Surabaya (beritajatim.com) – Tahun baru islam atau biasa dikenal malam 1 Suro identik dengan ritual keagamaan. Masyarakat Jawa biasa melakukan ritual umbah keris di malam itu. Ada juga yang melakukan pengajian, seserahan sesajen, khitanan massal, syiar islam, maupun istigosah. Yayasan Kawung 1 Surabaya sendiri mengadakan tablik akbar bertajuk doa bersama untuk negeri, Rabu (11/8/21).
Yayasan berbasis islami tersebut hampir tiap tahun mengadakan kegiatan tersebut. Bahkan itu menjadi agenda wajib yang ditunggu-tunggu. Berhubung pandemi, perayaan kali ini diadakan secara virtual melalui zoom meet. Mulai dari SMP, SMA, dan SMK wajib mengikutinya. Dari target 500 peserta, acara kali ini diikuti 250-an peserta.
“Jumlah tersebut sudah lebih dari cukup. Mengingat biasanya saat pembelajaran kelas daring, antusias siswa sangat minim. Ini bisa jadi koreksi dan evaluasi kita, bahwa siswa kita masih punya rasa keislaman,” tutur Alaik, guru agama.
Alaik juga mengatakan, kegiatan ini bertujuan mengajak generasi muda mencintai tradisi keagamaan. Jangan sampai cuma tahun baru masehi yang ramai, tahun baru Islam harusnya juga begitu, lebih ramai.
Acara bertajuk doa bersama untuk negeri itu juga diharapkan mampu memberi ketabahan rohani untuk masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi. Sebagai masyarakat islam, sudah seharusnya saling mendoakan, menguatkan, dan memberi.
Seperti diketahui, pandemi membuat ruang interaksi dan silaturahmi terbatas dan minim. Peringatan tahun baru Islam ini bisa menjadi pengisi keterbatasan tersebut. Walaupun daring, banyak guru yang memilih datang ke sekolah langsung.
Selain doa bersama, khususnya siswa SMP juga diberi tugas mencatat materi dari beberapa narasumber. Ada tiga narasumber. Masing-masing menjelaskan sejarah islam, penanggalam islam, peristiwa penting islam, dan sudut pandang millenieal dalam tradisi tahun baru. Siswa diharapkan merangkumnya, untuk kemudian dikumpulkan sebagai penilaian pelajaran agama.
“Dalam keadaan apapun, dengan cara apapun, kita tetap harus belajar. Karena inti dari agama itu sendiri adalah belajar,” kata Asif, kepala sekolah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”1-muharram”]
Acara yang berlangsung 120menit tersebut diharapkan memberi sedikit banyak pemahamanan dan rasa cinta pada tradisi islam. Jangan sampai tradisi islam tergerus budaya modern. Karena bagaimanapun islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian, keadilan, kemajemukan, kerukunan, toleransi, dan hal baik lainnya.
Asif menambahkan, generasi millenial harus berada di bagian depan dalam menjalankan itu. Mereka adalah estafet kehidupan. Nilai Islam harus ada di dalamnya. [but]








