Surabaya (beritajatim.com) – Sekolah Dasar Khadijah Pandegiling Surabaya menutup masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dengan menghadirkan kesenian tradisional asli Jawa Timur, yakni Reog Ponorogo. Tampilan kesenian Reog di halaman SD Khadijah Pandegiling ini disaksikan dengan antusias oleh seluruh siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.
Kepala Sekolah SD Khadijah Pandegiling, Syifa’ul Khoir menjelaskan, tema yang disajikan dalam penutupan MPLS tahun ini tentang salah satu dimensi dalam Pancasila yaitu kebhinekaan. Dimana dalam kesempatan ini sekolah berharap melalui sajian pentas kesenian tradisional asli Ponorogo ini siswa dapat mengenal keberagaman budaya di Indonesia yang sangat kaya. Khususnya kekayaan kesenian tradisional asli Jawa Timur.
Syifa’ul menambahkan menyaksikan kesenian Reog secara langsung ini agar anak didiknya mengetahui secara langsung kekayaan kesenian tradisional bangsa Indonesia, terutama Jawa Timur. Pasalnya selama ini anak anak hanya melihat kesenian Reog di media sosial saja, dengan dihadirkan langsung seperti ini siswa siswi SD Khadijah Pandegiling bisa mengetahui keberagaman budaya Indonesia.
Selain itu kata Syifa’ul, dipilihnya Reog karena kesenian ini diakui oleh dunia, bahkan diakui oleh UNESCO. Sehingga anak-anak Indonesia perlu mengatahui hal itu. “Dunia sudah mengakui, kita harus mengetahui dan menjaganya,” ungkapnya.
Penutupan MPLS ini ditutup secara simbolis dengan atraksi Syifa’ul Khoir menaiki Dadak Merak dan diikuti perwakilan siswa-siswi lainnya secara bergantian. Suasana bertambah meriah karena diiringi alunan gamelan dan tepuk tangan siswa-siswi serta dewan guru. [irw/beq]






