Bojonegoro (beritajatim.com) – Di tengah gemuruh pembangunan dan anggaran daerah yang terus meningkat, kisah miris datang dari Dusun Koripan, Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo.
Puluhan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di wilayah terpencil itu masih harus belajar di sebuah bangunan darurat yang oleh warga digambarkan mirip kandang hewan.
Bangunan sederhana itu berdinding papan kayu, berlantai tanah, dan jauh dari standar ruang kelas layak. Foto-fotonya beredar luas di media sosial, memunculkan keprihatinan publik atas akses pendidikan dasar di Bojonegoro.
Kepala Desa Napis, Mulyono, membenarkan bahwa ruang belajar tersebut baru berdiri sekitar lima bulan lalu. Pembangunannya dilakukan secara swadaya oleh warga, karena sebelumnya anak-anak di dusun itu hanya bisa menumpang belajar di rumah warga.
“Gedung yang viral itu benar hasil gotong-royong warga. Bahkan beberapa material seperti pintu berasal dari rumah saya sendiri,” ujar Mulyono.
Menurutnya, pembangunan sekolah darurat ini dilakukan karena akses menuju SDN Napis yang berjarak dua kilometer sangat sulit dilalui. Saat musim hujan, wilayah itu sering terputus akibat luapan sungai. Satu-satunya jalan menuju sekolah harus melintasi sungai tanpa jembatan, sehingga siswa kerap absen ketika debit air meningkat.
Kini, ada 35 siswa yang menempuh pendidikan di bangunan darurat tersebut. Mereka tersebar di berbagai jenjang, mulai dari 18 siswa kelas 1, lima siswa kelas 2, enam siswa kelas 4, hingga enam siswa kelas 5. Sementara kelas 3 dan kelas 6 belum memiliki murid.
Madrasah ini berada di bawah lembaga pendidikan berbasis keagamaan yang ada di Desa Napis. Meski kewenangannya berada pada Kementerian Agama, warga berharap pemerintah daerah ikut memberikan perhatian, mengingat kondisi sarana pendidikan anak-anak mereka sangat memprihatinkan.
Situasi ini terasa semakin kontras bila melihat kemampuan fiskal Kabupaten Bojonegoro. Pada tahun anggaran 2025, daerah ini memiliki APBD mencapai Rp8,7 triliun dengan SiLPA sekitar Rp2 triliun. Di tengah besarnya anggaran tersebut, harapan sederhana warga Dusun Koripan sebenarnya hanya satu: anak-anak mereka bisa belajar di ruang kelas yang lebih layak dan aman. [lus/ted]






