Surabaya (beritajatim.com)– Bagi pecinta kuliner Jawa Barat, khususnya masakan Sunda, leunca tentu sudah tidak asing lagi. Butiran kecil berwarna hijau ini sering hadir bersama daun kemangi dan mentimun dalam sepiring lalapan segar yang menggugah selera.
Sebenarnya apa itu leunca? Dalam dunia botani, tanaman ini memiliki nama ilmiah Solanum nigrum dan dikenal di dunia internasional sebagai black nightshade. Menurut IIP Series, meskipun tumbuh subur di Indonesia, tanaman ini sebenarnya berasal dari wilayah Amerika Selatan, Eropa, dan Asia Barat.
Leunca mudah dikenali dari bentuk buahnya yang kecil dan bulat seperti kacang polong. Tanamannya termasuk jenis semak yang bisa tumbuh hingga sekitar 1,5 meter. Saat muda, buah leunca berwarna hijau terang, lalu berubah menjadi hitam mengilap ketika matang.
Di Indonesia, leunca tidak hanya dimakan mentah sebagai lalapan. Banyak orang juga mengolahnya menjadi berbagai masakan, seperti tumis oncom atau campuran sambal. Rasanya yang khas membuat leunca menjadi favorit bagi penikmat masakan tradisional.
Soal rasa, leunca memang memiliki cita rasa pahit dan sedikit sepat. Rasa ini berasal dari kandungan senyawa tanin di dalam buahnya. Meski terasa pahit bagi sebagian orang, justru rasa unik inilah yang membuat banyak orang menyukainya, apalagi jika dimakan bersama nasi hangat dan ikan asin.
Buah ini mengandung vitamin A, C, dan E, serta mineral penting seperti kalsium dan zat besi. Kandungan antioksidannya juga cukup tinggi, sehingga leunca mulai dikenal sebagai makanan yang baik untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.
Meski memiliki banyak manfaat, leunca tetap perlu dikonsumsi dengan bijak. Tanaman ini mengandung senyawa alami bernama solanin yang bisa berbahaya jika dikonsumsi terlalu banyak. Kandungan solanin paling tinggi terdapat pada buah yang masih sangat muda. Karena itu, sebaiknya pilih leunca yang sudah cukup matang atau masak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. [Wakhdah Alisa Berliana]






