Probolinggo (beritajatim.com) – Keseruan gelaran Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro) berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang pelajar SMA asal Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Muhammad Muzamil, remaja yang baru pulang dari menonton acara hiburan tersebut, nyaris kehilangan nyawa akibat salah paham yang berujung pada aksi pengeroyokan oleh massa.
Insiden ini terjadi Kamis malam (26/6/2025) di kawasan Alun-alun Kota Probolinggo. Muzamil diduga mencoba membawa kabur sepeda motor milik orang lain. Warga yang curiga langsung bereaksi cepat — sayangnya, tanpa konfirmasi, mereka main hakim sendiri.
Menurut keterangan Joni, paman korban, sebenarnya Muzamil hanya menjalankan permintaan temannya untuk mengambil motor yang diparkir. Namun nahas, ia keliru mengambil kendaraan yang bukan milik mereka.
“Dia cuma disuruh temannya ambil motor, tapi salah ambil. Orang-orang langsung nuduh mencuri dan memukulinya tanpa tanya dulu,” ujar Joni, Jumat (27/6/2025).
Aksi massa pun makin brutal. Remaja malang itu tak hanya dipukuli, tapi juga ditelanjangi dan diarak keliling sekitar alun-alun. Beruntung, beberapa warga lain segera mengamankannya ke salah satu lapak PKL sebelum polisi atau petugas datang.
Akibat insiden tersebut, Muzamil harus menjalani perawatan di RSUD dr. Moh Saleh, Kota Probolinggo. Ia baru diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Pihak keluarga menyayangkan tindakan anarkis yang dialami Muzamil. Apalagi, korban masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan seharusnya mendapatkan perlindungan, bukan kekerasan.
“Anak ini masa depannya masih panjang. Jangan sampai hanya karena salah paham, masa langsung bertindak seolah jadi hakim dan algojo,” tegas Joni.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak berwajib terkait proses hukum atas kejadian tersebut. (ada/ian)






