Surabaya (beritajatim.com) – SMA Muhammadiyah 10 Surabaya mengenalkan layanan pendidikan inklusif bagi siswa penyandang difabel. Fasilitas tersebut bernama Griya Layanan Disabilitas dan Pusat Studi (GLDPS) SMAMX.
GLDPS SMAMX akan melayani pelatihan terapi bagi anak difabel. Layanan ini diharapkan dapat menjadi jujugan baru bagi orangtua yang memiliki anak berhambatan tumbuh kembang.
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir yang meresmikan secara langsung fasilitas tersebut mengatakan, GLDPS menjadi terobosan dan cakrawala baru. Layanan ini menunjukkan pendidikan Muhammadiyah terbuka untuk anak-anak disabilitas.
Sebelum GLDPS didirikan, kata Haedar, fasilitas serupa juga pernah dibuka di Yogyakarta namun tak bertahan lama. Kemudian, SMAMX yang menjadi pendidikan inklusi memulai terobosan layanan ini kembali.
“Dengan sarana lengkap termasuk terapi dan sebagainya ini merupakan langkah yang penting bagi masyarakat luas, karena akan memberikan gambaran pada masyarakat luas,” ujar Haedar, Selasa (25/10/2022).
Haedar mengungkapkan melalui fasilitas ini akan dapat mengubah cara pandang yang menyatakan anak difabel, sama dengan anak normal. Mereka punya kelebihan di samping kekurangan.
Ia pun berharap fasilitas GLDPS ini dapat menjadi role mode bagi sekolah lain, dalam melengkapi fasilitas bagi penyandang disabilitas.
“Biasanya (persyarikatan) Muhammadiyah ada model (pilot project) , setelah model akan ada copy paste atau memperluas institusi inklusi. Karena kita tidak ingin model ini lagsung banyak. Jadi jika berhasil, ini akan menjadi contoh bagi sekolah lain untuk mendirikan fasilitas yang sama,” ujarnya.
Sedangkan Kepala SMAMX Sudarosman mengungkapkan, bahwa selama ini banyak lembaga pendidikan inklusi yang fokus pada pengembangan minat dan bakat siswa inklusi. Tetapi tidak pada penyembuhan. Di SMAMX sendiri, kata dia, ada sebanyak 81 siswa difabel.
“Maka dari itu kami tertarik mendirikan (GLDPS), di samping mengembangkan minat dan bakat inklusi, kita ada penyembuhan dan pusat studi. Agak fokus untuk menganalisis beberapa hal yang dialami siswa disabilitas,” terangnya.
Operasional layanan GLDPS ini sendiri baru akan dibuka pada 1 Nopember 2022 mendatang. Fasilitas ini tidak hanya akan diperuntukkan bagi siswa inklusi saja, namun juga masyarakat luas.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Muhammadiyah”]
Perlu diketahui, saat ini GLDPS memiliki 6 terapis untuk masing-masing kategori difabel. Di antaranya Sensor integrasi 1 untuk layanan anak hyperaktif (high tone), sensor integrasi 2 (low tone) untuk slow learner. Layanan terapi wicara untuk tuna wicara, layanan fisioterapi untuk celebral palsy. Terapi perilaku untuk siswa kecanduan gadget, diseleksia, dan ADHD.
Kemudian layanan bina diri bagi difabel yang belum bisa mengurus diri seperti cuci baju. Terakhir layanan Auditory Verbal untuk tuna rungu. “Jadi akan dilakukan assesmen awal, kemudian di tempatkan di masing-masing layanan,” paparnya.
Sementara masing-masing layanan, lanjut dia, dilengkapi dengan berbagai media bermain untuk mendukung emosional siswa difabel, sehingga mereka bisa mengekspresikan diri.
Lebih lanjut, Sudarosman menyebut bahwa ada 4 kategori bagi siswa inklusi SMAMX. Cluster 1 difabel yang bisa digabungkan dengan reguler, hanya saja kemampuannya terbatas. Cluster 2 dapat bergabung dengan siswa reguler namun butuh bantuan shadow teacher. Cluster 3 butuh terapi yang dalam posisi, bermain berenang, nyanyi. Terakhir, tetapi cluster 4 yang belum mengenali dirinya.
“Ada perubahan perilaku ini yang butuh terapi secara fisik dengan peralatan kita. Ada penyiapan asupan gizi yang menyebabkan mereka terpengaruh,” tandasnya. [ipl/beq]






