Malang (beritajatim.com) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara (ABM) terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Kampoeng Heritage Kajoetangan, Kota Malang. Melalui program pengabdian masyarakat, tim dosen STIE ABM mengadakan pelatihan Bahasa Inggris dasar untuk membantu UMKM lebih siap berinteraksi dengan wisatawan mancanegara.
Program ini dipimpin oleh Dr. Setyawan selaku ketua pengabdian, dengan tim pelaksana yang terdiri dari Dr. Nunung Nurastuti, Dra. Triana Murtiningtyas, MM, Dr. Kadarusman, dan Imama Zuchroh, B.Sc., M.Com.
Imama Zuchroh, anggota tim pengabdian masyarakat ke Kampoeng Kajoetangan, menjelaskan bahwa pelatihan ini lahir dari kebutuhan riil UMKM di lapangan. Para pelaku UMKM diketahui masih merasa takut dan kurang percaya diri ketika harus berkomunikasi dengan turis asing, terutama dalam menggunakan bahasa Inggris.
“Beberapa waktu lalu kami ngobrol dengan para pengurus UMKM, mereka mengaku sering menghindar saat bertemu turis bule karena takut bicara bahasa Inggris. Dari situ muncul ide ‘Ketemu Bule Siapa Takut’. Kami ingin membekali mereka agar berani menyapa, memperkenalkan diri, serta menawarkan produk dalam bahasa Inggris,” ujar Imama, kepada media Rabu (18/6/2025).
Pelatihan ini merupakan tahap pertama dari pendampingan berkelanjutan yang disiapkan oleh STIE ABM. Apabila response peserta positif, pelatihan akan dilanjutkan hingga dua atau tiga sesi berikutnya. Fokus utama saat ini adalah penguasaan dasar, mulai dari sapaan, memperkenalkan produk, hingga teknik penawaran sederhana.
Sebanyak 22 pelaku UMKM mengikuti pelatihan ini. Jumlah tersebut sedikit berkurang dari biasanya yang mencapai 35 orang, karena berbarengan dengan agenda lain di kawasan tersebut.
Kampung Heritage Kajoetangan saat ini memang tidak hanya menjadi tempat tumbuhnya UMKM, tetapi juga telah dilirik oleh berbagai brand besar. Meski demikian, pelatihan ini tidak bertujuan untuk menempatkan UMKM dalam posisi bersaing langsung.
“Kita sadar betul posisi UMKM berbeda. Mereka baru memulai, modal kecil, bahkan banyak yang home industry. Bersaing dengan brand besar saat ini belum mungkin. Tapi wisatawan datang ke sini bukan mencari brand besar, mereka mencari pengalaman dan produk lokal yang otentik,” jelas Imama.
Ia menambahkan bahwa keunikan produk lokal seperti jamu, gorengan, lalapan, hingga makanan tradisional khas seperti on bikuk, kue warisan Belanda, masih terus dikembangkan oleh UMKM setempat. Bahkan, pelatihan sebelumnya menghasilkan resep dan metode produksi kue tersebut yang kini dijadikan produk unggulan UMKM dan dijual dengan sistem pre-order.

“Mereka belum seperti toko besar yang ready stock setiap saat. Tapi mereka sudah punya situs dan sistem pemesanan yang terus dikembangkan. Keberanian untuk memulai dan terus berjalan selama bertahun-tahun patut disyukuri,” tambahnya.
UMKM di Kajoetangan juga mulai menyesuaikan diri dengan tren kekinian. Kini, sejumlah kafe lokal bermunculan, namun tetap mempertahankan karakter tradisional dalam menu dan suasananya.
“Kita tidak bisa membandingkan secara langsung UMKM dengan brand besar. Mereka tumbuh dari nol, dengan sumber daya terbatas, tapi tetap konsisten menjaga identitas lokal. Itulah nilai lebih mereka.”
Program pengabdian masyarakat ini menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi oleh STIE Malangkuçeçwara. Dengan penguatan kapasitas berbahasa asing, para pelaku UMKM diharapkan semakin percaya diri dalam memasarkan produk mereka kepada wisatawan asing yang terus meningkat di kawasan heritage ini. [dan/aje]






