Tuban (beritajatim.com) – Kasus arisan bodong kembali menghebohkan warga Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Meski, sudah banyak korban hingga viral, puluhan orang di Tuban masih banyak yang tertipu pada arisan bodong ini.
Akibatnya, para korban mengalami kerugian total mencapai hampir Rp2 miliar. Hingga, puncaknya para korban mendatangi rumah terduga pelaku di Desa Sumberejo, Kecamatan Widang, untuk menuntut pengembalian uang mereka.
Kanit Tindak Pidana Umum (Pidum) Satreskrim Polres Tuban, IPDA Moch Rudy mejelaskan bahwa awalnya ia menerima laporan adanya dugaan penjarahan rumah. Sehingga, pihaknya bergegas ke lokasi dan melakukan pemeriksaan.
“Namun setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa puluhan orang yang datang tersebut adalah para korban arisan bodong yang hendak menagih hak mereka,” ujar Moch Rudi. Selasa (14/10/2025).
Adapun modus yang digunakan terduga pelaku ini yakni menjual arisan dari satu peserta ke peserta lain, sehingga uang terus terkumpul tanpa adanya perputaran yang jelas.
“Awalnya kami kira laporan tentang penjarahan. Setelah dicek, ternyata para warga ini korban arisan bodong yang menuntut uangnya dikembalikan,” tambahnya.
Meski begitu, pihak Kepolisian mengingatkan agar para korban tidak melakukan tindakan sendiri dengan mengambil barang-barang pelaku. Sebab, para korban dapat dikenakan pelaporan atas tindak kejahatan penjarahan.
“Jadi korban sebanyak 52 dengan kerugian hampir Rp2 miliar dan kami arahkan semua korban untuk melapor secara resmi ke Polres,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu korban, Alfiana (28) warga Desa Pakis, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban ini mengaku kehilangan uang hingga Rp 125 juta yang diberikan kepada terduga pelaku berinisial L (28) dengan modus arisan berupa jual beli nomor arisan dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat.
“Kami ke sini karena ingin menagih hak kami. Tapi ternyata rumahnya sudah kosong dan nomor teleponnya tidak bisa dihubungi,” ucap Alfiana.
Lanjut, awalnya arisan yang dikelola L ini berjalan normal. Para peserta mendapat giliran sesuai jadwal dan bonus sebagaimana dijanjikan. Namun beberapa bulan terakhir, arisan tersebut mendadak macet. Sehingga, pembayaran berhenti, dan L yang mengelola tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
“Dari 50 korban yang ke sini sekitar 40 orang. Jadi ceritanya itu misalkan arisan dijual berapa, itu dijanjikan dengan keuntungan berapa gitu,” pungkasnya. [dya]






