Malang (beritajatim.com)– Minimnya infrastruktur pendidikan di pelosok desa Kabupaten Malang, juga dialami SDN 2 Tamansari yang ada di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Hal ini terlihat dari atap sekolah yang rapuh sehingga membahayakan bagi siswa dan guru yang berada dibawahnya.
Atap sekolah yang rapuh ditempat itu cukup mengkhawatirkan, membahayakan keselamatan siswa saat proses belajar. Pasalnya, sebagian kayu penyangga atap gedung sekolah sudah keropos. Di musim hujan saat ini, bocor dan luberan air menggenangi ruang kelas siswa. Seperti diruang kelas 6, kelas 4 dan juga kantor dewan guru. Seluruh bangunannya rapuh dan keropos.
“Saya khawatir ketika anak-anak sedang belajar tiba-tiba hujan turun. Tadi ada kayu di bagian atas samping kantor tiba-tiba jatuh. Beruntung anak-anak masih belum banyak yang datang,” ungkap Sri Handayani, seorang Guru kelas 4, Kamis (18/1/2024).
Dengan kondisi itu, Sri berharap segera ada perhatian dari pemerintah, paling tidak program rehabilitasi gedung. Untuk diketahui, di SDN 2 Tamansari saat ini juga masih kekurangan Ruang Belajar (Rumbel).
Tidak adanya perhatian dari pemerintah memenuhi kebutuhan sarana pendidikan di wilayah ini, komite bersama masyarakat sekitar terpaksa membangun tiga Ruang Kelas Baru (RKB) secara swadaya. Urunan duit.
Hanya saja, meski sudah dilakukan swadaya mandiri, penambahan ruang kelas baru belum sepenuhnya usai. Masih difase 25 persen. Sebabnya dana yang minim dan terlalu besar jija dibebankan pada masyarakat dan wali siswa.
Untuk mensiasatinya, lembaga sekolah dengan 90 jumlah murid ini, terpaksa membagi dua ruangan dengan cara disekat triplek. Pihak sekolah juga memanfaatkan Mushola sebagai sarana ruang belajar siswa.
“Untuk siswa yang belajar di kelas normal hanya tiga kelas, yaitu siswa kelas 1, kelas 5 dan kelas 6,” beber Sri.
Menurut Sri, sebagai seorang guru kelas 4, mengaku agak kurang nyaman ketika melakukan proses belajar mengajar di ruangan yang dalam kondisi berdampingan dengan kelas lain hanya dibatasi sekat.
“Megiatan belajar mengajar ya kurang nyaman, terkadang kalau saya sedang menerangkan, murid disebelah kan pasti ramai. Ada kalanya jika guru disebelah saya sedang menerangkan saya pilih diam. Kita gantian. Karena kalau kita sama-sama menerangkan, seperti sedang lomba mengajar, suaranya terdengar bersahutan, dan itu membuat konsentrasi siswa terganggu,” ucap Sri.
Meski demikian, Sri mengaku semangat anak didiknya untuk belajar tetap tinggi.
“Anak anak mengikuti semua mata pelajaran dengan baik. Karena belajar adalah investasi terbaik untuk masa depan anak-anak. Kegiatan ekstra kurikuler di SDN 2 Tamansari juga berjalan normal, termasuk pembelajaran karakter yang sudah terjadwal,” Sri mengakhiri. [yog/aje]






