Kediri (beritajatim.com) – Hari pertama masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri menjadi momen penuh haru bagi para orang tua yang selama ini terbebani biaya pendidikan. Sekolah ini hadir sebagai angin segar bagi keluarga-keluarga prasejahtera di Kabupaten Kediri dan sekitarnya.
Salah satu wali murid, Wiji Astutik (45), warga Kecamatan Kandat, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia adalah penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan kini bisa menyekolahkan anak ketiganya, Mentari Aprilia, di sekolah gratis tersebut.
“Saya PKH, ada sekolah gratis. Senang saja, bisa meringankan bagi orang tua yang tidak punya biaya. Masuk ya gratis, termasuk seragam dan perlengkapannya. Tidur di sini dan menginap di sini,” ungkapnya.
Wiji yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, harus berjuang keras merawat suami yang sedang sakit dan tidak lagi bekerja. Dengan latar belakang ekonomi yang sulit, ia sempat berpikir untuk tidak menyekolahkan Mentari.
“Dulunya tidak akan disekolahkan saja, karena adiknya masuk SMP. Tidak ada biaya. Kemudian ada sekolah gratis,” katanya.
Wali murid lainnya, Sri Utami (50), warga Janti, Kecamatan Wates, juga mengaku sangat terbantu dengan keberadaan SRMA 24 Kediri. Ia menyekolahkan anaknya, Rizal Muhammad Febi (15), di sekolah yang berbasis asrama tersebut.
“Bagus saja menurut saya. Saya berpikir, sekolah rakyat, pasti anaknya dididik lebih baik, kan ada pengawasan ketat, tidak seperti di rumah. Juga anaknya tidak mungkin macam-macam daripada sekolah di luar,” tuturnya.
Ia menambahkan, saat pertama kali melihat asrama, ia merasa yakin dengan kebersihan dan pengawasan yang diberikan oleh pihak sekolah.
“Kalau pertama ditunjukkan, asramanya juga bersih, ada yang mengawasi dan gurunya masuk di sini. Untuk masuk sini, ini kan dari PKH. Targetnya orang kurang mampu. Saya termasuk yang dapat PKH,” ucapnya.
Sri Utami yang bekerja sebagai pedagang mengungkapkan kondisi keluarganya. Suaminya dahulu bekerja di PLN, namun kini ikut di pekerjaan kelistrikan lain setelah pengurangan pegawai. Ia juga sempat mencurahkan kekhawatiran tentang kesehatan anaknya yang sering membuatnya cemas.
Di antara siswa yang bersemangat memulai hari pertamanya di SRMA 24 Kediri adalah Achmad Deva A (16), warga Desa Jambangan, Kecamatan Papar. “Sekolahnya sangat baik, fasilitasnya juga baik, bisa mendapatkan teman-teman baru,” katanya.
Deva diterima di sekolah ini melalui informasi yang diberikan petugas PKH desa. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga, sedangkan ayahnya seorang kuli bangunan. Sejak Juni, ia sudah mendaftar dan tidak perlu mengikuti tes masuk.
“Mengetahui kalau diterima itu, dikasih informasi dari sini. Petugasnya PKH dari desa memberikan informasi kalau diterima sekolah di sini,” jelasnya.
Saat ini, SRMA 24 Kediri menempati gedung sementara di Kantor BPK ASN Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan. Total sementara ada 100 siswa, meski pada hari pertama, satu siswa belum hadir. Hari pembukaan ini juga direncanakan akan ditinjau langsung oleh Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana. [nm/aje]






