Surabaya (beritajatim.com) – Penyair asal Ngawi Sumaryoga atau biasa disapa S Yoga dinobatkan menjadi juara pertama Sayembara Buku Puisi DK Jatim 2021. Karya S Yoga dinilai memiliki tingkat kematangan dan sublimitas yang paling kuat di antara 75 naskah yang diterima oleh Dewan Juri. Pengumuman pemenang digelar DK Jatim melalui live media sosial Youtube, Senin (12 Juli 2021).
Ketua Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, M. Taufik Hidayat, menuturkan bahwa Provinsi Jawa Timur memiliki keberagaaman budaya (kultur) dan sub kultur. Keberagaman cara berbahasa, cara berperilaku, dan cara beradaptasi terhadap lingkungan geografis. Masing-masing wilayah memiliki sejarahnya sendiri, masing-masing memiliki keunikan, dan memiliki mitologinya sendiri.
“Kekayaan kultur Provinsi Jawa Timur ini tentunya modal besar bagi tradisi kesusastraan, termasuk di dalamnya tradisi puisi. Eksplorasi yang serius dan intens terhadap kultur Jawa Timur bisa diharapkan menghasilkan karya puisi yang mengagumkan. Karya puisi yang bakal memberi kontribusi sastrawan Jawa Timur terhadap tradisi puisi Indonesia,” papar Taufik Monyong, sapaan akrabnya.
Penerbitan buku ini, imbuh Taufik, merupakan rangkaian dari kegiatan Sayembara Manuskrip Buku Puisi tahun 2021. “Dewan Kesenian Jawa Timur menggelar sayembara untuk mendorong terciptanya karya-karya puisi terbaik. Utamanya karya puisi yang mengeksplorasi latar kultur dan latar geografis Jawa Timur. Buku puisi yang selanjutnya mampu menambah dan membuka wawasan pembaca atau masyarakat,” katanya.
Ditambahkn oleh Taufik Monyong, penerbitan buku ini juga bentuk upaya pemajuan budaya di Jawa Timur. “Tidak hanya memerlakukan kebudayaan sebagai benda mati tetapi sebagai ruang kreatif yang terus bergerak, ditafsirkan, dan diproduksi secara terus-menerus,” ujarnya.
Ketua Dewan Juri, Ribut Wijoto, menuturkan bahwa kejawatimuran bagi penyair Jawa Timur sebenarnya adalah keniscayaan. Mutlak. Tidak bisa tidak. Sebab penyair tidak lahir dari langit. Secara biologis, penyair lahir dari rahim seorang ibu.
“Belajar abjad per abjad bahasa dituntun oleh orang-orang sekitar. Berbicara sesuai ajaran lingkungan. Tingkah lakunya dibentuk oleh adat istiadat. Sebelum ia tumbuh dewasa dan wawasannya diperluas oleh wacana lain, mimpi-mimpinya diarahkan mitos setempat,” kata Ribut.
Tetapi sesungguhnya, menurut Ribut, hubungan penyair dan kultur bukanlah bersifat stagnan. Keduanya saling pengaruh, berkelindan, saling berkontribusi.
“Puisi tidak selalu mau dituntun oleh kultur. Acap kali, puisi juga melakukan koreksi keras atas kultur tempat ia dilahirkan. Dan melalui koreksi itu, terbuka kembali kemungkinan-kemungkinan lain dari sekat kultural. Karena bagaimanapun juga, puisi merupakan representasi perspektif tajam penyair atas realitas dan kehidupan,” katanya.
Hubungan berkarib-tengkar antara puisi dan kultur itu, kata Ribut, terasa pula pada karya para peserta Sayembara Penulisan Manuskrip Buku Puisi yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jawa Timur tahun 2021. Warna warni jadinya. Terasa menggambarkan kekayaan kultural Jawa Timur.
“Ada manuskrip puisi yang mengeksplorasi legenda di wilayah Kediri. Ada yang memotret secara mendalam atas kultur di Ponorogo. Ada yang membaca ulang sejarah Sidoarjo melalui pendekatan postkolonial. Ada yang kental menggarap kekhasan kehidupan masyarakat Madura. Ada yang menangkap spirit kemegahan Majapahit. Ada yang intens menggarap latar sosial – geografis wilayah Tapal Kuda,” papar Ribut.
