Ponorogo (beritajatim.com) – Solusi cepat diputuskan untuk mengurai masalah jembatan darurat rusak di jalan yang menghubungkan Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, dengan Desa Wates, Kecamatan Jenangan. Di tengah penantian jembatan permanen, opsi jembatan darurat berbahan baja WF (wide flange) kini mengemuka sebagai solusi paling realistis dan cepat.
Hal itu diungkapkan oleh Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita bersama anggota DPRD Jawa Timur Dapil 9, Miseri Effendi dan Atika Banowati. Mereka meninjau langsung kondisi jembatan darurat yang nyaris putus tersebut. Peninjauan lapangan itu menegaskan satu hal, yakni masyarakat tidak bisa terus menunggu proses anggaran yang memakan waktu panjang.
“Kita buatkan jembatan darurat yang lebih aman, agar aktivitas warga tidak terganggu. Sembari kita sounding anggaran jembatan permanen ke provinsi,” kata Lisdyarita, Selasa (20/1/2026).
Lisdyarita menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo tengah menjajaki dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui skema Bantuan Tidak Terduga (BTT). Skema ini dinilai memungkinkan untuk percepatan penanganan, tanpa harus menunggu siklus anggaran reguler.
“Rencananya Pemkab Ponorogo bersama anggota DPRD Provinsi Jatim dari Dapil 9 mau membahas pembangunan ulang jembatan permanen melalui dana BTT Provinsi,” ungkap Lisdyarita.
Secara teknis, jembatan darurat yang dimaksud mengarah pada penggunaan rangka baja WF atau bordes dengan bentang sekitar 25 hingga 30 meter. Konstruksi ini lazim digunakan sebagai solusi sementara karena pemasangannya relatif cepat, kokoh, dan dapat difokuskan untuk kendaraan roda dua serta pejalan kaki. Dengan spesifikasi tersebut, risiko kecelakaan bisa ditekan sekaligus memulihkan akses vital antarwilayah.
Di sisi lain, DPRD Provinsi Jawa Timur menekankan pentingnya kesiapan dokumen teknis untuk pembangunan jembatan permanen. Anggota Komisi D DPRD Jatim, Miseri Effendi, menyebut Pemkab Ponorogo telah diminta segera menuntaskan Detail Engineering Design (DED) sebagai syarat utama pengajuan anggaran ke Gubernur Jawa Timur. “Maksimal tiga minggu DED jadi, kita ajukan ke Ibu Gubernur, kita jadwalkan juga untuk membahas ini,” imbuhnya.
Soal anggaran, jembatan permanen diperkirakan membutuhkan biaya tidak kecil. Nilai sekitar Rp4 miliar disebut sebagai angka usulan awal yang akan disertai kajian teknis lengkap. “Kita usulkan Rp4 miliar, kalau disetujui paling lambat pertengahan tahun bisa mulai pengerjaan dan tahun 2026 bisa selesai,” pungkas Miseri. (end/kun)






