roh orang yang telah meninggal dunia. Keberadaan ritual tersebut menjadi latar budaya yang memperkaya cerita, sekaligus mempertegas nuansa mistis yang membalut keseluruhan film.
Atmosfer kengerian yang dibangun secara bertahap, dipadukan dengan misteri yang mengikat dan penggambaran budaya lokal yang kental, menjadikan Sorop sebuah tontonan horor yang berhasil menggugah rasa penasaran dan adrenalin para penikmat genre serupa.
Namun demikian, sejumlah penonton dan kritikus mencatat bahwa film ini memiliki beberapa kelemahan, seperti penggunaan jumpscare yang terlalu sering dan pencahayaan yang minim dalam banyak adegan, yang secara teknis dapat mengurangi kenyamanan saat menyaksikannya. [aje]






