Jakarta (beritajatim.com) – Partai Golkar dinilai memiliki peran penting dan signifikan di Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Termasuk dalam proses penentuan pasangan capres-cawapres.
“Golkar mempunyai 85 kursi di DPR yang membuatnya sebagai partai terbesar kedua di parlemen dan terbesar di KIB,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin, Rabu (1/3/2023).
Dia memaparkan, jika dibandingkan dengan anggota koalisi lain, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) perolehan kursi Golkar jauh lebih besar. “Itu membuat nilai tawar Golkar tinggi dalam konteks menentukan capres-cawapres,” kata Ujang.
Baca Juga: Golkar Perlu Terus Usung Airlangga Hartarto Jadi Capres
Mski Golkar punya posisi strategis untuk bisa menentukan arah dukungan dan kesolidan koalisi, Ujang berpendapat, penentuan capres-cawapres di KIB masih harus menunggu arahan dari Presiden Joko Widodo.
“Tapi yang menjadi kendala bagi Golkar adalah bagaimana pun ketumnya sudah mengatakan soal pencapresan menunggu restu Pak Jokowi,” ujarnya.
Hal itu membuat Golkar berada pada situasi dilematis. “Itu sebenarnya yang menjadi ruwet dan rumit. Di satu sisi, Golkar sebagai partai besar dan menentukan. Di saat yang sama, soal capres-cawapres menunggu arahan Pak Jokowi,” kata dosen Universitas Al Azhar Indonesia itu.
Baca Juga: Golkar di Peringkat 3 Survei ARCI, Arif Fathoni: Potret Realitas Hari Ini
Untuk itu, Ujang menyarankan agar ada upaya pemaduan antara kekuatan Golkar dan kehendak Jokowi agar KIB bisa segera mengambil keputusan terkait penentuan capres-cawapres.
“Saya melihat itu harus dikompromikan antara peran besar Golkar di KIB dan kehendak Pak Jokowi,” katanya. [hen/beq]






