Malang (beritajatim.com) – Departemen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Seminar Nasional Nitisastra X pada Selasa (11/11/2025). Acara bergengsi ini mengusung tema krusial: “Humanisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Kecerdasan Buatan,” yang menyoroti tantangan dan strategi pendidik dalam menghadapi gempuran teknologi Artificial Intelligence (AI).
Seminar yang dihadiri para pakar pendidikan terkemuka ini menjadi ajang untuk mengkaji ulang peran guru di tengah masifnya penggunaan AI seperti ChatGPT oleh mahasiswa.
Dekan Fakultas Sastra (FS) UM, Dr. Moch. Syahri, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya, menyuarakan keprihatinan mendalam di dunia pendidikan. Ia menyoroti fenomena mahasiswa yang kini sangat bergantung pada AI, bahkan saat ujian.
“Ini merupakan tantangan luar biasa bagi kita sebagai pendidik,” ujarnya. “Kemarin musim UTS, saya lihat status teman-teman (dosen), ada yang pusing karena mahasiswa menggunakan ChatGPT.”
Dr. Syahri bahkan mengutip sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa 90 persen mahasiswa teknik telah menggunakan teknologi tersebut untuk tugas-tugas mereka. Ia menekankan bahwa AI, terutama akun premium yang ia gunakan, kini mampu menyajikan informasi yang “jauh lebih akurat dan tepercaya.”
Hal ini, menurutnya, memaksa pendidik untuk sungguh-sungguh memikirkan ulang posisi mereka. “Pertanyaannya adalah bagaimana relasi antara manusia dan mesin ini dituturkan dalam fungsi yang benar. Semoga dari seminar ini kita dapat insight, kira-kira ke depan kita harus bagaimana,” tegasnya.
Menjawab tantangan tersebut, salah satu pembicara utama, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., yang juga Ketua IKAPROBSI, memaparkan materi tentang Rekonseptualisasi Peran Guru.
Menurut Prof. Sarwiji, AI telah menghadirkan area genting baru dalam pendidikan, yang mencakup isu otonomi, pengawasan, bias, dan dampak relasional. “Otomatisasi berisiko melemahkan tanggung jawab moral siswa,” paparnya.
Ia menekankan bahwa guru tidak boleh sekadar pasrah pada teknologi. Guru harus berperan aktif sebagai penjaga integritas dan keadilan akademik, terutama saat siswa menggunakan alat bantu seperti Grammarly dan ChatGPT.
“Guru perlu menanamkan nilai moral, kejujuran akademik, dan tanggung jawab untuk mencegah plagiarisme serta ketergantungan pada AI,” jelas Prof. Sarwiji.

Prof. Sarwiji menawarkan solusi pendekatan ganda bagi para pendidik. Guru didorong untuk mampu mengatasi ketergantungan AI tanpa kehilangan sentuhan manusiawi yang esensial. Model guru masa depan, menurutnya, adalah guru yang reflektif dan humanistik.
“Sejalan dengan teori pendidikan humanistik, teknologi adalah mitra untuk mengembangkan kemanusiaan, bukan pengganti,” tegasnya.
Untuk mencapai ini, Prof. Sarwiji menguraikan tiga peran utama guru yang menjadi pilar humanistik. Pertama, etika, menegakkan integritas dan keadilan akademik. Etika bukan sekadar kepatuhan aturan, tetapi kesadaran moral untuk pembelajaran yang jujur.
Kedua, estetik, menumbuhkan kepekaan rasa dan ekspresi kreatif siswa. Spiritualitas, membimbing siswa melakukan refleksi makna dan kebijaksanaan moral.
Seminar Nitisastra X ini tidak hanya berfokus pada AI, tetapi juga membahas 11 subtema lainnya, termasuk integrasi nilai budaya lokal, literasi digital-humanistik, pembelajaran BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), dan relevansi pendidikan bahasa untuk mencapai SDGs 4.
Selain Prof. Sarwiji, seminar ini juga menghadirkan pakar internasional dan nasional lainnya, yakni Assoc. Prof. Dr. Sabzali Musa Khan dari Universiti Malaya, Prof. Dr. Isah Cahyani, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia, dan Dr. Dewi Ariani, M.Pd. dari Universitas Negeri Malang. [dan/aje]






