Probolinggo (beritajatim.com) – Pemerintah mulai merealisasikan program Sekolah Rakyat (SR) di Kota Probolinggo dengan dukungan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp7,5 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh pelaksanaan program SR di Kota Probolinggo, termasuk rehabilitasi ruang belajar, pembangunan fasilitas pendukung, serta penyediaan tempat tinggal bagi siswa.
Salah satu lokasi yang disiapkan adalah SDN 4 Mayangan, yang kini tengah menjalani rehabilitasi ruang kelas. Sebanyak empat ruang kelas di sekolah tersebut akan difungsikan sebagai tempat belajar siswa SR. Proses rehabilitasi ditargetkan rampung dalam dua bulan dengan anggaran khusus sebesar Rp322 juta lebih.
Pelaksana proyek dari CV. Nindya Karya, Wiyoto, menyampaikan bahwa perbaikan dilakukan secara menyeluruh. “Ini untuk empat rombongan belajar, cukup representatif untuk memulai kegiatan belajar mengajar,” katanya.
Ruang kelas akan dibenahi pada bagian lantai, tembok, langit-langit, serta ditambah toilet baru demi menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan layak. Selain itu, fasilitas penunjang juga disiapkan di area sekolah. Toilet akan dibangun di sisi utara, sedangkan sisi selatan akan difungsikan untuk kantor, laboratorium, atau perpustakaan.
Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo, Setyorini Sayekti, menjelaskan bahwa anggaran dari pemerintah pusat tidak hanya difokuskan pada ruang belajar. “Kami juga akan membangun musholla, lapangan olahraga, dan dapur di rusunawa,” jelasnya lewat pesan singkat.
Rusunawa yang dimaksud adalah PPI Kronong Mayangan, yang akan menjadi tempat tinggal para siswa SR. Di lokasi ini, siswa akan mendapatkan pengasuhan penuh sekaligus lingkungan yang mendukung proses belajar.
Program Sekolah Rakyat di Probolinggo akan menampung sebanyak 118 siswa jenjang SMP dan SMA. Mereka dipilih berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang mencakup anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menyediakan akses pendidikan inklusif berbasis pengasuhan penuh, agar siswa dari keluarga miskin tetap memiliki peluang pendidikan yang layak. [ada/beq]






