Jombang (beritajatim.com) – Satu pohon durian yang ada di Dusun Jeruk Desa Karangan Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang ini cukup menggiurkan. Dari pohon tersebut bisa menghasilkan uang antara Rp 50 hingga Rp 60 juta sabn panen. Pohon yang tumbuh di dekat makam keramat ini memang lain dari yang lain.
Menurut Agus Santoso (46), petani setempat, pohon tersebut usianya empat genenari manusia atau 200 tahun lebih. Batangnya cukup besar. Satu orang merangkul batang tersebut tidak cukup. Ujung telapk tangan belum bisa berkait dengan ujung satunya. Untuk merangkulnya, dibutuhkan dua orang dewasa.
Sedangkan tingginya sekitar 20 meter. Sudah begitu terdapat juga dahan dan ranting. Sebelumnya, tinggi pohon tersebut 30 meter lebih, tapi tumbang. Nah, dalam sekali panen menghasilkan 800 butir durian. Musim panen antara November hingga Februari. Buah tersebut jenis durian mbah woro.
Baca Juga: Kurang dari Satu Jam, 2.019 Butir Durian Ludes Tak Tersisa
“Saat ini harga durian jenis mbah woro Rp 50 ribu per kilogram. Satu butir kalau dirata-rata seberat 1,5 kilogram. Tinggal kita kalikan, 1,5 kilogram dikali 800 butir, dikali Rp 50 ribu. Hasilnya Rp 60 juta. Ini dari satu pohon,” kata Agus Santoso sembari menunjukkan pohon yang dimaksud, Jumat (27/1/2023).
Pohon durian tua itulah yang dikembangbiakkan oleh Agus. Sehingga populasi durian jenis tersebut tidak punah. Saat ini, lanjut Agus, populasinya mencapai tujuh ribu pohon. Paling banyak, atau sekitar 80 persen berada di Desa Karangan. Selebihnya, menyebar di Desa Pakel, Ngampungan, serta desa sekitar Kecamatan Bareng.

“Pohon indukan durian mbah woro ini masih ada. Ya, yang berada di dekat makam tadi. Usianya sudah ratusan tahun. Tadi masih ada sekitar 400 butir durian yang belum kami petik. Dalam musim panen biasanya menghasilkan 800 butir,” kata pria yang dijuluki petani nekat oleh warga.
Kondisi alam Desa Karangan Kecamatan Bareng memang sama dengan Kecamatan Wonosalam yang notabene juga penghasil durian. Desa Karangan berbatasan dengan Desa Galengdowo dan Desa Wonomerto Kecamatan Wonosalam. Kedua kecamatan ini berada di kaki pegunungan Anjasmara. Tanahnya subur. Aneka buah tumbuh di kawasan itu.
Baca Juga: Durian Mbah Woro, ‘Harta Karun Terpendam’ dari Karangan Jombang
Namun menurut Agus, bentuk dan rasa durian mbah woro berbeda dengan jenis bido Wonosalam. Durian mbah woro bentuknya meruncing, sedangkan durian bido bentuknya bulat. Tentu saja, rasa kedua jenis buah tersebut juga berbeda. Durian mbah woro dagingnya lembut creamy. Rasanya pahit, manis dan gurih. Sedangkan warnanya kuning pucat. Dagingnya tebal, bijinya kecil.
“Sementara durian lokal Wonosalam rasanya pahit dan manis. Lalu prosentase daging buahnya kalau durian mbah woro mencapai 30 persen, kalau durian lokal lain hanya 10 hingga 14 persen. Memang durian mbah woro ini belum terlalu booming. Tapi permintaan di pasaran sudah tinggi. Kami menjual dengan harga Rp 50 ribu per kilogram,” pungkas petani durian dari Jombang ini. [suf/ted]






