Kediri (beritajatim.com) – Pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, digelar lebih awal pada Jumat (20/3/2026), berbeda dengan ketetapan pemerintah.
Kepala Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari, Ali Yusuf Muzaki, menjelaskan bahwa penentuan awal Syawal di lingkungan pondok menggunakan metode perhitungan dalam kitab Fathu Rauf dengan standar ketinggian hilal minimal 2 derajat.
“Misal hari ini, ini ketinggian dari kitab Fathu Rauf itu 4 derajat. Berarti kan batas minimal 2, tapi hasil kita adalah 4. Otomatis hari ini menurut kitab Fathu Rauf, ini bisa ditanggalkan atau bisa dimulai tanggal satu syawal,” ujarnya usai pelaksanaan salat Id.
Menurutnya, hasil perhitungan tersebut juga diperkuat oleh beberapa kitab lain yang memiliki metode serupa dan menunjukkan hasil yang sama, yakni posisi hilal telah melampaui batas minimal.
“Kitab Fathu Rauf itu mempunyai 3 saudara, atau yang sesama. Tiga-tiganya ini ketinggian sudah melebih dari 2 derajat. Akhirnya kita memutuskan dari tim lajenah itu, dari tim lajenah itu memutuskan untuk satu syawal terjadi pada hari ini,” jelasnya.
Keputusan tersebut diambil melalui pembahasan bersama tim lajnah pondok sebelum ditetapkan secara resmi sebagai awal Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi Lebaran Khas Pesantren
Pelaksanaan Idul Fitri di lingkungan pondok berlangsung khidmat dengan tradisi khas yang telah dijaga turun-temurun.
Ali menjelaskan, rangkaian kegiatan dimulai dengan takbir yang dikumandangkan sejak waktu maghrib hingga menjelang subuh. Setelah itu, para santri dan pengurus mengikuti tahlilan di ndalem pengasuh yang dipimpin oleh Romo Kiai Imam Faqih Asy’ari.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sarapan bersama sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri.
Selain diikuti santri, perayaan lebaran tahun ini juga dihadiri para alumni dari berbagai daerah, khususnya wilayah Kepung dan sekitarnya.
Silaturahmi dan Tradisi Ambengan
Suasana kebersamaan semakin terasa setelah salat Idul Fitri, di mana seluruh jamaah melaksanakan tradisi silaturahmi dengan mendatangi para sesepuh di lingkungan pesantren.
“Ketika sudah selesai, santri pulang, kemudian melakukan silaturrahim. Bahasa Jawa-nya nglencer, sowan teng ndalam-ndalam Duryah Pesantren Sumbersari. Seluruh Dusun Subangsari ini. Dan itu dilakukan oleh seluruh santrii dan sebagian anak-anak muda sowan ke yang sepuh-sepuh,” tutup Ali.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tradisi ambengan atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan antara santri, pengurus, dan masyarakat sekitar. [nm/kun]






