Malang (beritajatim.com) – Pernyataan kontroversial dari Senator Amerika Serikat, John Kennedy, yang mengaitkan udang beku asal Indonesia dengan monster fiksi ilmiah ‘Alien’ telah memicu kegemparan. Namun, pakar dari Universitas Brawijaya (UB) memberikan klarifikasi ilmiah yang menenangkan publik, menegaskan bahwa udang Indonesia aman untuk dikonsumsi.
Kegaduhan bermula saat Senator Kennedy dari Partai Republik secara dramatis menyatakan bahwa mengonsumsi udang impor dari Indonesia yang diduga terkontaminasi radioaktif dapat mengubah seseorang. “Seperti inilah rupa Anda jika Anda memakan udang beku mentah yang dikirim ke AS oleh negara lain,” ujar Kennedy pada Rabu (3/9), sambil menunjukkan gambar monster ‘Alien’, seperti dikutip dari media sosial Instagram.
Pernyataannya merujuk pada temuan Otoritas Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada akhir Agustus lalu terhadap produk udang beku mentah merek Great Value milik Walmart yang diproduksi oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods) dari Indonesia.
Menanggapi kegemparan ini, pakar dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), Prof. Dr. Ir. Mohamad Fadjar, M.Sc., memberikan penjelasan ilmiah. Menurutnya, tingkat paparan yang ditemukan jauh di bawah ambang batas berbahaya.
FDA memang menemukan adanya kandungan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada sampel udang tersebut. Namun, kadarnya sangat rendah.
“Temuan FDA mencatat kadar Cesium-137 hanya sebesar 68 Bq/kg,” jelas Prof. Fadjar, Senin (8/9/2025). “Angka ini jauh di bawah ambang batas intervensi resmi FDA yang ditetapkan sebesar 1.200 Bq/kg.”
Artinya, kadar kontaminasi pada udang tersebut 17 kali lebih rendah dari batas yang dianggap dapat menimbulkan risiko kesehatan. Secara ilmiah, temuan ini masih sangat aman. Konsumen tidak perlu khawatir, udang Indonesia tetap layak dikonsumsi.
Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Menurut Prof. Fadjar, investigasi mendalam sedang dilakukan secara gabungan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta pihak Kedutaan Besar AS.
Laporan final dari investigasi ini diperkirakan akan dirilis pada pertengahan September 2025 dan akan menjadi dasar penjelasan resmi pemerintah.
Dugaan awal mengarah pada kontaminasi yang bersifat insidental, bukan berasal dari proses budidaya.
“Indikasi kuat menunjukkan kontaminasi bukan dari pakan, air tambak, atau proses budidaya. Dugaan sementara mengarah pada fasilitas produksi PT BMS di kawasan industri Cikande, Serang,” ungkap Prof. Fadjar.
Ia menekankan bahwa kasus ini tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh produk udang nasional. Sebagai langkah pencegahan, ekspor dari PT BMS ke AS telah ditangguhkan sementara hingga investigasi selesai, namun hal ini tidak berdampak pada eksportir udang lainnya.
Pihak Shrimp Club Indonesia (SCI) bersama pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga kredibilitas dan nama baik udang Indonesia di pasar global. Prof. Fadjar menegaskan bahwa udang adalah komoditas andalan dengan standar mutu dan pengawasan yang ketat.
“Reputasi udang Indonesia sudah diakui dunia. Satu kasus ini tidak boleh meruntuhkan kepercayaan pasar. Justru ini menjadi momentum untuk memperkuat sistem pengawasan kita,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang simpang siur, serta menunggu hasil resmi dari pemerintah. “Mari kita tunggu hasil investigasi resmi. Udang Indonesia aman dikonsumsi,” pungkasnya. (dan/but)






