Gresik (beritajatim.com) – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gresik 2024 dipastikan calon tunggal melawan bumbung kosong. Ini karena pasangan Cabup Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) dan Cawabup Asluchul Alif tidak ada rival saat Pilkada serentak yang digelar pada 27 November nanti.
Kepastian pasangan tersebut terungkap usai mendaftarkan diri di KPU. Setelah beberapa jam kemudian, Syahrul Munir yang semula diusung oleh PKB maju di Pilkada mengundurkan diri dari kontestan. Sehingga, PKB yang memiliki 14 kursi di legislatif menyerahkan rekomendasinya ke paslon Fandi Akhmad Yani-Asluchul Alif.
Tanpa ada kontestan lain yang maju di Pilkada Gresik 2024. Hal ini bisa jadi pertama kalinya dalam sejarah di daerah tersebut sejak pemilihan langsung digelar tahun 1999. Artinya, baru kali ini Pilkada yang dipilih oleh masyarakat hanya ada calon tunggal dan bumbung kosong.
Pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo menuturkan, bumbung kosong yang terjadi di Pilkada Gresik karena kemauan partai politik yang sudah letih dan ingin lebih efektivitas menyinkronkan antara pusat dengan daerah. Semua ini terjadi karena kompromi partai politik yang mengusung paslonnya.
“Demokrasi melawan bumbung kosong sah-sah saja karena yang mengusung cabup-cawabup saat ini adalah partai politik,” ujarnya kepada beritajatim.com, Selasa (27/8/2024).
Suko menambahkan, kendati yang mengusung partai politik. Kritik dan masukan dari parpol tersebut jangan sampai ditinggalkan karena hal ini menyangkut arah kebijakan pembangunan daerah ke depannya.
“Bagi saya bumbung kosong yang muncul hal biasa dalam pesta demokrasi. Terlebih lagi, tokoh yang dimunculkan di Pilkada Gresik itu sangat kuat. Sehingga, banyak parpol mengusung pasangan Fandi Akhmad Yani-Asluchul Alif maju di Pilkada,” imbuhnya.
Dosen Unair itu mengatakan, bumbung kosong bukan berarti paslon yang diusung melenggang tanpa tujuan. Sebaliknya, parpol agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai penyerap aspirasi masyarakat yang ada di legislatif. Calon tunggal tetap diawasi kinerjanya.
“Parpol ada juga dari masyarakat. Jadi tidak boleh dipisahkan meski ada bumbung kosong,” katanya.
Sementara itu, Surokim Abdus Salam
Dosen komunikasi politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang juga Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC) menyatakan pilkada bila ada bumbung kosong aneh bin ajaib. Semestinya masyarakat Gresik yang memilih hak suara 900 ribu lebih tidak kesulitan mencari figur paslon alternatif.
“Paslon tunggal atau bumbung kosong juga tidak lepas dari ketentuan 20 persen ambang batas yang diubah oleh Mahkamah Konstitusi (MK),” paparnya.
Selain itu lanjut dia, munculnya paslon tunggal juga tidak lepas dari parpol yang mencari jalan pintas dan cenderung pragmatis.
“Bisa jadi fungsi kader parpol tidak jalan sehingga muncul bumbung kosong dan ini terjadi juga di sejumlah daerah yang menggelar Pilkada,” pungkasnya. [dny/ian]






