Malang (beritajatim.com) – Indonesia tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah plastik yang volumenya terus menggunung. Di tengah keresahan ini, sekelompok mahasiswa kreatif dari STIE Malangkuçeçwara (ABM) hadir membawa solusi inovatif melalui proyek wirausaha sosial bernama Sakaresek.
Tim ini berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2025 dari Kementerian Dikti Saintek (Belmawa setelah sisihkan 6.000 pesaing, tim STIE Malangkuçeçwara buktikan sampah bisa jadi produk estetik mulai harga Rp 5.000an saja. Tim ini berhasil mengubah sampah plastik yang kotor dan tidak berharga menjadi aksesoris unik serta peralatan rumah tangga bernilai ekonomi.
Rahmat Ardiansyah, Ketua Tim Sakaresek, menjelaskan bahwa nama proyek mereka memiliki filosofi yang mendalam. “Sakaresek” berasal dari gabungan kata “Saka” (bermakna) dan “Resek” (sampah).
“Visi kami adalah mengangkat nilai keberkahan dari sampah yang kita anggap kotor. Berkah di sini bukan hanya tentang keuntungan usaha, melainkan juga berkah untuk semua orang,” jelas Rahmat kepada beritajatim.com, Senin (27/10/2025).
Konsep ini menggabungkan ekonomi kreatif, sosial, dan budaya untuk mendorong perubahan positif dalam pengelolaan sampah, sekaligus menekankan pentingnya prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Berawal dari keprihatinan melihat sampah plastik yang sulit terkelola, tim ini memutuskan untuk membuat sampah lebih dekat dengan masyarakat melalui produk aksesoris.
Studio workshop mereka berlokasi strategis di daerah Dau, Kabupaten Malang, tepat bersebelahan dengan TPST 3R Desa Muliagung, yang menjadi salah satu pemasok bahan baku utama mereka.
“Kami memfokuskan pada tutup botol plastik karena kami mencari warna dan motifnya untuk dijadikan aksesoris. Untuk yang bening, seperti botol plastik, kami olah menjadi brush (sikat) dengan pengecatan berbasis eco-friendly,” ungkap Rahmat.
Proses produksinya pun terbilang cepat. “Untuk pemanasannya itu sekitar 5 menit, itu sudah bisa membuat 10 produk,” tambahnya. Mereka menggunakan metode pemanasan dan blending khusus, termasuk proses pembakaran zat kimia untuk menghasilkan kilap alami pada produk akhir.
Sebagai wirausaha berbasis social planner, Sakaresek menetapkan harga yang sangat terjangkau. “Harga kita cukup relatif murah, mulai dari Rp 5.000 untuk gantungan kunci sampai yang termahal Rp 20.000 untuk kalung,” rinci Rahmat.

Untuk menjamin pasokan bahan baku, selain dari TPST, mereka juga meluncurkan program “SWATGO” atau Swapping Trash with Cooler. Melalui program ini, masyarakat bisa menukar sampah plastik yang mereka kumpulkan dengan produk jadi dari Sakaresek.
Hingga kini, Sakaresek telah menjangkau sekitar 661 konsumen, dengan fokus penjualan offline di berbagai acara seperti wisuda, CFD, dan pameran. Bahkan, mereka sudah menerima pesanan khusus untuk suvenir pernikahan.
Keberhasilan Sakaresek tidak diraih dengan mudah. Ketua CDC STIE Malangkuçeçwara sekaligus dosen pembimbing, Rina Irawati, S.E., M.M., mengungkapkan rasa bangganya.
“Mereka memang memiliki konsep yang luar biasa. Alhamdulillah setelah dikompetisikan se-Indonesia, kelompok Sakaresek lolos dalam pendanaan,” ujar Rina.
Rina memaparkan data yang impresif. “Total pesertanya 6.700, kemudian yang lolos sekitar 700. Berarti tim ini adalah 1 dari 700 yang berhasil didanai. Ini prestasi yang luar biasa,” tegasnya.
Pihak kampus, termasuk Wakil Ketua III dan Ketua STIE Malangkuçeçwara, memberikan dukungan penuh. Tim ini sekarang sedang bersiap untuk penilaian akhir yang akan diselenggarakan di Magelang pada bulan November mendatang.
Tim Sakaresek yang terdiri dari Rahmat Ardiansyah (Ketua), Mela Purnamasari, Diva Khoirun Nisaa, dan Rosanti Diah Natalia, berkomitmen untuk melanjutkan usaha ini meski program P2MW telah usai.
“Insya Allah akan tetap berlanjut, karena peminatannya tinggi dan sesuai dengan tujuan utama kami: from trash to blessing,” pungkas Rahmat. [dan/aje]






