Ponorogo (beritajatim.com) – Satlantas Polres Ponorogo menggelar Operasi Keselamatan Semeru 2026 dengan pendekatan berbeda. Tidak semata penindakan, operasi kali ini menitikberatkan langkah preemtif, preventif, dan represif secara berimbang. Sasaran utamanya jelas, yakni menekan angka pelanggaran dan mencegah fatalitas kecelakaan di kalangan remaja usia 16–19 tahun.
Data Satlantas Polres Ponorogo menunjukkan, dari 58 kejadian pelanggaran yang terdata, mayoritas dilakukan oleh pelajar. Fakta itu menjadi dasar fokus operasi tahun ini. Kasat Lantas Polres Ponorogo, AKP Dewo Wishnu Setya Kusuma, menegaskan bahwa langkah penindakan tetap dilakukan, namun bukan satu-satunya strategi.
“Dari 58 kejadian pelanggaran, mayoritas dilakukan dari pelajar, maka kita fokus kepada pelajar. Kita tidak hanya melakukan tilang saja, kita juga melakukan himbauan, sosialisasi ke sekolah. Jika ada pelanggaran tentu akan mekanisme tilang,” tegas AKP Dewo, Selasa (10/2/2026).
Menurut Dewo, tujuan utama Operasi Keselamatan Semeru 2026 bukan sekadar mengejar angka tilang. Yang lebih penting, yakni menekan risiko kecelakaan yang kerap berujung fatal pada usia produktif.
“Tujuan menghindari fatalitas kecelakaan di umur remaja sekitar umur 16–19 tahun,” jelasnya.
Langkah preemtif dilakukan melalui edukasi dan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah. Polisi memberikan pemahaman soal pentingnya tertib berlalu lintas, penggunaan helm standar, serta kelengkapan surat kendaraan.
Sementara langkah preventif diwujudkan dengan razia simpatik dan pemeriksaan kelengkapan kendaraan. Petugas tidak langsung menindak, melainkan memberi teguran dan pembinaan jika ditemukan pelanggaran ringan. Namun untuk pelanggaran yang berpotensi membahayakan keselamatan, mekanisme represif berupa tilang tetap diberlakukan sesuai aturan.
Menariknya, operasi kali ini juga dibarengi dengan pemberian reward bagi pelajar yang patuh. Mereka yang lengkap surat-surat kendaraan dan mengenakan perlengkapan standar keselamatan mendapat apresiasi berupa helm dan cokelat.
“Bagi pengendara pelajar yang taat peraturan lalu lintas, polisi memberikan reward berupa coklat. Sudah banyak pengendara orang tua yang patuh, tapi kadang lupa anaknya tidak diberikan helm ketika mengantarkan ke sekolah. Makanya hari ini kita juga bagikan helm secara gratis,” tambah Dewo.
Pemberian helm gratis ini menjadi bentuk nyata kepedulian polisi terhadap keselamatan pelajar. Sebab dalam banyak kasus, siswa sebenarnya sudah memiliki SIM, namun berangkat tanpa perlengkapan keselamatan lengkap. Salah satu pelajar yang terjaring pemeriksaan, Vehezkiel, mengaku sempat tegang saat melihat razia.
“Kaget, saya kira ada tilang. Cuma pengecekan saja. Karena tadi lengkap surat-suratnya ya dapat cokelat. Rumah di Sumoroto, sudah 1 tahun ini punya SIM. Dulu belum dapat SIM ya diantar, sekarang sudah punya SIM terus berangkat sendiri,” ungkap Vehezkiel.
Pengalaman itu menurutnya menjadi pengingat untuk selalu disiplin di jalan raya. Operasi Keselamatan Semeru 2026 di Ponorogo menjadi gambaran bahwa penegakan hukum lalu lintas tidak lagi identik dengan razia semata. Edukasi, pembinaan, hingga pemberian apresiasi menjadi bagian penting dalam membangun budaya tertib berlalu lintas sejak usia sekolah. Keselamatan bukan hanya tanggung jawab polisi, melainkan tanggung jawab bersama, dimulai dari rumah, sekolah, hingga jalan raya. [end/aje]






