Jember (beritajatim.com) – Perjuangan Persid Jember dalam kompetisi sepak bola Liga 3 Jawa Timur berakhir dengan air mata. Setelah tidak terkalahkan dalam 11 pertandingan sejak babak penyisihan, para pemain menangis setelah dikalahkan PSM Madiun 1-2 (0-1) di Stadion R. Sudarsono, Kabupaten Pasuruan, Senin (22/1/2024) kemarin.
Misnadi Amrizal, pelatih Persid, menganggap kegagalan itu menyakitkan. Mereka hanya butuh hasil seri untuk lolos ke Babak 8 Besar. Namun sebuah gol kontroversial pada menit 76 memupus harapan Iwan Sampurno dan kawan-kawan. “Kami dikerjai,” keluhnya, Selasa (23/1/20234).
Pertandingan sebenarnya berjalan menarik. PSM unggul lebih dulu lewat kaki titik putih pada menit 13. Obet Rivaldo berhasil mengeksekusinya. Gol balasan Persid terjadi pada menit 51 juga melalui titik putih, dicetak Iwan Sampurno.
“Ketika skor 1-1, mereka keluar menyerang. Secara tim, kami menguasai pertandingan. Anak-anak bermain luar biasa. Hujan deras, bola masih bisa mengalir,” kata Misnadi.
Kontroversi terjadi saat Fa’it Alfin Rosadin mencetak gol melalui sundulan setelah menerima operan dari sepak pojok. Bola masuk ke gawang. Tangan wasit Ismit Budi Asmoro menunjuk ke arah gawang PSM. Misnadi menyebut wasit memberikan sinyal, bahwa terjadi pelanggaran oleh pemain PSM di kotak penalti Persid. Dengan kata lain, gol tersebut tidak sah.
“Bola crossing, kiper Persid Guntur Egi Saputro keluar dari gawang. Ada benturan. Otomatis kalau kiper diganggu, ada body contact, pasti pelanggaran. Akhirnya bola kena sundul lawan dan gol. Hakim garis mengangkat bendera (tanda pelanggaran). Wasit (memutuskan) pelanggaran,” kata Misnadi.
“Ada dua pemain PSM, yang satu mengganggu kiper kami. Kemudian yang satu menanduk bola hingga gol,” kata Achmad Jainuri, asisten pelatih Persid.
Pemain PSM pun melakukan protes gara-gara gol tak disahkan. Mereka mengerubuti dan mendorong-dorong wasit Ismit Budi Asmoro hingga ke tepi lapangan. “Wasit tidak sanggup, masuk ke ruang ganti,” kata Misnadi.
Pertandingan terhenti hingga mendekati menit 90. Belakangan wasit Ismit diganti wasit lain, Asenda Widha Adyatama. “Wasit cadangan memimpin dan langsung memutuskan gol sah. Ya ramai. Kami protes,” kata Misnadi.
Kapten Persid Iwan Sampurno bahkan memprotes hingga menangis dan memeluk wasit. Namun keputusan tak bisa diubah. “Percuma, mundur saja. Saya berkonsultasi dengan manajemen, tarik pemain tidak usah dilanjutkan. Ya sudah, tarik semua. Kami mundur saja, daripada ribut-ribut. Percuma, wong keputusannya sudah bulat. Kami tetap protes secara tertulis,” kata Misnadi.
Pertandingan pun diputuskan berakhir dengan skor 2-1 untuk PSM. Misnadi prihatin dengan kejadian tersebut. “Capek-capek persiapan. Gara-gara wasit begitu. Ketika wasit cadangan memutuskan gol sah, ganti kami yang protes. Pasal dari mana, pakai aturan mana, gak jelas. Seharusnya sesuai keputusan wasit pertama,” katanya.
Asisten pelatih Persid, Achmad Jainuri, mengatakan, kendati tidak diperkuat bek Ajudya Eka Kurniawan dan striker Vaiz Alghifari yang kena akumulasi kartu kuning, mereka masih bisa mengimbangi PSM. “Kami tidak punya striker lagi. Yang mumpuni ya Vaiz,” katanya.
Tim Persid sudah menduga sehari sebelum pertandingan bahwa akan ada insiden yang merugikan mereka. “Kami briefing, kami minta para pemain bersabar dan mengikuti aturan wasit. Tidak boleh memukul. Kami takut didiskualifikasi,” kata Jainuri.
Jainuri melihat sejak awal keputusan-keputusan wasit sudah merugikan Persid. “Kami menyenggol pemain PSM sedikit, langsung prit,” katanya.
Kesedihan terlihat di ruang ganti Persid. Sejumlah pemain menangis. Bahkan, menurut Jainuri, ada salah satu ofisial yang pingsan. “Semua menangis karena kami dikerjai. Kami sudah berjuang maksimal. Berlatih pagi dan sore,” katanya.
Dengan kekalahan itu, maka Persid menduduki peringkat ketiga di bawah Persekabpas Pasuruan dan PSM dengan mengemas 4 angka. Persekabpas yang menang 4-0 atas Mojokerto Putra pada pertandingan terakhir menjadi pemuncak dengan nilai 7. Sementara di posisi kedua, PSM dengan nilai 6. Dua tim ini lolos ke Babak 8 Besar.
“Sudahlah, tidak usah main di Liga 3 lagi. Buang-buang uang banyak, ratusan juta, dikerjai dalam waktu kurang dari sebelas menit. Kalau kami kalah total, no problem. Tapi ini awalnya dari wasit. Kami dikerjai bisa apa,” kata Jainuri kesal.
Sekretaris PSSI Asosiasi Provinsi Jatim Joko Tetuko tidak mau berkomentar banyak soal insiden tersebut. “Semua diserahkan pada keputusan Komisi Disiplin. Komisi Disiplin sedang bersidang. Kita tunggu saja,” katanya. [wir]






