Tak akan ada yang mengenang capaian seribu gol Persebaya selama era Liga Indonesia yang dicetak Wildan Ramdhani pada menit 90+1 di hadapan 1.601 orang penonton, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (4/8/2023).
Wildan memecahkan rekor milestone yang selama ini selalu dicetak pemain asing. Menurut catatan Rawonstats, gol ke-800 dicetak David da Silva pada saat melawan Mitra Kukar (9 September 2018), dan gol ke-900 dicetak Taisei Marukawa pada saat melawan Persija (26 Oktober 2021).
Namun capaian Wildan terkubur kekecewaan, setelah Persebaya kalah 1-2 dari Persikabo. Dua gol José Varela pada menit 33 dan Rizki Hidayat pada menit 88 melemparkan posisi Persebaya ke peringkat 16 dari 18 klub Liga 1. Dengan nilai 5 dari 1 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 3 kekalahan.
Ini enam pekan awal terburuk Persebaya selama mengarungi Liga 1 sejak 2018. Jumlah penonton pun adalah yang terendah dalam waktu lima tahun terakhir (di luar pertandingan tanpa penonton).
Musim 2018, Persebaya yang dilatih Alfredo Vera berada di peringkat 7 dengan mendulang 8 angka dari 2 kemenangan, 2 hasil seri, dan 2 kekalahan. Musim 2019, Persebaya yang ditukangi Djajang Nurdjaman berada di peringkat 10 dengan meraih 9 angka dari 2 kemenangan, 3 hasil seri, dan 1 kekalahan.
Musim 2021-22 di bawah asuhan Aji Santoso, dalam enam pekan awal Persebaya menduduki peringkat 9 dengan nilai 6 dari 2 kemenangan dan 4 kekalahan. Musim 2022-23, dalam enam pekan pertandingan, Persebaya menduduki peringkat 14 dengan nilai 7, dari 2 kemenangan, 1 hasil seri, dan 3 kekalahan.
Hasil buruk ini membuat Aji Santoso diistirahatkan dari posisi pelatih kepala. Istilah pengistirahatan pelatih ini di luar kebiasaan dunia sepak bola. Seorang pelatih atau manajer akan dipecat jika dianggap gagal. Dengan mengistirahatkan, dapat ditafsirkan jika Aji masih memiliki ikatan kerja dengan Persebaya namun tak lagi menjadi pelatih.
Lantas menjadi apa? Ini yang masih belum jelas. Media massa melaporkan Aji ditawari posisi direktur teknik menggantikan Uston Nawawi yang diplot menjadi pelatih sementara. Aji sendiri kepada Jawa Pos edisi 5 Agustus 2023 lebih memilih diputus kontrak.
Manajer Persebaya Yahya Alkatiri memastikan pergantian pelatih kepala ini tidak akan berdampak buruk terhadap pemain. Satu-satunya jalan untuk keluar dari krisis adalah mengakhiri tren buruk Persebaya di pekan ketujuh melawan Bhayangkara, Selasa (8/8/2023). Menang atas tim tuan rumah adalah harga mati.
Begitu cepat optimisme menjadi juara pada awal musim 2023-24 sirna hanya dalam waktu enam pekan. Mengawali Liga 1 dengan kemenangan 3-2 atas tuan rumah Persis Solo seharusnya menjadi modal awal untuk melambungkan Green Force pada pekan-pekan selanjutnya. Namun pasca kemenangan di Stadion Manahan Solo, semua berbalik. Persebaya sama sekali tak pernah meraih hasil sempurna, bahkan di Gelora Bung Tomo.
Bonek Writers Forum mengendus ada persoalan serius di tubuh Persebaya sejak awal musim. Dianita Iuschinta, anggota BWF yang juga praktisi psikologi olahraga, melihat ada problem psikologis yang dialami pemain. Ini menyebabkan kohesivitas tim rendah.
Menurut Dianita, beberapa pemain terkadang masih bingung memposisikan dirinya atau memilih opsi arah operan bola. “Bandingkan musim lalu, pemain tanpa tolah-toleh mencari teman dan sudah langsung mengoper bola dan disambut juga oleh teman setim,” katanya.
Variabel kohesivitas beragam. “Ini tentang komunikasi, pembagian peran, keakraban, saling menyayangi, saling memiliki, dalam tim dan lain-lain,” kata alumnus pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya yang menekuni bidang sains psikologi ini.
Kebingungan pemain dalam menentukan peran masing-masing jelas berdampak terhadap kerja sama tim. “Sebagai tim, mereka tentu paham kalau ada satu pemain yang mengalami kesulitan, pemain lain harus membantu. Namun beberapa kali Persebaya kebobolan karena pemain terlambat menutup posisi yang ditinggalkan teman yang maju membantu penyerangan, atau terlambat kembali ke posisi masing-masing,” kata Dianita.
Beruntung penjaga gawang inti dan cadangan Persebaya bermain apik musim ini. “Persebaya beruntung punya kiper-kiper bagus, meski mungkin para kiper ini menggerutu jengkel sendiri melihat penampilan kawan-kawan mereka,” kata perempuan berjilbab ini.
Masalah psikologis ini yang harus dituntaskan lebih dulu. Apalagi jika melihat buruknya rekor kandang Persebaya sejak 2018. Musim 2018, Persebaya mengalami 4 kekalahan dan hanya mengemas 35 poin dari 17 laga (11 menang dan 2 imbang).
Musim 2019, Persebaya memang hanya kalah sekali. Namun hasil imbang tim ini lebih banyak dibandingkan kemenangannya yakni 9 bertanding 7. Dari 17 pertandingan kandang, Persebaya hanya meraih 30 angka.
