Pamekasan (beritajatim.com) – KH A Hanief Saha Ghafur, menyampaikan gagasan santripreneur yang dikembangkan pesantren, sebagai tonggak mengembalikan sejarah Islam pada masa lalu.
Hal tersebut disampaikan Ketua Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, saat mengisi materi Talkshow dan Pelantikan Pengurus Palsapad dan Imamah, di kompleks Pesantren Al-Majidiyah, Palduding, Plakpak, Pamekasan, Sabtu (12/11/2022).
Terlebih dalam Talkshow yang juga menghadirkan praktisi dan dosen dari Universitas Trunojoyo (Unijoyo) Madura, Habib Nizar Amir Assegaf, mengusung tema ‘Meneguhkan Identitas Santri dan Strategi Pengembangan Santripreneur’.
“Kami sangat setuju sekali kalau santri memiliki semangat enterpreneur, semangat kewirausahaan, itu sangat bagus. Dan pesantren salaf memang harus dapat mewujudkan santripreneur,” kata KH A Hanief Saha Ghafur.
[berita-terkait number=”3″ tag=”al-majidiyah”]
Terlebih entrepreneur juga menjadi bagian dari Sunnah yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, termasuk para ulama awal di Indonesia. “Seingat kami, Nabi itu juga sempat berdagang, dan dilakukan sejak masih usia remaja,” ungkapnya.
“Termasuk awal mula Islam masuk ke bumi Nusantara, sebagian umum dibawa oleh para pedagang. Namun sejak Belanda masuk, mereka terusir hingga area selatan dan pedalaman, sehingga akhirnya mereka beralih menjadi petani,” imbuhnya.
Dari itu, pihaknya memastikan jika semangat entrepreneur yang usung kalangan pesantren, tentunya selaras dengan sejarah. “Jadi semangat entrepreneur ini mengembalikan tonggak sejarah Islam awal yang dilakukan para ulama dan para da’i awal,” tegasnya.
Sehingga sangat tepat jika para santri maupun alumni pesantren, juga menggeluti bidang entrepreneur yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya. [pin/but]






