RINGKASAN BERITA:
- Kuota skema murur ditetapkan sebanyak 60.000 jemaah rentan ditambah 19.200 jemaah mandatory dari zona 5.
- Jemaah zona 5 Mina diwajibkan tanazul atau kembali menginap di hotel pemondokan Makkah guna mengurai kepadatan tenda.
- Pemerintah Arab Saudi melarang keras adanya mobilisasi jemaah dari hotel ke area Mina selama hari tasyrik.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi memberlakukan skema pergerakan murur dan tanazul secara masif pada fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Strategi mobilisasi mutakhir ini diaktifkan sebagai langkah proteksi mutlak demi menjamin keselamatan jiwa jemaah haji reguler yang masuk dalam kategori rentan.
Secara teknis, murur merupakan skema di mana jemaah hanya melintas di Muzdalifah di dalam bus tanpa turun ke hamparan tanah terbuka saat bergerak dari Arafah menuju Mina. Langkah ini memotong rute konvensional yang mengharuskan jemaah turun untuk bermalam sejenak (mabit) hingga melewati tengah malam.
Sementara tanazul adalah skema khusus di mana jemaah tidak menginap di tenda Mina pada hari tasyrik, melainkan dikembalikan ke hotel pemondokan mereka di Makkah.
“Skema murur dijalankan untuk melindungi jamaah haji Indonesia, karena kondisi di Muzdalifah tidak memungkinkan seluruh jamaah turun di sana,” kata Kepala Seksi Pembimbing Ibadah (Bimbad) PPIH Daker Makkah Erti Herlina, kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Ahad (24/5/2026).
Erti merinci bahwa fasilitas murur ini diprioritaskan bagi jemaah lanjut usia (lansia), jemaah dengan risiko kesehatan tinggi (risti), penyandang disabilitas, jemaah dengan kondisi obesitas berat, serta para petugas pendamping mereka. Berdasarkan basis data interaktif PPIH, grafik jemaah yang terjaring masuk ke dalam protokol penyelamatan ini mencapai puluhan ribu jiwa.
“Kita data, dapat kuota sekitar 60 ribu ditambah 20 ribu zona 5 yang mandatory murur,” ungkap Erti.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pergerakan armada bus untuk mengangkut rombongan murur ini dijadwalkan bergerak cepat mulai pukul 19.00 hingga 23.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Rekayasa lalu lintas maktab telah dikunci rapat oleh linmas Kemenhaj guna mencegah bus terjebak macet total.
Bagi kelompok jemaah yang masuk dalam kategori mandatory (wajib) murur, yakni seluruh kloter yang menempati zona 5, jadwal keberangkatan dari Arafah akan digeser lebih akhir atau menjelang tengah malam. Kebijakan ini disesuaikan dengan posisi geografis dan daya tampung maktab asal.
“Yang murur mandatory adalah jamaah di zona 5. Seluruh kloter di zona 5 akan murur dan tanazul dengan jumlah 19.200 orang,” tuturnya.
Erti memaparkan, rombongan jemaah zona 5 ini akan diarahkan untuk mabit terlebih dahulu di Mina, baru kemudian didorong menuju hotel di Makkah untuk menjalani prosesi tanazul. Penerapan tanazul berbasis kloter di zona 5 Mina ini wajib diajukan izinnya secara resmi kepada otoritas Arab Saudi jauh-jauh hari.
“Yang disetujui 20 ribu jamaah. Zona 5 akan dikembalikan ke hotel malam hari tanggal 10,” kata Erti menjelaskan.
Untuk menyiasati kewajiban melontar jumrah bagi kloter yang menjalani tanazul, Kemenhaj menerapkan sistem delegasi. Para petugas pembadal yang bertugas melontar jumrah aqabah serta jumrah di hari tasyrik tidak ikut pulang ke hotel, melainkan tetap menetap di tenda darurat zona 3 dan zona 4 Mina.
Pemberlakuan tanazul massal secara kaku per kloter ini mutlak dilakukan karena regulasi ketat dari pemerintah Arab Saudi yang menutup total akses pergerakan transportasi dari hotel kota menuju Mina selama hari tasyrik bergulir. “Karena pemerintah Arab Saudi tidak mengizinkan adanya pergerakan dari hotel ke Mina selama hari tasyrik,” pungkas Erti. [ian/MCH]






