Surabaya (beritajatim.com) – Film animasi “Merah Putih One For All” tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Disutradarai oleh Toto Soegriwo dan diproduksi oleh Perfiki Kreasindo dengan dukungan dari Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, film ini diklaim sebagai animasi anak-anak Indonesia pertama yang secara eksplisit mengangkat tema kebangsaan dan persatuan.
Poster resmi film yang memperlihatkan delapan tokoh anak-anak dari berbagai daerah dengan latar belakang bendera Merah Putih yang berkibar, menandai kampanye promosi film ini. Namun, alih-alih mendapat sambutan positif, kehadirannya justru memicu kontroversi di dunia maya.
Setelah trailer resmi dirilis di berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok, publik langsung menyoroti kualitas visual animasinya. Banyak warganet menganggap desain karakter dan animasinya terlihat usang, tidak sebanding dengan standar industri animasi saat ini yang lebih halus dan detail. Sebagian menyayangkan kurangnya sentuhan modern, yang membuat film ini dinilai belum mampu bersaing dengan karya animasi anak-anak dari luar negeri.
Meski demikian, sebagian netizen tetap mengapresiasi semangat nasionalisme dan pesan positif yang ingin disampaikan. Film ini menjadi bukti adanya upaya dari sineas lokal untuk memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda melalui medium yang menyenangkan dan edukatif.
Sinopsis Film Merah Putih One For All
Cerita dalam film “Merah Putih One For All” berpusat pada sekelompok anak-anak dari delapan daerah berbeda di Indonesia: Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan keturunan Tionghoa. Mereka tergabung dalam “Tim Merah Putih”, sebuah kelompok yang diberi tanggung jawab istimewa untuk menjaga Bendera Pusaka yang akan dikibarkan pada Hari Kemerdekaan, 17 Agustus.
Namun, menjelang hari bersejarah tersebut, bendera pusaka mendadak hilang. Tanpa ragu, kedelapan anak itu bersatu demi satu tujuan: menemukan kembali bendera kebanggaan Indonesia. Dalam pencariannya, mereka menghadapi berbagai tantangan seperti hutan lebat, sungai deras, badai hebat, dan yang tak kalah penting, perbedaan karakter dan latar budaya mereka sendiri.
Kisah ini menjadi refleksi dari semangat Bhinneka Tunggal Ika. Melalui keberanian, kerja sama, dan rasa cinta tanah air, mereka membuktikan bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan utama untuk mencapai tujuan bersama. (fyi/ian)





