Manchester (beritajatim.com) – Pencinta sepak bola punya rutinitas mingguan (atau bahkan harian) untuk menghujat Manchester United. Kegagalan di Piala FA dini hari tadi membuat itu semakin menjadi-jadi. United hanya butuh tersingkir di Liga Europa agar kembali ke setelan pabrik; nirgelar. Sebelumnya, mereka out untuk Premier League dan Piala Liga. Padahal, dalam dua musim terakhir mereka sukses memenangi satu trofi meski kerap disebut piala ciki.
Performa di lapangan memang jadi menu utama untuk menghina United. Tetapi, ada lini lain untuk musim ini yang dipakai untuk membuat pendukung United semakin geregetan.
Kita berbicara tentang pemain United yang dipinjamkan ke klub lain sejak bursa transfer musim dingin Januari lalu. Sebut saja Antony dan Marcus Rashford. Sialnya lagi, mereka kompak moncer.
Antony di Real Betis mengemas 3 gol dan 2 assist dari 7 laga. Sedangkan Rashford membukukan 3 assist dari 6 laga bersama Aston Villa. Statistik yang sangat mungkin bakal lebih impresif jika mereka memutuskan out sejak awal musim.
Mereka punya kesamaan sebelum dipinjamkan: sama-sama dicap pesakitan. Rashford yang sempat meledak dengan 30 gol dan 9 assist dari 56 laga dua musim lalu, mendadak performanya terjun bebas di 1,5 musim terakhir. Dia hanya mencetak 15 gol dan 8 assist dalam 67 laga.
Bagaimana Antony? Dia sudah sejak awal dicap sebagai pembelian gagal. Ongkos GBP 82 juta (Rp 1,6 triliun) yang dikeluarkan United untuk menebusnya dari AFC Ajax dua musim lalu terasa seperti investasi bodong lantaran dia hanya sanggup mencetak 12 gol dan 5 assist dari 96 laga.
“Ketika Anda berlaga di Premier League, ketahanan fisik jadi faktor utama (untuk tampil bagus, Red)” papar tactician United Ruben Amorim tentang Antony. Secara implisit dia mengatakan bahwa fisik Antony kurang memenuhi syarat main di Premier League.
Pernyataan tersebut tentu kontradiksi dengan yang terjadi kepada Rashford. Dia masih di Premier League dan bisa lebih baik daripada bersama United. Artinya, mental bertanding atau atmosfer ruang ganti United yang jadi handicap utama.
Pernyataan Jadon Sancho sekitar dua pekan lalu bisa jadi petunjuk bahwa ruang ganti United adalah masalah utama. Winger yang juga dipinjamkan United itu mengomentari unggahan Rashford di Instagram. “Kebebasan”. Begitu ketika Sancho dan mendapat 52.313 like.
Dari Sancho Rashford dan Antony harus memetik pelajaran bahwa jangan pernah kembali ke Old Trafford ketika masa peminjaman habis. Meski tidak ada opsi permanen di klausul peminjaman, sebisa mungkin Betis dan Villa harus menyelamatkan karier mereka agar bisa terus menikmati kontribusi positif.
Sancho pernah merasakannya musim lalu. Dia dipinjamkan ke Borussia Dortmund pada paro musim dan mencetak 3 gol 2 assist dari 21 laga. Dia juga sukses membawa BVB ke final Liga Champions. Tetapi, dia akhirnya memilih kembali ke United. Yang terjadi kemudian bisa ditebak. Sancho harus kembali dipinjamkan. Malah dia sudah tersingkir sejak awal musim. Chelsea menampungnya dan dia mencetak 2 gol dan 6 assist sejauh ini dari 24 laga.
Nasib Antony, Rashford, dan Sancho yang harus kembali ke United musim depan tak seberuntung Scott McTominay. Sebab, dia dijual permanen ke SSC Napoli sejak awal musim. Hasilnya? Gelandang Skotlandia itu langsung nyetel dengan mencetak 7 gol 4 assist dari 29 laga. Performanya itu membawa Partenopei jadi calon kuat scudetto.
McTominay dan Sancho cukup jadi bukti bahwa reff dari “Pergi Untuk Kembali” karya Minggus Tahitoe tidak perlu diikuti oleh Antony dan Rashford musim depan. Semua demi masa depan karier yang lebih baik dan psikis yang lebih kondusif. (dio/ian)