Walau begitu, Ribut mengingatkan bahwa puisi bukanlah media yang saklek seperti makalah atau laporan penelitian. “Puisi memiliki tubuh ringkih yang mudah limbung. Ketika beban tema terlalu berat, puisi rawan terjerembab ke kubangan lumpur. Takarannya harus pas. Antara data, wacana, spontanitas, keterasingan, utopia, dan perspektif tajam penyair,” katanya.
Juri lain, yaitu A Muttaqien, memaparkan bahwa dalam rentang waktu 27 Juni 2021 hingga 7 Juli 2021, Dewan Juri menerima 75 manuskrip buku puisi. Setelah melalui perdebatan alot tetapi akrab, Dewan Juri memutuskan tiga juara. Terdiri dari Juara 1 adalah S Yoga dengan judul ‘Pelancong’, Juara 2 adalah Rizki Amir dengan judul ‘Biografi Kendi’, dan Juara 3 adalah A. Syauky Sumbawi dengan manuskrip berjudul ‘waktupintubatu’.
“Dari seluruh naskah yang masuk, memang yang tampak “matang” dan “press klaar” ialah naskah ‘Pelancong’. Puisi-puisinya bersahaja dan sublim. Pengucapannya relatif matang dan tenang. Tidak terhanyut atau “taklid buta” kepada gaya pengucapan atau langgam penyair mapan, seperti GM, Sapardi, atau Afrizal, yang tampak dominan pada peserta lain,” kata Muttaqien.
Dengan memilih judul ‘Pelancong’, papar Muttaqien, tampak Yoga sadar betul bahwa ia tengah menjadi/ berposisi sebagai “pengamat” sekaligus “pencatat” bagi “lokalitas” dalam puisinya. Lokalitas yang demikian, benar-benar bisa dikenali/ diindra (berupa tempat-tempat nyata di Jawa Timur dan renik-perniknya) sebagai alas atau geografis puisi, bukan wacana atau kisah sejarah yang sudah “klise” sebab telah jutaan kali diulang-ulang dalam dongeng, mitologi, dan legenda.
“Harus diakui juga bahwa gaya puitika naskah ‘Pelancong’ ini sudah “konvensional”. Namun sublimitasnya sangat terjaga. Dan itulah nilai penting puisi,” kata Muttaqien.
Adapun F Aziz Manna yang juga bertindak sebagai juri menjelaskan, Rizki Amir pada naskah ‘Biografi Kendi’, sublimitas hadir dalam fragmen-fragmen puitik yang lembut dan cenderung prosaik. Naskah ini dinilainya menyimpan prismatisitas yang menawarkan beragam arah tafsir. Meski tak seliat naskah ‘Pelancong’.
“Rizki mengelola flora dan fauna, dongeng dan mitologi, dengan tekun dan terukur sehingga mampu menghasilkan puisi yang membaurkan fakta (baca: lokalitas) dan fiksi (baca: imajinasi), sejarah dan racauan,” kata Aziz Manna.
Terkait juara ketiga, naskah “waktupintubatu”, kata Aziz Manna, menampakkan kelihaian A. Syauky Sumbawi dalam meleburkan data sejarah/ tradisi lokal Jawa Timur, khususnya di kawasan pesisiran dengan tubuh puisi. Energinya luar biasa.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dekesda”]
“Syauky mengeksplorasi ritme pengucapan sehingga tercipta musikalitas puitik. Kadang dengan ritme cepat, kadang lambat, kadang ritmis berulang. Lagu kalimat kadang mengalun, tiba-tiba berbelok cepat, spontan, dan memberi efek kejutan. Hal-hal itu mengingatkan pada tipikal masyarakat pesisiran yang cenderung berkultur terbuka. Suka bersuara lantang, konon jika tidak lantang, suara warga pesisiran kalah keras atau tertelan oleh gemuruh ombak,” papar F Aziz Manna.
Selain ketiga Juara, imbuh Aziz Manna, Dewan Juri masih mendapati manuskrip-manuskrip lain yang menunjukkan potensi bagus. Oleh sebab itu, atas persetujuan Pengurus DK Jatim, Dewan Juri menambahkan katogori “5 Karya Unggulan”. Terdiri dari dari karya (1) Ali Ibnu Anwar berjudul ‘Tanah Tanpa Biografi’, (2) Ebi Langkung berjudul ‘Tanean Lanjang’, (3) Kuspriyanto judul ‘Jati’, (4) Mohamad Saroni judul ‘Merawat Masa Lalu’, dan (5) Raedu Basha judul ‘Wisata Desa Billapora dalam Sajak’. [but]








