Jombang (beritajatim.com) – Seminar wawasan kebangsaan bertema pejuang resolusi jihad digelar di Hotel Fatma Jombang Jawa Timur, Jumat (18/11/2022) sore. Dalam seminar itu dikupas peran tiga kiai asal Jombang yang menjadi pelopor resolusi jihad. Tiga kiai itu adalah Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Chasbullah serta KH Bisri Syansuri.
Sedangkan nara sumber yang dihadirkan adalah Dr Muhammad Anang Firdaus penulis dan dosen di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) dan Moch Faisol penulis buku jejak laskar Hizbullah. Selain dosen, Anang juga menulis ‘Karomah Sang Kiai, Biografi KH M Adlan Aly, kemudian buku Aswaja dan keNUan Pesantren Tebuireng.
Dalam seminar itu, Muhammad Anang Firdaus mengatakan tentang pentingnya mempelajari peran tiga kiai asal Jombang dalam sejarah Indonesia. Menurut Anang Firdaus, bulan November 1945 banyak kejadian yang menentukan nasib Indonesia. Kilas perjuangan yang menentukan itu ada 3 sosok kiai yang mempunyai peran sentral dibalik lahirnya resolusi jihad.
“Berawal dari 15 Agustus 1945, saat itu, Jepang menyerah kepada sekutu, ketika Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom. Negeri matahari terbit ini akhirnya menyerah. Akibatnya, mulai 16 Agustus ada kekosongan kekuasaan di Indonesia. Nah, saat itulah para tokoh mulai menyiapkan kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Satu bulan kemudian, tepatnya 8 September 1945, komando sekutu Asia Tenggara di Singapura mengirim tujuh perwira Inggris ke Indonesia. Tujuannya, mempelajari keadaan di Indonesia menjelang pendaratan sekutu. Selanjutnya, pada 16 September 1945, rombongan perwakilan sekutu mendarat di Tanjung Priok Jakarta. Sekutu menugaskan sebuah komando khusus untuk mengambil alih kembali Indonesia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”resolusi-jihad”]
Kedatangan sekutur mendapat respon dari tokoh-tokoh Indonesia, salah satunya Sukarno. Sebelum 10 November 1945, Bung Karno menemui Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta saran terkait kedatangan Inggris ke Indonesia. “Pada 17 September 1945 Mbah Hasyim, Mbah Wahab dan Mbah Bisri dan beberapa Kiai Jombang merumuskan fatwa jihad di pesantren Tebuireng,” ungkapnya.
“Dari rumusan tersebut muncul 3 poin. Pertama, memerangi kaum kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia adalah fardu ain bagi setiap orang Islam. Kedua, hukum orang meninggal dalam perang melawan NICA serta komplotannya adalah mati syahid. Dan ketiga, orang yang memecah persatuan wajib dibunuh,” lanjutnya.
Setelah munculnya beberapa poin tersebut, pada 22 Oktober 1945 PBNU yang saat itu masih bernama HBNU mengeluarkan resolusi jihad di Surabaya. Resolusi itulah telah memantik pertempuran 10 November di Surabaya guna mempertahankan kemerdekaan yang belum genap 100 hari diproklamasikan. “Komando perang saat itu dipimpin oleh seorang ulama yaitu KH Hasyim Asy’ari. Beliau dengan cepat mengubah pesantren menjadi markas tentara militer Hizbullah dan Sabilillah,” jelasnya.
Naskah Resolusi Jihad Berhuruf Pegon
Narasumber kedua yakni Moch Faisol mengatakan bahwa naskah asli resolusi jihad berhuruf arab gundul atau pegon. Teks ditulis dengan tangan. Hanya saja hingga saat ini naskah tersebut belum ditemukan. Fatwa jihad dibuat oleh Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng.
“Dari banyaknya dokumen yang kita temukan, Fatwa jihad sudah pasti ada. Sayangnya sampai sekarang nasibnya sama seperti resolusi, teks aslinya tidak tahu berada dimana. Fatwa jihad dibuat oleh Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng, dan ditulis tangan huruf pegon oleh Mbah Hasyim,” kata Faisol.
Alumnus Fakultas Teknik Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang ini menceritakan, Jepang masuk ke Jombang pada 6 Maret 1942. Jepang sempat membentuk PETA atau Pasukan Pembela Tanah Air pada 1943. Kemudian pada 1944, barulah terbentuk laskar Hizbullah. Dua pasukan inilah yang kemudian bahu membahu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Sebelum adanya resolusi jihad, sudah ada fatwa jihad. Jadi, dokumen resmi yang dikeluarkan HBNU (PBNU) kala itu tidak ada narasi jihad. Melainkan hanya narasi resolusi, yang isinya menuntut kepada pemerintah sikap yang jelas bagaimana mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” kata Faisol.
Perjuangan Lewat Informasi

Keynote Speaker sekaligus tuan rumah kegiatan ini adalah H. Ahmad Athoillah atau akrab disapa Gus Atho. Pria asal Pesantren Denanyar Jombang ini juga menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil 10 Kabupaten Jombang dan Kota Mojokerto.
Dalam sambutannya, Gus Atho mengatakan belajar sejarah tidak akan ada ujungnya. Nah, perjuangan itulah yang harus diteruskan oleh generasi saat ini. Oleh sebab itu dia berharap generasi muda saat ini, di tengah gencarnya kecanggihan teknologi, dapat menyalurkan kebaikan dan api perjuangan lewat informasi yang massif.
“Kami berharap teman-teman muda yang punya ghiroh semangat di medsos (media sosial) mulai menyalurkan kebaikan para pahlawan pada orang lain. Ada beberapa YouTubers yang konsisten yang memposting animasi terkait sejarah dari tokoh masa lalu,” tuturnya. [suf]






