Kediri (beritajatim.com) – Sumarmi, seorang pedagang ubi di Pasar Mojo, Kabupaten Kediri bernasib malang. Dia menjadi korban penipuan uang palsu.
Peristiwa itu terjadi, pada Jumat (6/8/2021) lalu. Sekitar pukul 10.30 WIB, Sumarmi kedatangan pembeli.
“Ada seorang pembeli wanita bersama anak kecilnya. Dia beli 2 kilogram ubi. Kemudian uangnya Rp 100 ribu,” kata Sumarmi ditemui di lapaknya, pada Senin (9/8/2021).
Harga ubi dibandrol Rp 5 ribu per kg. Sehingga, Sumarmi memberi uang kembalian Rp 90 ribu. Dia pun mengaku, tidak sempat memeriksa uang tersebut.
“Saya baru sadar setelah orangnya pergi. Uang Rp 100 ribu itu sudah lusuh. Kemudian saya tanyakan ke pedagang lain, katanya palsu. Uang itu mengelupas jadi dua,” imbuh Sumarmi.
Pedagang asal Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih ini pun berusaha mencari keberadaan pembeli wanita tersebut. Tetapi, dia tidak berhasil menemukan.
Sumarmi sudah tujuh bulan berjualan ubi di Pasar Mojo. Barang dagangan itu bukan hasil pertanian sendiri. Melainkan kulakan dari petani. Dengan kejadian tersebut, dia merasa sangat bersedih.
“Sudah saya ikhlaskan. Uang itu saya bakar, agar tidak terus mengingat-ingat kejadian tersebut. Semoga Allah mengganti rejeki saya,” katanya.
Tetapi bagi Sumarmi uang Rp 100 ribu tersebut jumlah yang besar. Untuk setiap 1 kg ubi yang laku terjual, dia hanya mampu memperoleh keuntungan sekitar Rp 1.000 saja.
Tetapi sebelum dibakar oleh Sumarmi, uang palsu Rp 100 ribu itu sempat difoto oleh pedagang lain. Kemudian foto itu diunggah ke grup jejaring sosial facebook. Postingan tersebut menjadi viral karena dikomentari banyak warganet.
[berita-terkait number=”4″ tag=”uang-palsu”]
Ialah Enik, pedagang kain dan pakaian di Pasar Mojo yang mengunggahnya. Dia beralasan agar menjadi pembelajaran sesama pedagang. Mengingat, pedagang lain di Pasar Mojo juga pernah mendapatkan uang palsu dari pembeli.
“Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin kejadian ini tidak terulang dan menimpa pedagang lainnya. Sebab, sebelum bu Sumarmi ini, pedagang lain pernah mengalami hal serupa,” jelas Enik.
Pasar tradisional memang menjadi sasaran empuk bagi pelaku pengedar uang palsu. Pedagang yang khususnya sudah berusia lanjut mudah tertipu, karena kurang teliti. Untuk itu, menurut Enik, para pedagang perlu mendapatkan ilmu tentang pengenalan uang asli dan palsu. [nm/but]







