Surabaya (beritajatim.com) – Bunyi sirine ambulans dianggap mengganggu kenyamanan bagi warga yang tinggal di sekitar pemakaman khusus pasien Covid-19. Akibatnya banyak banner pengingat untuk mematikan sirine ambulans yang hendak menuju TPU Keputih Surabaya.
Data terkait jumlah kasus dan pasien yang meninggal akibat Covid-19 di Surabaya masih belum nampak melandai. Dilansir dari website resmi Infocovid Jatim, hingga berita ini dimuat total pasien meninggal di Surabaya tercatat mencapai 1.437 orang.
Di Kota Surabaya sendiri, terdapat dua tempat lahan pemakaman khusus blok Covid-19 yang disediakan Pemkot Surabaya. Yakni di TPU Keputih dan TPU Babat Jerawat.
Dari pengamatan beritajatim.com di TPU Keputih pada Jum’at (16/07/2021), beberapa ambulans tampak hilir mudik keluar masuk pemakaman dalam intensitas kurang dari satu jam sekali, namun tak menyalakan sirinenya. Terlihat beberapa petugas pemakaman yang memakai APD sedang menguburkan jenazah. Pun terlihat beberapa warga yang mengunjungi makam sanak saudaranya.
Sebelum memasuki area TPU Keputih, terdapat banner yang bertuliskan himbauan untuk mobil jenazah agar tidak menyalakan sirinenya, serta mengingatkan bagi pengantar jenazah untuk tidak arogan saat berkendara.
Nampak juga baliho yang dipasang warga dengan tulisan huruf kapital ANDA MEMASUKI WILAYAH KAMPUNG KELURAHAN KEPUTIH 1. AMBULANCE (MOBIL JENAZAH) SIRENE MATIKAN 2. PENGANTAR JENAZAH JANGAN AROGAN. #JANGAN GANGGU KETENTRAMAN WARGA KAMI
Menurut Misiani, serorang pemilik warung kopi yang lokasinya tak jauh dari TPU Keputih mengaku himbauan tersebut sudah berlaku sejak hari Rabu (14/07/2021). Sebelumnya ia merasakan bahwa suara sirine ambulans yang hilir mudik tidak cuma mengganggu, namun juga membuatnya merinding.

“Sebelum ada aturan itu, rasanya mengerikan. Akhir-akhir ini mungkin ada hampir seratusan ambulans yang hilir mudik dalam sehari. Apalagi kalau malam, bikin saya merinding,” ungkapnya dengan mata berlinang.
Dari keterangan Misiani, aturan untuk mematikan sirine ambulans yang hendak menuju TPU Keputih diduga adalah hasil dari protes sekelompok warga yang tinggal di Kelurahan Keputih. “Kemungkinan gara-gara setelah ada warga RW sebelah yang merasa ketakutan karena sering mendengar suara ambulans,” terang Misiani.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-19″]
Dari sisi psikologi, kecemasan adalah perasaan yang pernah dialami oleh setiap manusia. Menurut Ramadhan Maruta, seorang yang mendalami bidang psikologi mengatakan kecemasan yang dialami oleh manusia merupakan hal yang wajar.
“Kalau seseorang mendengar suara ambulans dengan intensitas yang tinggi lalu merasa cemas itu wajar. Ada empat tingkatan kecemasan. Yakni ringan, sedang, berat, dan panik. Yang paling diperhatikan itu jika sudah tingkar panik, karena bisa menimbulkan ketakutan berlebih,” ungkapnya saat wawancara via daring kepada Beritajatim.
Menurut Maruta, terdapat beberapa hal yang bisa mengatasi kecemasan berlebih pada seseorang.
“Kalau merasa cemas, langkah pertama adalah mengatur pernapasan agar menjadi lebih rileks. Lalu hindari mengonsumsi nikotin dan minuman beralkohol. Kemudian perbanyak minum air putih. Jika sudah, lakukan meditasi agar merasa lebih tenang. Bisa juga dengan bercerita tentang hal-hal yang membuatnya cemas kepada orang terdekat atau ke psikolog langsung,” pungkas Maruta.
Terpisah Indi Nuroani Ketua LPMK Kelurahan Keputih menjelaskan di wilayah Keputih ini ada pemakaman untuk untuk Covid-19, apalagi jumlah kematian pasien covid-19 di Jawa Timur paling tinggi berada di Surabaya.
“Luar biasa dalam sehari bisa sampai 50 jenazah sehingga tentu itu membawa dampak psikologis terutama masyarakat Keputih terkait suara sirene dari ambulans yang melintas kampung kami. Banyak masukan dari warga yang resah dengan suara sirene terutama di malam hari,” ungkap Indi.
Ditambahkan Indi suara sirene yang terjadi saat malam hari sangat mengganggu warga ditambah lagi dengan para pengantar jenazah yang tidak pakai helm kadang boncengan tiga seringkali berbuat arogan.
“Tidak jarang warga kami dipukul, dipepet, bahkan mobil saya pernah dipukul pakai tongkat bendera palang merah, maka dari itu kami LPMK Keputih memasang himbauan agar sirene tidak dibunyikan lagi karena ini jalan kampung dan tidak ada kemacetan,”pungkas Indi. (ted)






