Surabaya (beritajatim.com) – Pernahkah Anda secara tidak sadar mengalami keadaan day dreaming? Atau biasa disebut dengan melamun? Fenomena ini menjelaskan tentang sel-sel otak Anda yang berkomunikasi saat pikiran sedang sibuk atau tidak bekerja. Simak fakta menarik lainnya tentang day dreaming berikut ini:
Semakin tua waktu melamun semakin sedikit
Melansir National geographic, Rabu (6/10/2021) seorang psikolog asal Universitas Carolina Utara, Greensboro Amerika Selatan, Peter Delaney mengatakan bahwa fenomena day dreaming dapat dikatakan sebagai antisipasi soal masa depan, terutama dalam konteks fantasi. Misalnya seseorang yang sering melamun soal cita-citanya menjadi seorang dokter. Akhirnya seiring bertambahnya usia, jumlah waktu yang mereka habiskan untuk day dreaming berkurang.
Melamun membuat lupa akan aktivitas
Para ilmuan mengatakan bahwa fenomena day dreaming sudah diteliti dan dipelajari sejak tahun 1990-an. Mereka mengatakan bahwa otak manusia mengeluarkan impuls saraf atau indikator aktivitas bahkan ketika mereka sedang menganggur. Jika orang diminta untuk melamun tentang masa lalu, misalnya, mereka cenderung melupakan apa yang mereka lakukan sebelum lamunan dimulai. Delaney juga mengatakan bahwa aktivitas day dreaming juga dapat memengaruhi ingatan dan mudah membuat orang lain lupa.
Melamun mematikan sistem tertentu otak
Otak manusia memiliki dua sistem kunci, yakni bagian analitik yang membantu kita membuat keputusan dan bagian empati yang memungkinkan kita berhubungan dengan orang lain. Anthony Jack, seorang ilmuwan kognitif di Case Western Reserve University di Ohio mengatakan bahwa ketika dihadapkan dengan tugas kognitif, otak Anda membutuhkan area empati untuk dimatikan sementara waktu guna menyelesaikan suatu pekerjaan. Namun ketika Anda melamun, pikiran Anda secara alami berputar melalui mode berpikir yang berbeda, dan selama waktu ini bagian analitik dan empati dari otak Anda cenderung akan mati secara otomatis.
Otak menjadi pengendali utama seseorang melamun
Pikiran dan otak merupakan dua aspek yang berbeda namun memiliki fungsi yang hampir sama yakni menyimpan ingatan manusia. Ini bisa diibaratkan seperti perangkat lunak dan perangkat keras komputer. “Kita cenderung menganggap pikiran kita di kursi pengemudi dan aktivitas otak kita sebagai pengendalinya.” Namun nyatanya, hubungan itu berjalan dua arah. Bagaimana kita melamun dan berpikir tergantung pada struktur otak. Di sisi lain, struktur tersebut terus berubah melalui aktivitas-akivitas kecil saat Anda mempelajari hal-hal baru. Ini juga berdampak pada perkembagan sel-sel baru. [rsf/esd]






