Ringkasan Berita:
- Serangan hama tikus masih menjadi ancaman bagi lahan pertanian padi di Kabupaten Pacitan.
- DKPP Pacitan menyebut perubahan iklim, melimpahnya pakan, dan berkurangnya predator menjadi penyebab meningkatnya populasi tikus.
- Petani telah melakukan berbagai upaya, mulai pemasangan perangkap, pengasapan sarang hingga penggunaan umpan racun.
- Pengendalian serentak dalam satu hamparan lahan dinilai menjadi cara paling efektif menekan populasi tikus.
Pacitan (beritajatim.com) – Serangan hama tikus masih menjadi ancaman serius bagi tanaman padi di sejumlah wilayah Kabupaten Pacitan. Meski petani telah melakukan berbagai upaya pengendalian, populasi tikus dinilai masih sulit ditekan sehingga berpotensi mengganggu produktivitas pertanian.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan, Agus Rustamto, mengatakan peningkatan populasi tikus dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari perubahan iklim hingga berkurangnya musuh alami di habitat pertanian.
“Cuaca yang lebih hangat membuat masa kawin tikus lebih panjang. Selain itu, ketersediaan makanan yang melimpah dan berkurangnya predator turut memicu peningkatan populasi,” kata Agus, Senin (22/6/2026).
Menurut Agus, perubahan iklim menyebabkan suhu lingkungan menjadi lebih hangat sehingga memperpanjang masa reproduksi tikus. Di sisi lain, ketersediaan sumber pakan yang melimpah di area persawahan membuat populasi hama tersebut semakin berkembang.
Ia juga menyebut berkurangnya predator alami, seperti ular dan burung hantu, ikut mempercepat peningkatan populasi tikus. Kondisi tersebut diperparah dengan lingkungan yang kurang bersih dan masih banyaknya tumpukan sampah yang menjadi tempat berkembang biak tikus.
Untuk mengurangi serangan hama, petani telah menerapkan berbagai metode pengendalian. Di antaranya memasang perangkap, melakukan pengemposan atau pengasapan sarang, hingga menggunakan umpan racun.
Selain racun kimia, sebagian petani juga memanfaatkan bahan alami seperti umbi gadung dan buah bintaro sebagai alternatif untuk mengendalikan populasi tikus di area persawahan.
Meski demikian, Agus menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian tidak cukup dilakukan secara individu. Menurutnya, pengendalian harus dilaksanakan secara serentak oleh seluruh petani dalam satu hamparan lahan agar hasilnya lebih optimal.
“Jika lingkungan tidak nyaman bagi tikus dan pengendalian dilakukan serentak, populasinya akan lebih mudah ditekan,” pungkasnya. [tri/beq]






