Surabaya (beritajatim.com) – Sekolah Kawung 1 Surabaya mengadakan peringatan maulid nabi Muhammad Saw pada Senin, (10/10). Tema kegiatan Maulid tahun ini diambil dari konsep implementasi kurikulum pendidikan baru. Yakni, “Mengilhami Merdeka Belajar dengan Akhlakul Karimah Rasullullah SAW”.
Pemilihan tema ini diharapkan dapat memberi energi pikiran baru dalam memahami peta konsep pendidikan baru. Merdeka belajar adalah hal baru, semua harus dipelajari dan dipahami. Suri tauladan dalam diri Rasulullah SAW bisa jadi dasar pijakan berpikir awal memahami itu semua.
“Pokok ajaran Rasullullah termuat jelas dalam bentuk praktik merdeka belajar. Mulai dari kesadaran belajar sampai kebebasan mencari sumber ilmu, semua ada,” terang Mochammad Asif dalam khotbahnya.
Selain penguatan karakter lewat siraman rohani, acara Maulid juga diisi salawat dan seni hadrah. Dengan dikoordinasi langsung oleh pembina osis SMK, para siswa latihan seminggu penuh.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, kegiatan kali ini berkonsep kolaborasi. Jadi, semua siswa dan guru SMP-SMA-SMK urun-rembuk menjalankan kepanitiaan dan acara.
Selama kurang lebih 3 jam, sekitar 400-an siswa memadati halaman sekolah kawung 1 Surabaya. Semua berjalan tertib, lancar, dan penuh semangat.
“Peringatan Maulid bisa jadi waktu untuk berbenah dan berefleksi diri,” kata Alaikar Rochim, Kepala Sekolah SMP Kawung 1 Surabaya. Beliau menambahkan, ini juga selalu jadi momentum menjalin komunikasi dan kebersamaan. Sekalipun satu atap dalam yayasan, kadang kegiatan yang melibatkan antarjenjang seperti ini jarang dijalin.
Selain berisi kegiatan bernuansa keagamaan, bagi-bagi buah dan makanan sudah menjadi ciri khas tersendiri di acara Maulid. Biasanya para siswa dibebaskan membawa makanan dan buah. Namun, pada kegiatan tahun ini tidak begitu. Para guru menentukan jenis makanan dan buah yang harus dibawa. Hal itu dimaksudkan agar sama rata saat pembagian.
“Kalau dibebaskan membawa makanan apa saja, nanti bingung membaginya. Pasti ada yang terlihat enak dan tidak. Kita tidak ingin itu,” terang Budi Agus, bagian koordinator.
[berita-terkait number=”4″ tag=”smp-kawung-1-surabaya”]
Untuk kedepannya, para guru berharap agar kegiatan antarjenjang ini sering-sering dilakukan. Sebab, salah satu inti dari Merdeka Belajar itu sendiri ialah penguatan profil pelajar pancasila yang di dalamnya ada konsep kolaborasi. Selain menambah jalinan silaturahmi, konsep kolaborasi selalu mengundang keseruan tersendiri bagi para guru dan siswa.
“Semoga acara maulid nabi tahun ini menjadi pijakan baru dan dapat memberi gambaran dampak kebaikan dalam memahami Merdeka Belajar dan kolaborasi antarjenjang,” pungkas Alaikar Rochim. [but]








