Jombang (beritajatim.com) – Santri baru MTs-MQ (Madrasah Tsanawiyah Madrasatul Qur’an) Tebuireng Jombang Jawa Timur berkumpul di GOR (Gedung Olahraga) setempat, Minggu (23/7/2023).
Jumlahnya ratusan. Semuanya dibalut baju warna putih, mengenakan sarung, serta peci warna hitam. Ratusan santri ini duduk lesehan. Mereka bersiap mengikuti materi seputar literasi dalam acara Masa Ta’arruf Siswa (Matsama).
Ada dua pemateri yang dihadirkan. Pertama, pegiat literasi asal Jombang Diana Kholidah. Kedua, wartawan beritajatim.com Yusuf Wibisono. Diana menyapa ratusan santri tersebut layaknya seorang guru. Mengawali materi dengan hal-hal yang ringan.
BACA JUGA:
Santri Tebuireng Jombang ‘Ngaji’ Feature
Ketika ratusan santri itu sudah menyimak, Diana menerangkan secara panjang lebar tentang pentingnya kegiatan literasi, yakni membaca dan menulis. Diana berharap dengan materi tersebut santri baru yang mengikuti Matsama memiliki minat dalam bidang baca-tulis.
“Dengan membaca, wawasan adik-adik akan bertambah. Dengan menulis, daya berpikir semakin terasah. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Satu kesatuan,” kata Diana sembari memberi wejangan kepada ratusan santri bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad adalah Surat Al Alaq 1-5. Ayat pertama dari wahyu tersebut memerintahkan umat Islam untuk membaca.
Diana kemudian membeberkan teori dasar menulis yang disebut 5W+1H (What, Who, When, Why, Where, dan How) atau dalam bahasa Indonesia adalah Apa, Siapa, Kapan, Mengapa, Di mana, dan Bagaimana. “Dengan enam hal itu kita bisa memulai untuk menulis,” ujar wanita berkerudung ini.
Materi tentang teori menulis itu dipertajam oleh Yusuf Wibisono. Namun sebelum memulai materinya, Yusuf mengajak ratusan santri untuk relaksasi, yaitu menyanyi secara bersama-sama. Yusuf memberi contoh, semua santri menirukan.

Yusuf kemudian membedah satu per satu rumus 5W+1H tersebut. Setelah semuanya paham, dilakukan simulasi. Peserta Matsama diminta membuat tulisan yang dimulai dari who atau siapa. Yakni, siapa dirinya sendiri dan teman terdekatnya.
Ketika sudah selesai disambung dengan what atau apa. Begitu seterusnya. Walhasil, tanpa terasa para santri tersebut bisa menuliskan minimal setengah halaman. Tentang profilnya dirinya dan tujuannya menjadi santri MQ Tebuireng.
“Jadi teori dasar jurnalistik itu 5W+1H. Menulis itu bukan pekerjaan sekali jadi. Tapi harus selalu dicoba. Ibarat pisau, semakin diasah, semakin tajam. Setelah dari acara ini adik-adik bisa mencoba menulis tema-tema yang lain,” ujar Yusuf berpesan.
Salah satu peserta Matsama, Qori, mengaku puasa bisa mengerjakan tulisan yang ditugaskan oleh pemateri. Bocah asal Surabaya ini memamerkan tulisannya dalam selembar buku tulis. Qori yang lahir tahun 2011 ini memaparkan tulisan yang berisi profil dirinya.
BACA JUGA:
Ribuan Santri Tebuireng Jombang Mudik Berjamaah
Mulai identitas diri secara lengkap, kemudian teman-temannya di pondok, hobi, hingga latar belakang dan harapannya masuk ke pesantren MQ Tebuireng. Semuanya terangkai secara sistematis dalam selembar buku tulis. “Alhamdulillah, saya bisa,” katanya.
Terpisah, Waka Kesiswaan MTs Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang M Yunus menjelaskan bahwa secara umum para siswa baru ini seluruhnya mengikuti kelas unggulan. Ada unggulan tahfidz, unggulan science dan unggulan literasi.
“Pada pertengahan semester lalu kami sudah melakukan uji coba program APK (aplikasi) barcode. Program tersebut diadakan untuk mengevalusi semua kegiatan santri, mulai dari kegiatan masuk sekolah formal, sampai pada keaktifan di pondok,” ujarnya.
BACA JUGA:
Ramadhan, Ratusan Santri Tebuireng Jombang Ikuti Kajian Kitab Klasik
Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) merupakan salah satu pesantren yang terletak di daerah Tebuireng, Jombang. Pesantren ini berdiri pada 27 Syawal 1319 H atau bertepatan pada 15 Desember 1971. Didirikannya pesantren ini merupakan perwujudan cita-cita luhur dari KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.
Pengasuh pertama PPMQ (Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an) Tebuireng Jombang adalah KH Yusuf Masyhar atau yang kerap disapa Kiai Yusuf. Ia lahir di Tuban pada 1925. Kiai Yusuf melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Tebuireng pada tahun 1940.
Kiai Yusuf berguru langsung kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Selama di Tebuireng Kiai Yusuf muda merupakan santri berwawasan luas dalam ilmu Alquran. Kiai Yusuf muda akhirnya dinikahkan dengan cucu KH Hasyim Asy’ari, yang bernama Ruqoyyah Baidlowi. [suf]