Musim 2021-22, liga digelar dengan sistem bubble. Status tuan rumah tidak berdampak, karena tidak ada penonton yang hadir ke stadion. Namun musim 2022-23, performa pertandingan kandang Persebaya tidak membaik. Anak asuh Aji Santoso hanya bisa meraih 31 poin dari 9 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 4 kekalahan.
Buruknya performa Persebaya di kandang menunjukkan tidak selamanya dukungan ribuan Bonek menjadi keuntungan. Ada kalanya dukungan itu menjadi beban bagi pemain Persebaya sendiri. Dalam kadar tertentu, mungkin pemain Persebaya terkena apa yang disebut Ruud Gullit sebagai De Kuip Phobia.
Tingginya ekspektasi fans saat Feyenoord bermain di kandang sendiri, Stadion De Kuip, membuat para pemain ketakutan dan tak bisa tampil lepas. “…a team can be drawn into a negative spiral, the kind of situation Feyenoord have found themselves in for the last fifteen years,” kata Gullit dalam buku How to Watch Soccer.
Manajemen Persebaya harus membenahi mentalitas pemain lebih dulu. Ini pekerjaan rumah utama. Tak ada salahnya klub mempekerjakan seorang psikolog berpengalaman di bidang olahraga. Persebaya juga harus membuat sistem atau peraturan khusus mengenai peran para pemain, supaya mereka memahami konsekuensi dari setiap tindakan, baik di lapangan maupun di luar lapangan.
“Contoh ketika ada satu dua pemain terlambat mengikuti makan bersama, maka satu tim tidak boleh makan terebih dulu. Atau ketika ada satu pemain yg terlambat datang latihan, maka satu tim diberi hukuman entah joging keliling lapangan atau yang lain,” kata Dianita.
Kedua, Persebaya sudah harus menggunakan data dan ilmu sains untuk menganalisis pertandingan dan kekuatan maupun kelemahan pemain. Sepak bola hari ini berbeda dengan puluhan tahun lalu yang cukup dengan seorang pelatih dan beberapa staf pelatih.
Mengutip dari buku Intensity: Inside Liverpool FC karya Pep Lijnders, selain memiliki dua asisten manajer (asisten pelatih), Liverpool memiliki antara lain elite development coach, head of fitness and conditioning, general manager of first-team operations, first-team goalkeeping coach, first-team assistant goalkeeping coach, head of nutrition, performance analyst, head of opposition analysis. Kurang lebih ada 30 personel dalam tim termasuk pelatih Jurgen Klopp.
Seorang analis performa bisa memberikan masukan kepada setiap individu pemain untuk memperbaiki kelemahan masing-masing. Analis tim lawan menganalisis kelemahan dan kekuatan calon lawan setiap pekan. Dari sana pelatih mendapatkan bahan untuk meramu taktik yang tepat.
Persebaya tentu belum bisa seideal klub papan atas seperti Liverpool. Namun setidaknya beberapa fungsi inti dalam aspek sains sepak bola harus diperhatikan, terutama penggunaan data statistik. Tidak boleh ada pelatih yang sesumbar dengan menyatakan tak percaya statistik. Membaca statistik dengan benar akan bermanfaat untuk memperbaiki kondisi tim dan taktik pertandingan.
Pengganti Aji Santoso haruslah seorang pelatih yang memahami pentingnya aspek psikologis dan sains sepak bola untuk dikombinasikan dengan kemampuan taktis. “PSM Makassar berhasil menjadi juara setelah memadupadankan kemampuan pelatihnya dengan informasi dari video analisnya di setiap pertandingan,” kata Kukuh Ismoyo, analis taktik Bonek Writers Forum.
Terakhir, Persebaya harus menegaskan kembali pentingnya seorang manajer yang bisa menjembatani kepentingan internal tim dengan luar tim, maupun memfasilitasi komunikasi dan relasi antarbagian klub. Selama ini publik kurang tahu benar tugas tertulis seorang manajer dalam sebuah klub sepak bola profesional di Indonesia. Inggris menyebut pelatih sebagai manajer,. sementara publik sepak bola di Jerman menyebutnya pelatih kepala.
Dalam konteks ini, mungkin seorang manajer di klub sepak bola Indonesia memiliki peran yang sama seperti general manager of first-team operations seperti di Liverpool yang dijabat Ray Haughan. Haughan menerjemahkan rencana teknis pelatih dengan mengagendakan uji coba dengan tim lain, maupun mengatur training ground agar memiliki suasana yang dibutuhkan untuk membangun atmosfer jelang kompetisi atau pertandingan.
Haughan menjaga suasana tim tetap kondusif. Musim 2021-22, ia memfasilitasi keinginan para pemain di Liverpool untuk memberikan hadiah kepada seluruh staf pendukung yang menemani selama empat pekan dalam pemusatan latihan (training camp). Haughan juga yang mengatur pemusatan latihan Liverpool di Timur Tengah selama jeda kompetisi karena Piala Dunia.
Kompetisi baru memasuki pekan keenam. Namun problem Persebaya harus segera diatasi dengan cepat dan tepat. Uston Nawawi adalah solusi awal. Persebaya membutuhkan solusi jangka panjang yang bisa membawa dampak terhadap tim untuk mencapai target juara yang sudah dicanangkan Sang Bos Azrul Ananda sendiri.
Biarlah seribu gol Persebaya pekan ini tanpa selebrasi. Anggaplah itu selebrasi yang tertunda bagi Wildan Ramdhani dan kawan-kawan. [wir]






